KUNINGAN, (VOX) – Curhatan akun TikTok Raw Living mendadak ramai di media sosial setelah membagikan pengalaman tidak menyenangkan saat hendak melakukan pendakian tektok melalui jalur Apuy di Gunung Ciremai. Dalam video yang beredar, pemilik akun tersebut mengaku dipersulit bahkan dihina oleh petugas jaga piket ketika meminta izin mendaki sekitar pukul 07.00 WIB.

Dalam narasinya, Raw Living menyebut dirinya berniat melakukan tektok atau naik turun dalam satu hari. Namun permintaan itu ditolak dengan alasan waktu sudah terlalu siang. Ia mengaku mendapat ucapan yang dianggap merendahkan, seolah-olah belum berpengalaman dalam dunia pendakian. Merasa kecewa, ia memilih meninggalkan pos resmi dan mencari jalur alternatif hingga akhirnya berhasil mencapai puncak.

“Jangan gitulah sama orang tua. Sebetulnya Ciremai itu jalur yang enak buat tektok. Ngapain dipersulit,” ujar Raw Living dalam video tersebut. Ia juga menyebut melihat sejumlah pendaki lain tertahan di beberapa pos dan terpaksa bermalam dalam kondisi dingin, sementara dirinya sudah turun dari puncak. Menurutnya, mendaki gunung seharusnya bertumpu pada latihan dan keterampilan, bukan semata persoalan biaya dan aturan yang dianggap berlebihan.

Pernyataan tersebut memantik perdebatan luas di kalangan warganet, khususnya para pendaki. Sebagian mendukung keluhan Raw Living, namun tidak sedikit pula yang menilai aturan pendakian perlu ditegakkan demi keselamatan bersama.

Menanggapi hal itu, Humas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Ady Sularso, memberikan klarifikasi kepada Vox, Jumat (26/12). Ia menegaskan bahwa seluruh persyaratan pendakian, termasuk tektok, telah diatur dalam standar operasional prosedur.

“Persyaratan pendakian atau tektok, seperti jumlah minimal orang, perlengkapan yang dibawa, hingga sistem booking online, semuanya merupakan SOP untuk keamanan, kenyamanan, dan keselamatan pendaki,” kata Ady. Ia menambahkan bahwa pendakian, termasuk tektok, membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang matang, sehingga tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Ady juga menekankan bahwa aturan tersebut bukan untuk mempersulit, melainkan untuk meminimalkan risiko kecelakaan di gunung. “Keselamatan pendaki adalah prioritas utama kami,” ujarnya.

Kasus ini kembali membuka diskusi lama tentang relasi antara pengelola kawasan konservasi dan para pendaki. Di satu sisi, aturan keselamatan menjadi keharusan mutlak. Di sisi lain, pendekatan komunikasi di lapangan juga dituntut lebih humanis agar tidak memicu kesalahpahaman yang berujung viral di media sosial.***