
VOXPOPULI.CO.ID – Operasi besar-besaran penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mulai menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, hingga Jumat (23/10/2026) sore, sedikitnya 10 titik api masih terdeteksi dan membutuhkan penanganan lanjutan.
Berdasarkan laporan terbaru Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Kuningan yang diperbarui Jumat (23/10/2026) pukul 22.00 WIB, jumlah titik api mengalami penurunan setelah operasi pemadaman melalui darat dan udara dilakukan secara intensif.
Hasil pemantauan menggunakan teknologi PUTA dan drone thermal menunjukkan, pada Kamis (22/10/2026) pukul 18.00 WIB terdapat 13 titik api yang terdeteksi di kawasan terdampak kebakaran.
Namun, setelah operasi pemadaman gabungan pada Jumat (23/10/2026), jumlah tersebut berkurang menjadi 10 titik api berdasarkan pemantauan pukul 16.00 WIB.
“Sebaran titik api secara signifikan berkurang dari hasil pantauan PUTA dan drone thermal,” demikian keterangan dalam laporan resmi Pusdalops PB BPBD Kabupaten Kuningan.

Penanganan kebakaran kali ini juga mendapat dukungan kekuatan udara melalui pengerahan satu unit helikopter Caracal milik TNI Angkatan Udara.
Helikopter tersebut mulai melakukan orientasi medan sekitar pukul 09.00 WIB untuk memetakan kondisi kawasan yang terbakar sekaligus mendukung operasi pemadaman melalui udara.
Sekitar pukul 09.30 WIB, operasi water bombing menggunakan helikopter Caracal dilaksanakan pada sejumlah titik api yang berada di kawasan hutan Gunung Ciremai.
Kehadiran helikopter menjadi bagian penting dalam upaya menjangkau titik kebakaran yang sulit ditangani oleh personel darat, terutama pada kawasan dengan kondisi geografis yang menantang.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga melakukan peninjauan melalui udara untuk melihat langsung kondisi kawasan Gunung Ciremai yang terdampak kebakaran.
Di lokasi kebakaran, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman bersama Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar turut melakukan peninjauan serta koordinasi penanganan bersama unsur terkait.
Operasi pemadaman darat berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB dengan melibatkan personel gabungan dari berbagai unsur.
Untuk memaksimalkan penanganan, petugas membagi wilayah operasi menjadi empat sektor, yakni Blok Bukit Seribu Bintang (BSB), Karangdinding, Batu Arca, dan Bintangot.
Pembagian sektor tersebut dilakukan berdasarkan hasil analisis pemantauan udara dan drone thermal agar pergerakan personel serta peralatan pemadaman dapat diarahkan menuju kawasan yang masih menunjukkan aktivitas api.
Selain melibatkan BPBD Kabupaten Kuningan dan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, operasi ini juga didukung TNI, Polri, Brimob Polda Jawa Barat, Yonif TP 839/SA, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Dinas Kehutanan Jawa Barat, serta BPBD dari sejumlah kabupaten dan kota di wilayah sekitar.
Unsur masyarakat, komunitas pecinta alam, Masyarakat Peduli Api (MPA), organisasi relawan, hingga aparat desa juga turut diterjunkan dalam upaya pengendalian kebakaran.
BPBD Kabupaten Kuningan mencatat kebakaran yang pertama kali dilaporkan terjadi pada Rabu (21/10/2026) sekitar pukul 20.45 WIB itu melanda kawasan Resort SPTN Wilayah I Kuningan, Taman Nasional Gunung Ciremai.
Vegetasi yang terdampak meliputi semak belukar, alang-alang, serasah kering, hingga pohon pinus.
Meski api telah membakar sejumlah kawasan hutan, luas keseluruhan lahan yang terdampak hingga laporan terbaru diterbitkan masih dalam proses pendataan.
BPBD juga memastikan belum terdapat laporan korban jiwa akibat peristiwa kebakaran tersebut.
Memasuki hari berikutnya, Sabtu (24/10/2026), operasi pemadaman direncanakan kembali dilanjutkan dengan pembagian tiga sektor utama, yakni Bukit Seribu Bintang, Karangdinding, dan Bintangot.
Penanganan akan tetap mengombinasikan pemadaman manual oleh personel darat dengan dukungan water bombing dari udara.
Sejumlah kebutuhan darurat juga masih menjadi perhatian, mulai dari dukungan operasi water bombing, tambahan personel, peralatan pemadaman, sarana komunikasi, alat berat, hingga logistik bagi petugas.
Meskipun jumlah titik api telah berkurang, operasi belum dapat dinyatakan selesai. Keberadaan 10 titik api yang masih terdeteksi menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran di kawasan Gunung Ciremai masih membutuhkan upaya lanjutan.
Petugas gabungan kini berpacu mengendalikan sisa kebakaran agar tidak kembali meluas dan mengancam kawasan hutan lainnya.
(UGI)









Tinggalkan Balasan