
KUNINGAN, (VOX) —Pasca pengunduran diri Direktur Utama Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Kuningan, Heni Susilawati, muncul sejumlah nama yang disebut-sebut siap menduduki posisi puncak di BUMD milik Pemerintah Kabupaten Kuningan tersebut. Namun berbeda dengan kebanyakan tokoh lain, Alan Suwgiri justru menyatakan dirinya enggan untuk duduk di kursi Direktur Utama. Meskipun demikian, dukungan terhadap dirinya justru semakin menguat.
Salah satu dukungan datang dari tokoh pemuda Kuningan, Anggi Alamsyah, yang menilai Alan sebagai sosok ideal untuk menahkodai PDAU.
“Untuk menduduki kursi Direktur Utama PDAU harus orang yang paham dunia usaha, selain itu harus memiliki jejaring yang luas. Bagi saya, Alan sosok ideal, sosok yang memiliki dua aspek tersebut,” ujar Anggi kepada VOX, Jumat (6/11).
Menurut Anggi, di tengah kondisi PDAU yang tengah mengalami tantangan berat, dibutuhkan figur yang progresif, inovatif, dan memiliki pengalaman nyata di dunia bisnis.
“Saya kenal Alan cukup lama. Dia itu orang yang gigih, lihai dalam problem solving, dan punya jejaring luas. Selain itu, pengalamannya di dunia usaha juga sangat matang,” jelasnya.

Anggi menambahkan, karakter kerja Alan yang dikenal aktif dan dinamis menjadi nilai tambah yang jarang dimiliki banyak kandidat.
“Kalau Alan bilang tugasnya bukan duduk melainkan berjalan, ya memang itu yang dibutuhkan PDAU sekarang sosok yang progresif dan tidak hanya duduk manis saja,” tegasnya.
Seperti diketahui, pasca mundurnya Heni Susilawati, posisi Direktur Utama PDAU kini menjadi sorotan publik. Banyak pihak berharap agar Bupati Kuningan dapat menunjuk figur yang tepat untuk memulihkan kinerja PDAU dan mengembalikan kepercayaan masyarakat.***











1 Komentar
Dukungan untuk Alan Suwgiri, meski terdolong positif, terlalu mengandalkan retorika dan kedekatan personal tanpa dasar kompetensi yang transparan dan terukur. Menempatkan seorang direktur BUMD hanya berdasarkan jejaring dan gaya kepemimpinan “progresif” adalah sebuah gambling dengan uang dan aset rakyat.
PDAU butuh pemimpin yang bukan hanya “tidak duduk manis”, tetapi juga mampu duduk lama menghitung angka, menganalisis risiko, dan membangun sistem yang sustainable. Kriteria “pengalaman di ormas” atau sekadar “jejaring luas” tidaklah relevan jika tidak diimbangi dengan kompetensi teknis kepemimpinan bisnis yang mumpuni.