KUNINGAN, (VOX) – Program Makan Bergizi Gratis kembali menuai sorotan setelah sejumlah orang tua murid taman kanak kanak mengembalikan paket makanan yang dibagikan untuk tiga hari. Para orang tua menilai kualitas dan kuantitas makanan tidak sesuai dengan standar gizi serta keterangan menu yang tercantum.

Informasi yang diterima Vox dari salah satu orang tua murid menyebutkan bahwa ketidakpuasan muncul setelah anak anak menerima menu yang aneh untuk MBG Keringan selama tiga hari dengan kondisi buah yang dinilai tidak layak konsumsi.

“Masa untuk tiga hari buah naga busuk satu jeruk dua yang kecil lengkeng dua anggur tiga. Di keterangan tertulis telur mentah tapi tidak ada kami terima,” ujar salah satu orang tua murid kepada Vox, Rabu 17 Desember.

Ketidakcocokan antara menu tertulis dan makanan yang diterima menjadi alasan utama para orang tua memilih mengembalikan paket makanan tersebut ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Mereka menilai program yang seharusnya menjamin asupan bergizi justru berpotensi merugikan kesehatan anak anak usia dini.

Berdasarkan penelusuran Vox, makanan MBG tersebut disalurkan oleh SPPG yang diketahui berasal dari wilayah Ciporang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG Ciporang terkait pengembalian makanan maupun dugaan ketidaksesuaian menu.

Kasus ini menambah daftar keluhan masyarakat terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di daerah, khususnya pada aspek pengawasan kualitas pangan dan kepatuhan terhadap standar menu itupun jika sudah diterapkan oleh satgas mbg. Sejumlah orang tua berharap pemerintah daerah dan satgas MBG segera turun tangan untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

“Programnya bagus, tapi kalau pelaksanaannya seperti ini, kami sebagai orang tua tentu khawatir. Anak anak kami bukan tempat uji coba,” ujar orang tua murid lainnya.

Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap SPPG sebagai ujung tombak distribusi MBG. Tanpa kontrol yang serius, tujuan utama program untuk meningkatkan gizi anak justru berisiko berubah menjadi masalah baru di lapangan.***