VOXPOPULI.CO.ID – Pergantian kepemimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan periode 2026/2027 dinilai menjadi momentum penting untuk melanjutkan estafet perjuangan mahasiswa di lingkungan kampus.

Presiden Mahasiswa (Presma) BEM UNISA Kuningan periode 2025/2026, Muhamad Sayffulloh Rohman, menyampaikan apresiasi atas terpilihnya kepemimpinan baru. Ia berharap pergantian kepemimpinan tidak hanya dimaknai sebagai pergantian figur, tetapi sebagai proses meneruskan perjuangan dan menjaga keberlanjutan gerakan mahasiswa.

Menurut Sayffulloh, masa transisi sebelum pelantikan dan serah terima jabatan (sertijab) merupakan fase penting bagi kepemimpinan baru. Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi internal, menyusun jajaran kepengurusan, sekaligus merumuskan arah gerak BEM UNISA Kuningan secara matang dan terukur.

“Estafet perjuangan” menjadi pesan utama yang disampaikan Sayffulloh kepada kepemimpinan baru. Ia menilai berbagai perjuangan dan capaian BEM selama periode 2025/2026 seharusnya menjadi pijakan untuk melanjutkan sekaligus meningkatkan program organisasi, bukan kembali memulai semuanya dari awal.

Sayffulloh menekankan pentingnya menjaga idealisme mahasiswa dalam menjalankan roda organisasi. Menurutnya, BEM UNISA Kuningan harus tetap berada pada jalur perjuangan mahasiswa dan mampu menjadi organisasi yang inklusif.

Kepemimpinan baru diharapkan mampu mengayomi seluruh elemen mahasiswa tanpa membedakan latar belakang maupun kepentingan kelompok.

Selain itu, BEM juga dinilai perlu konsisten mengawal berbagai persoalan yang berkaitan dengan hak akademik dan fasilitas kemahasiswaan.

Advokasi yang responsif, menurut Sayffulloh, perlu dibangun melalui dinamika internal organisasi yang solid. Dengan fondasi tersebut, BEM UNISA Kuningan diharapkan dapat membangun hubungan yang harmonis dengan sivitas akademika tanpa kehilangan sikap kritis.

“Komitmen untuk selalu berada di rel perjuangan dan merawat idealisme” menjadi salah satu pesan yang ditekankan Sayffulloh dalam menghadapi masa transisi kepemimpinan.

Setelah menyelesaikan masa kepemimpinannya sebagai Presiden Mahasiswa BEM UNISA Kuningan, Sayffulloh menyatakan perjuangannya di organisasi mahasiswa tidak akan berhenti.

Ia akan melanjutkan aktivitas gerak mahasiswa sebagai Calon Koordinator BEM Nusantara Jawa Barat. Dari ruang gerak tersebut, ia berharap dapat ikut mengawal berbagai isu strategis di tingkat regional.

Sayffulloh juga berharap hubungan antara BEM UNISA Kuningan dengan berbagai aliansi mahasiswa di tingkat daerah maupun nasional dapat terus diperkuat.

Menurutnya, sinergi antarlembaga mahasiswa penting untuk memperluas ruang perjuangan sekaligus membangun gerakan yang lebih solid dalam merespons persoalan publik.

Tidak hanya persoalan internal kampus, Sayffulloh juga menyoroti peran BEM UNISA Kuningan dalam dinamika sosial di Kabupaten Kuningan.

Ia berharap kepemimpinan baru tetap menjalankan fungsi kontrol sosial di tengah masyarakat. BEM UNISA Kuningan, kata dia, perlu mempertegas posisi sebagai mitra kritis Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan.

Namun, sikap kritis tersebut menurutnya harus dibangun melalui landasan yang kuat. Kajian ilmiah, riset objektif, serta keberpihakan terhadap kepentingan publik dinilai perlu menjadi dasar organisasi dalam menyikapi berbagai kebijakan dan persoalan daerah.

Dengan demikian, suara mahasiswa tidak berhenti pada kritik, tetapi juga mampu menghadirkan analisis dan gagasan yang konstruktif.

Menjelang pelantikan dan sertijab, Sayffulloh mengimbau Presiden Mahasiswa terpilih bersama tim formatur untuk memanfaatkan masa transisi secara optimal.

Ia mendorong kepemimpinan baru menyerap aspirasi dari berbagai elemen mahasiswa, mengevaluasi catatan kepengurusan sebelumnya, serta menyusun peta jalan kepemimpinan yang lebih solid.

Menurutnya, proses tersebut penting agar kepemimpinan baru dapat langsung bekerja dengan arah yang jelas setelah resmi menerima amanah.

“Estafet ini ada di tangan kalian,” menjadi pesan yang disampaikan Sayffulloh kepada kepemimpinan baru BEM UNISA Kuningan.

Ia berharap kepemimpinan periode 2026/2027 mampu meneruskan hal-hal baik yang telah dibangun sekaligus menghadirkan inovasi baru yang memberikan dampak nyata bagi mahasiswa.

Pergantian kepemimpinan tersebut pada akhirnya diharapkan bukan menjadi akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari babak baru gerakan mahasiswa UNISA Kuningan yang lebih solid, kritis, inklusif, dan berpihak pada kepentingan mahasiswa serta masyarakat. (Ugi)