
Oleh: Ismah Winartono
KUNINGAN, (VOX) – Setiap tanggal 21 April, bangsa ini kembali menggaungkan nama Raden Ajeng Kartini simbol emansipasi perempuan, kesetaraan gender, dan keberanian melawan batasan zaman. Panggung peringatan dipenuhi narasi tentang pendidikan, kebebasan berekspresi, dan hak menentukan masa depan.
Namun di balik euforia itu, ada kenyataan lain yang luput dari sorotan. Realitas yang tidak hadir di panggung seremoni. Realitas yang sunyi dan sering kali diabaikan.
Di Kabupaten Kuningan, masih banyak perempuan hidup dalam tekanan sosial ekonomi yang berat. Mereka bukan sekadar angka statistik, melainkan wajah nyata dari feminisasi kemiskinan situasi ketika perempuan, terutama yang menjadi kepala keluarga, harus menanggung beban ekonomi lebih besar tanpa dukungan yang memadai.
Mereka adalah “Kartini Kartini sunyi.” Perempuan yang memikul peran berlapis sebagai ibu, pencari nafkah, sekaligus penopang harapan keluarga. Dalam banyak kasus, mereka berjalan sendiri di tengah sistem sosial yang belum sepenuhnya berpihak. Tidak ada jaring pengaman yang cukup kuat, tidak ada ruang aman untuk berbagi beban.
Masih ada ibu yang mengalami deprivasi kebutuhan dasar tak mampu memenuhi kebutuhan paling mendasar seperti pangan bergizi bagi anaknya. Dalam perspektif kesejahteraan sosial, kondisi ini mencerminkan ketimpangan distribusi sumber daya. Namun bagi mereka, ini bukan sekadar konsep akademik. Ini adalah realitas harian.

Malam menjadi ruang paling jujur bagi mereka.
Di sanalah kelelahan tak lagi disembunyikan.
Di sanalah air mata jatuh tanpa saksi.
Namun pagi tetap harus dijalani. Dengan senyum yang sering kali dipaksakan, mereka kembali berdiri. Bukan karena hidup mudah, melainkan karena mereka memiliki daya lenting resiliensi perempuan yang membuat mereka tetap bertahan di tengah tekanan hidup.
Jika peringatan Hari Kartini hanya berhenti pada seremoni, maka makna perjuangan Kartini telah direduksi. Semangat Kartini bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi refleksi untuk membaca ulang realitas hari ini.
Perjuangan itu kini telah berubah wajah.
Bukan lagi sekadar melawan budaya patriarki, tetapi juga melawan ketimpangan ekonomi.
Bukan hanya soal akses pendidikan, tetapi tentang keberlangsungan hidup yang layak.
Pertanyaannya kini menjadi relevan
Apakah masyarakat akan terus menjadi penonton atau mulai mengambil peran dalam membangun solidaritas sosial
Memaknai Hari Kartini seharusnya melampaui simbol. Ia harus hadir dalam kebijakan publik yang berpihak pada perempuan rentan, dalam gerakan sosial yang konkret, dan dalam keberanian kolektif untuk tidak menutup mata terhadap ketidakadilan.
Karena sejatinya, emansipasi belum selesai.
Ia masih berproses. Ia masih diperjuangkan dalam diam. Hari ini, Kartini mungkin tidak lagi menulis surat. Namun ia hidup dalam diri setiap perempuan yang tetap bertahan, meski dunia tidak selalu berpihak padanya.***









Tinggalkan Balasan