KUNINGAN, (VOX) – Kuningan bergerak dengan nurani yang teraduk. Serangkaian bencana di Sumatera bukan cuma kabar jauh di layar ponsel ia mengetuk rasa kemanusiaan dan jadi alarm bagi daerah lain, termasuk Kuningan. Ketua PSI Kabupaten Kuningan, Asep S. Sonjaya Suparman atau Asep Papay, muncul dengan suara yang cukup lantang empati tidak boleh berhenti di kata-kata, harus naik level jadi aksi nyata.

Asep Papay mengingatkan kembali posisi Kuningan yang hidup berdampingan dengan Gunung Ciremai, gunung yang bukan sekadar panorama, tetapi mesin kehidupan. Dari kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) hingga hamparan desa-desa di kakinya, semuanya adalah ekosistem yang saling terkait. Kalau satu bagian rusak, efek dominonya bisa panjang. Tidak ada cheat code untuk memperbaiki alam kalau kerusakan sudah terjadi.

Ia menegaskan bahwa Ciremai tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas yang bisa terus-menerus “diambil manfaatnya” tanpa batas. Eksploitasi atas nama pembangunan atau investasi yang mengabaikan daya dukung lingkungan hanya akan menciptakan bencana baru. Di titik ini, pesan Asep terasa keras namun perlu: menjaga Ciremai adalah menjaga masa depan Kuningan.

Solidaritas untuk Sumatera, menurutnya, adalah cermin bahwa kesadaran lingkungan tidak boleh bersifat lokal. Kalau kita sedih melihat saudara jauh terkena musibah, maka kita juga harus mencegah potensi bencana di halaman sendiri. “Generasi berikutnya cuma bisa hidup nyaman kalau hari ini kita waras dalam mengelola alam,” begitu kira-kira semangat yang ia bawa.

Asep Papay juga memberi dorongan khusus kepada LSM dan komunitas lingkungan. Ia ingin mereka tetap vokal, tetap muncul, tetap melakukan kontrol sosial. Diam saat alam dirusak sama saja ikut andil dalam kerusakan itu. Ia juga menyinggung Perpres 110 Tahun 2025 yang secara jelas mengarahkan Indonesia pada jalur investasi hijau, bukan pembabatan pohon atau aktivitas yang mempercepat kerusakan hutan.

Seruannya sederhana tapi padat makna peduli, bersatu, dan menjaga. Gunung Ciremai bukan monumen; ia hidup, dan kehidupan di sekitarnya bergantung pada kelestariannya.

Kuningan punya pilihan menjadi generasi yang merawat atau generasi yang menonton kerusakan tanpa bergerak.***