
VOXPOPULI.CO.ID – Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2026 di SMAN 3 Kuningan mengalami lonjakan pendaftar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Total sebanyak 1.166 calon siswa tercatat mendaftar ke sekolah tersebut melalui berbagai jalur seleksi.
Ketua PPID SMAN 3 Kuningan, Nining Cartini, mengakui jumlah tersebut jauh melampaui tahun sebelumnya yang berada di kisaran 400-an pendaftar.
“Karena kita belum pernah sampai seperti ini. Tahun kemarin di bawah seribu, sekitar 400-an. Sekarang jumlah pendaftarnya sangat tinggi,” ujar Nining saat diwawancarai di Smantika, Kamis (11/06).
Menurutnya, tingginya angka pendaftar tidak terlepas dari dinamika sistem penerimaan yang sempat menjadi sorotan publik pada awal pelaksanaan PPDB. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan peringkat calon peserta didik secara signifikan.
“Nah kalau kita lihat dari total pendaftar, pilihan kedua dan ketiga juga banyak masuk ke sini. Sehingga yang tadinya terlihat aman dalam klasemen, tiba-tiba bisa terpental karena ada pergerakan pendaftar dari sekolah lain juga,” katanya.

Nining menjelaskan, jika dilihat dari jalur pendaftaran, jumlah pendaftar terbesar justru berasal dari jalur nilai rapor, bukan jalur domisili.
“Yang paling besar itu jalur rapor. Jalur rapor mencapai 488 pendaftar, sedangkan jalur domisili 329 pendaftar,” jelasnya.

Ia menambahkan, banyak siswa dari berbagai wilayah memilih SMAN 3 Kuningan melalui jalur rapor karena tidak dibatasi jarak tempat tinggal.
“Ada yang sekolah di luar wilayah tetapi alamat domisilinya masih Kuningan. Mereka memilih SMAN 3 karena memang minatnya ke sini,” ujarnya.
Terkait keluhan masyarakat mengenai siswa yang rumahnya sangat dekat dengan sekolah namun tidak lolos jalur domisili, Nining menyebut pihak sekolah juga menemukan adanya perbedaan antara perhitungan yang dipahami masyarakat dengan hasil yang muncul pada sistem.
“Setahu ibu, itu daya baca sistem. Kadang perhitungan yang kita pahami berbeda dengan yang muncul ketika dimasukkan ke sistem. Jadi memang ada perbedaan hasil perhitungan,” katanya.
Meski demikian, pihak sekolah menegaskan keterbatasan daya tampung menjadi faktor utama yang harus diperhatikan. SMAN 3 Kuningan saat ini tetap mempertahankan jumlah siswa maksimal 36 orang per kelas demi menjaga kualitas pembelajaran.
“Kita mengutamakan pelayanan siswa. Kalau satu kelas terlalu penuh, pembelajaran menjadi tidak kondusif. Tahun lalu ada kelas yang jumlah siswanya di atas 40 orang dan tentu berdampak pada proses belajar mengajar,” ungkap Nining.
Ia juga menyoroti kondisi lahan dan fasilitas sekolah yang relatif terbatas dibandingkan sekolah lain.
“SMAN 3 ini lahannya termasuk sempit dibanding sekolah lain. Jadi kita juga harus menyesuaikan dengan kapasitas ruang yang tersedia,” ujarnya.
Saat ini SMAN 3 Kuningan memiliki 10 rombongan belajar untuk peserta didik baru dengan kapasitas ideal 36 siswa per kelas. Karena itu, peluang penambahan kuota sangat bergantung pada kebijakan pemerintah provinsi dan ketersediaan fasilitas pendukung.
Menanggapi harapan sebagian orang tua agar seluruh siswa yang ingin masuk SMAN 3 dapat diterima, Nining mengajak masyarakat untuk melihat pendidikan secara lebih luas.
“Lebih baik jadi pemain di sana daripada jadi penonton di sini. Kita bisa berkembang di mana pun berada. Jangan sampai tempat sekolah membatasi ruang gerak kita untuk maju,” tuturnya.
Meski kuota di SMAN 3 Kuningan sangat terbatas, ia menyebut peluang masih dapat terbuka melalui tahapan lanjutan sesuai mekanisme yang ditetapkan sistem PPDB Provinsi Jawa Barat.
“Peluang itu nanti dilihat dari kuota yang masih tersedia di masing-masing sekolah. Semua mengikuti sistem yang sudah ditetapkan,” pungkasnya.
Dengan tingginya minat masyarakat terhadap SMAN 3 Kuningan, proses PPDB tahun ini menjadi salah satu yang paling kompetitif dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan di sekolah tersebut.***












Tinggalkan Balasan