
VOXPOPULI.CO.ID – Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Kuningan, Ustadz Dadan Rohmatun, Lc., mengingatkan pentingnya menjaga lisan sebagai salah satu wujud akhlak mulia sekaligus tanda kecerdasan seseorang. Menurutnya, kemampuan mengendalikan ucapan merupakan sifat yang harus dimiliki setiap muslim, terlebih oleh seorang pemimpin, tokoh agama, maupun figur yang menjadi panutan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan melalui unggahan di media sosial pribadinya yang mengutip nasihat ulama besar Ibnu Hibban Al-Busti dalam kitab Raudhatul Uqalaa. Nasihat itu dinilai tetap relevan dengan kondisi saat ini, ketika setiap orang dapat dengan mudah menyampaikan pendapat melalui berbagai platform digital.
Ibnu Hibban berkata:
“Lisānul ‘āqili yakūnu warā’a qalbih, fa idzā arādal qaula raja’a ilal qalbi, fa in kāna lahu qāl, wa illā falā. Wal jāhilu qalbuhu fī tharafi lisānih, mā atā ‘alā lisānihi takallama bih. Wa mā ‘aqala dīnahu man lam yahfadh lisānah.”
Artinya, “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Apabila hendak berbicara, ia kembali kepada hatinya. Jika perkataan itu baik, maka ia mengatakannya. Jika tidak, maka ia tidak mengatakannya. Adapun orang bodoh, hatinya berada di ujung lisannya. Apa yang datang pada lisannya, maka ia mengatakannya tanpa menimbangnya. Dan tidaklah dianggap memahami agamanya orang yang tidak mampu menjaga lisannya.” (Raudhatul Uqalaa, halaman 47).

Menguatkan pesan tersebut, Ustadz Dadan menuliskan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga harus mampu mengendalikan apa yang akan diucapkannya.
“Seorang pemimpin, tokoh agama dan panutan masyarakat harus pandai menjaga lisannya. Tanda kecerdasan seseorang adalah dia bisa mengendalikan apa yang akan dikatakannya. Sedangkan tanda kebodohan seseorang adalah dia mengatakan apa saja yang ingin dikatakannya, tanpa ditimbang oleh akal dan hatinya,” tulis Ustadz Dadan kepada vox, Selasa (28/07).
Menurutnya, setiap ucapan memiliki konsekuensi. Oleh karena itu, seseorang hendaknya membiasakan berpikir sebelum berbicara agar perkataan yang keluar membawa manfaat, bukan justru menimbulkan fitnah, kebencian, atau perpecahan.
Ia juga mengingatkan bahwa menjaga lisan tidak hanya berlaku dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga saat membuat unggahan, komentar, maupun membagikan informasi di media sosial. Di era digital, kata-kata yang ditulis dapat menyebar dengan cepat dan berdampak luas terhadap kehidupan sosial.
Ustadz Dadan berharap masyarakat menjadikan lisan sebagai sarana menyampaikan kebaikan, ilmu, dan nasihat yang menyejukkan. Dengan demikian, komunikasi yang terbangun di tengah masyarakat akan lebih santun, beretika, serta mampu memperkuat persaudaraan dan persatuan.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan sejati bukan diukur dari banyaknya seseorang berbicara, melainkan dari kemampuannya mengendalikan ucapan sesuai tuntunan akal, hati, dan ajaran agama. Menjaga lisan, menurutnya, merupakan bagian dari akhlak yang harus terus dijaga oleh setiap individu, terutama mereka yang memikul amanah sebagai pemimpin dan teladan bagi masyarakat.












Tinggalkan Balasan