
VOXPOPULI.CO.ID — Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar meminta mahasiswa Kuningan yang menempuh pendidikan di Yogyakarta tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, memperluas jejaring, dan tetap menjaga identitas budaya Sunda.
Pesan itu disampaikan Dian saat menghadiri pelantikan pengurus Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kuningan (IPMK) Yogyakarta periode 2026–2027 di Asrama Kujang Jawa Barat, Baciro, Kota Yogyakarta, Minggu (11/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Hero Isya Syuhada resmi dilantik sebagai Ketua Umum IPMK Yogyakarta periode 2026–2027, menggantikan Asep Hamdan yang memimpin organisasi pada periode sebelumnya.
Bagi Dian, organisasi mahasiswa daerah bukan sekadar tempat berkumpul. Di dalamnya terdapat ruang bagi mahasiswa untuk belajar memimpin, membangun solidaritas, mengasah kemampuan sosial, sekaligus mempertahankan hubungan dengan tanah kelahiran.
Dian mengingatkan mahasiswa agar kemajuan pendidikan dan intelektualitas tidak membuat mereka kehilangan identitas daerah.

Menurutnya, mahasiswa Kuningan di perantauan memiliki tanggung jawab moral untuk tetap mengenal dan menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur.
“Kita boleh intelek, kita boleh cerdas, kita boleh maju, tapi tetap kaki kita menghujam ke bumi untuk tidak meninggalkan tradisi peninggalan leluhur kita,” tutur Dian.
Ia menilai keberadaan IPMK Yogyakarta memiliki posisi strategis karena organisasi tersebut mempertemukan mahasiswa yang memiliki latar belakang daerah yang sama di tengah lingkungan perantauan.
Ikatan tersebut, kata Dian, dapat menjadi sumber kekuatan bagi mahasiswa ketika menghadapi persoalan selama menjalani pendidikan jauh dari keluarga.
Dian juga mengajak mahasiswa memanfaatkan organisasi sebagai ruang pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di bangku kuliah.
Menurutnya, pengalaman berorganisasi dapat membantu mahasiswa mengembangkan pengetahuan, jaringan, kemampuan berkomunikasi, hingga kepemimpinan.
Ia menyebut setidaknya terdapat empat manfaat penting dari aktivitas organisasi.
Pertama, organisasi menjadi ruang untuk mengembangkan pengetahuan, jejaring, dan jiwa kepemimpinan. Kedua, memperkuat silaturahmi sekaligus identitas diri.
Ketiga, mahasiswa dilatih berpikir kritis dan objektif serta mengembangkan kecerdasan emosional. Keempat, organisasi menjadi tempat membentuk karakter melalui keseimbangan kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan sosial.
Menurut Dian, kemampuan tersebut akan menjadi bekal ketika mahasiswa memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Ia berkaca pada pengalamannya selama 32 tahun menjadi birokrat. Menurutnya, kemampuan membangun hubungan dengan orang lain dan kematangan emosional memiliki peran penting dalam menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab.
“Kesuksesan itu tidak ditentukan karena anak-anak keluarga kaya. Kesuksesan itu tidak ditentukan karena kita banyak uang, tapi kesuksesan masa depan ditentukan oleh diri kita sendiri,” tegasnya.
Tidak hanya berbicara mengenai organisasi dan budaya, Dian juga mengajak mahasiswa Kuningan memikirkan masa depan daerah setelah menyelesaikan pendidikan.
Ia mengatakan Kabupaten Kuningan membutuhkan generasi muda yang memiliki pengetahuan, kreativitas, integritas, serta kemampuan untuk ikut menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.
Menurutnya, mahasiswa memiliki pilihan untuk membangun karier di mana pun. Namun, hubungan dengan daerah asal tidak seharusnya terputus.
“Kuningan membutuhkan talenta-talenta muda, terutama putra-putri Kuningan untuk membangun Kuningan. Balik ke kampung halaman, silakan, atau mau berkarier di luar sana silakan. Yang pasti, jadilah orang yang bermanfaat,” ujarnya.
Dian menyebut pemerintah daerah terus berupaya menangani sejumlah persoalan, termasuk pengangguran dan kemiskinan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan PDRB, dan investasi.
Karena itu, kontribusi anak muda dinilai penting untuk memperkuat pembangunan daerah dalam jangka panjang.
Sementara itu, Hero Isya Syuhada mengaku bersyukur atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin IPMK Yogyakarta selama periode 2026–2027.
Ia menyebut amanah tersebut bukan hanya jabatan organisasi, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga marwah IPMK dan memastikan organisasi memberikan manfaat bagi mahasiswa Kuningan di Yogyakarta.
Hero juga mengapresiasi kehadiran Bupati Dian beserta jajaran serta Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dalam pelantikan tersebut.
Menurutnya, perhatian pemerintah daerah terhadap mahasiswa Kuningan di perantauan menjadi bentuk dukungan yang berarti.
“IPMK Yogyakarta bukan sekadar wadah berkumpul atau silaturahmi antar pelajar dan mahasiswa, lebih dari itu IPMK harus menjadi mitra strategis bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan,” ungkap Hero.
Ia mengajak seluruh pengurus baru menjadikan periode kepengurusan tersebut sebagai momentum memperkuat solidaritas, meningkatkan integritas, dan menjalankan program organisasi secara bersama-sama.
Dalam kesempatan tersebut, Hero juga menyampaikan salah satu aspirasi mahasiswa terkait fasilitas asrama.
Ia mempertanyakan tindak lanjut bantuan listrik gratis untuk asrama yang sebelumnya disebut pernah dijanjikan pemerintah dalam pelantikan kepengurusan tahun sebelumnya.
Aspirasi tersebut disampaikan agar kebutuhan dasar mahasiswa yang tinggal di asrama mendapat perhatian dan solusi dari Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Selain persoalan fasilitas, Hero berharap komunikasi antara IPMK dan pemerintah daerah dapat terus dibangun melalui berbagai program kolaborasi.
Menurutnya, mahasiswa di Yogyakarta tidak hanya membutuhkan dukungan, tetapi juga ingin berkontribusi melalui gagasan dan potensi yang mereka miliki.
Menutup pesannya, Dian mengingatkan mahasiswa agar tidak melupakan perjuangan orang tua yang telah mendukung pendidikan mereka.
Ia juga meminta mahasiswa menjaga nama baik Kuningan selama berada di perantauan serta memperkuat persaudaraan sesama mahasiswa.
Nilai-nilai Sunda seperti silih asah, silih asih, dan silih asuh diharapkan tetap menjadi bagian dari karakter mahasiswa Kuningan.
Pelantikan IPMK Yogyakarta periode 2026–2027 pun diharapkan tidak berhenti sebagai pergantian kepengurusan.
Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi awal bagi mahasiswa Kuningan di Yogyakarta untuk memperkuat kapasitas diri, menjaga budaya Sunda, memperluas jejaring, serta menyiapkan diri agar kelak mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan, keberadaan mahasiswa di berbagai daerah merupakan potensi besar yang dapat menjadi kekuatan pembangunan. Sementara bagi IPMK, tantangannya adalah membuktikan bahwa organisasi mahasiswa daerah mampu melahirkan gagasan dan karya yang memberi manfaat, baik di perantauan maupun ketika kembali ke tanah kelahiran. (Ugi)









Tinggalkan Balasan