KUNINGAN, (VOX) – Tan Malaka selalu kembali pada saat negeri ini membutuhkan arah baru. Sosok yang pernah coba dipinggirkan dari sejarah justru sekarang muncul sebagai ikon baru bagi aktivis pemuda di Kuningan. Story WhatsApp mereka dipenuhi kutipan Tan Malaka, foto hitam putihnya, dan gagasan yang dulu dianggap terlalu “membahayakan”. Kini justru menjadi kompas moral generasi baru.

Untuk memahami kenapa nama Tan kembali bersinar, kita harus menelusuri perjalanan hidupnya yang tidak pernah setengah hati. Ia lahir di Pandan Gadang, Lima Puluh Kota, pada 2 Juni 1897, dari keluarga Minangkabau yang kuat tradisi intelektualnya. Dari surau kampung ia berangkat ke Kweekschool Bukittinggi, lalu ke Belanda di mana ia bertemu para pemikir sosialis termasuk Henk Sneevliet. Di sinilah Ibrahim berubah menjadi Tan Malaka, seorang pemikir yang percaya bahwa kebebasan lahir dari kemampuan manusia berpikir jernih.

Sekembalinya ke Hindia Belanda, ia mengajar di Deli dan Jawa, bersentuhan dengan tokoh-tokoh awal PKI seperti Semaun, Alimin, dan Darsono. Namun posisinya di gerakan kiri tidak pernah nyaman. Ketika elite PKI mendorong pemberontakan 1926, Tan menegaskan bahwa revolusi tidak boleh berjalan lebih cepat daripada pendidikan massa. Kritiknya membuat ia dianggap pembelot, tetapi sejarah membuktikan perkataannya. Pemberontakan gagal, ribuan ditangkap, PKI hancur.

Sejak itu hidupnya berubah menjadi alur pengejaran: Shanghai, Manila, Hong Kong, Singapura, hingga ke Filipina dengan nama samaran Elias Fuentes. Di tengah pelarian itu, ia menulis Naar de Republiek Indonesia dan menyatakan bahwa cita-cita republik lebih tinggi dari bukit-bukit pengasingan.

Ketika Jepang menduduki Nusantara, Tan kembali secara diam-diam. Ia mendirikan Persatuan Perjuangan, menyatukan tokoh-tokoh seperti Iwa Kusumasumantri, Sukarni, dan Chaerul Saleh. Di depan para pemuda ia melemparkan ucapan yang kelak meledak menjadi semboyan gerakan bahwa kemerdekaan seratus persen adalah satu-satunya jalan.

Namun setelah proklamasi, jalan Tan justru semakin terjal. Pemerintah Republik menilai sikapnya terlalu keras terhadap perundingan dengan Belanda. Ia dipenjara oleh bangsa yang diperjuangkannya. Setelah bebas, ia bergerilya di Kediri, hidup bersama laskar rakyat, menulis pamflet dan teori perlawanan. Di masa itu ia menegaskan sebuah kalimat yang hingga kini menggema di ruang-ruang diskusi bahwa pikiran yang merdeka tidak bisa dipenjara.

Pada Februari 1949, di Dusun Selopanggung, Kediri, Tan ditembak oleh pasukan republik sendiri yang bahkan tidak tahu siapa yang mereka eksekusi. Ia dikubur tanpa nisan, seperti sejarah yang mencoba menghapusnya. Tetapi ide tidak pernah mati. Madilog karya yang mendorong bangsa ini keluar dari cara berpikir mistis menuju logika kritis tetap menjadi poros pemikiran hingga sekarang.

Semangat itulah yang kini menyelinap ke dalam aktivisme pemuda Kuningan. Mereka hidup di era politik yang tampak gemerlap tetapi kosong makna. Mereka menemukan pada Tan Malaka figur yang tidak butuh panggung, tidak hidup dari pencitraan, dan tidak pernah menggadaikan prinsip demi kenyamanan. Mereka melihat keberanian intelektual dan konsistensi moral yang jarang terlihat di pentas modern.

Tan Malaka bukan tokoh masa lalu. Ia kembali sebagai bahasa baru bagi generasi yang muak dengan drama kekuasaan. Ia hadir sebagai pengingat bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian berpikir lurus ketika dunia memilih untuk berbelok.

Kuningan sedang mengalami kebangkitan kecil aktivisme yang lebih rasional, lebih sadar sejarah, dan lebih berani mempertanyakan status quo. Dan di tengah gelombang itu, wajah Tan Malaka muncul lagi. Tidak sebagai legenda, tetapi sebagai teman seperjalanan dalam perjuangan yang belum selesai.***