
KUNINGAN, (VOX) – Ratusan massa yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang usia, profesi, dan komunitas berbeda bersatu dalam satu gerakan bernama ALAMKU (Aliansi Masyarakat Kuningan) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Senin 6 Januari 2026. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk desakan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi agar turun langsung merespons persoalan kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Ciremai.
Massa aksi memulai perjalanan dari depan Pendopo Kuningan pada Senin, 5 Januari 2026. Mereka berangkat menggunakan tiga unit bus serta sejumlah kendaraan pribadi dengan satu tujuan bersama, yakni memperjuangkan kelestarian Gunung Ciremai yang selama ini menjadi sandaran utama kehidupan ekologis dan sosial masyarakat Kuningan.
Kekecewaan secara terbuka disampaikan oleh Ismah Winartono. Ia menilai kehadiran ratusan warga Kuningan ke Gedung Sate tidak mendapatkan respons serius dari gubernur yang selama ini dikenal lantang berbicara soal kelestarian alam. “Kami datang jauh-jauh dari Kuningan dengan harapan bertemu langsung gubernur, tapi ternyata tidak ada tanggapan serius. Ini membuat kami sangat kecewa dan sedih,” ujar Ismah di hadapan massa aksi.
Ismah menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan pengingat moral bagi pemerintah provinsi bahwa kondisi di sekitar Gunung Ciremai sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Menurutnya, persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya melalui pernyataan atau komunikasi jarak jauh tanpa kehadiran langsung di lapangan.
Sementara itu, Yusuf Dandi menjabarkan hasil komunikasi dengan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat yang dilakukan melalui sambungan video call di tengah aksi. Ia menyebutkan bahwa terdapat dua poin utama tuntutan ALAMKU yang akhirnya diakui oleh pihak provinsi.

“Pertama soal penataan dan alih fungsi lahan di kawasan Gunung Ciremai. Kedua soal legalitas penggunaan air di sekitar kawasan tersebut. Dua hal ini yang kami anggap menjadi pemicu utama rusaknya alam hari ini,” kata Yusuf.
Menurut Yusuf, Sekda Provinsi Jawa Barat berjanji akan melaporkan seluruh tuntutan tersebut kepada gubernur dan menyampaikan komitmen bahwa dalam pekan ini tim dari pemerintah provinsi akan datang langsung ke Kabupaten Kuningan. Janji tersebut, lanjutnya, juga disampaikan secara tertulis melalui pesan WhatsApp dengan komitmen melibatkan ALAMKU dalam proses peninjauan lapangan dan penindakannya.
Nada lebih tegas disampaikan oleh Imam Royani selaku koordinator lapangan aksi. Ia menegaskan bahwa masyarakat Kuningan tidak akan berhenti pada janji. Jika pemerintah provinsi dinilai ingkar dan tidak menepati komitmen yang telah disampaikan, maka langkah lanjutan telah disiapkan.
“Jika sampai minggu ini tidak ada realisasi, kami akan membawa persoalan Gunung Ciremai ini langsung ke Istana Negara. Ini bentuk keseriusan kami, bukan gertakan,” tegas Imam.
Diakhir, Yusuf juga menekankan bahwa gerakan ALAMKU lahir dari kecintaan masyarakat Kuningan terhadap alam dan kepemimpinan di Jawa Barat. “Kami rakyat Kuningan juga mencintai Kang Dedi Mulyadi. Justru karena itu kami tidak ingin Kuningan dianggap anak tiri. Gunung Ciremai adalah penyangga hidup kami,” ujarnya.
Aksi tersebut ditutup dengan ajakan kepada seluruh masyarakat Kuningan untuk terus memberikan dukungan dan doa agar perjuangan menjaga Gunung Ciremai mendapatkan perhatian nyata dan langkah konkret dari pemerintah, demi keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi mendatang.***









Tinggalkan Balasan