
Oeh: Ihab Sihabudin Sekretaris PC PMII Kab. Kuningan
KUNIGAN,(VOX) – Dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, publik kembali diingatkan bahwa pendidikan bukan sekedar seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi atas tanggung jawab negara dalam menjamin kualitas dan keadilan bagi seluruh insan pendidikan.
Namun di balik gegap gempita peringatan Hardiknas, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang masih memprihatinkan, khususnya bagi para guru honorer. Mereka adalah garda terdepan dalam proses pendidikan, tetapi hingga hari ini masih banyak yang belum mendapatkan kesejahteraan yang layak.
Guru honorer dituntut untuk profesional, disiplin, dan penuh dedikasi dalam mendidik generasi bangsa. Akan tetapi, pengabdian tersebut sering kali tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima. Upah yang minim, status kerja yang tidak pasti, serta terbatasnya jaminan sosial menjadi persoalan yang terus berulang tanpa solusi yang jelas.
Lebih ironis lagi banyak sekolah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) kerap dijadikan solusi untuk menggaji guru honorer akibat belum maksimalnya perhatian dari pemerintah. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam kebijakan pendidikan yang seharusnya berpihak pada peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.

Momentum Hardiknas seharusnya menjadi titik balik bagi pemerintah untuk tidak hanya menghadirkan program seremonial semata, tetapi juga langkah konkret dan yang berkelanjutan. Sudah saatnya negara benar – benar hadir dengan kebijakan yang adil dan berpihak.
Kami mendorong pemerintah untuk:
- Menjamin kesejahteraan guru honorer melalui kebijakan yang jelas dan terukur.
- Menetapkan standar upah layak bagi seluruh tenaga pendidik.
- Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem anggaran pendidikan agar lebih berpihak pada kebutuhan di lapangan.
Pendidikan tidak akan pernah mencapai kualitas terbaik jika para pendidiknya masih hidup dalam ketidakpastian. Guru adalah fondasi utama peradaban, dan sudah seharusnya mendapatkan perhatian yang serius dari negara.
Hardiknas bukan hanya tentang peringatan, tetapi tentang keberpihakan dan keberanian untuk memperbaiki keadaan.
“Jika guru masih berjuang untuk hidup layak, maka pendidikan kita tidak baik-baik saja.”***








Tinggalkan Balasan