
VOXPOPULI.CO.ID – Warung Rakyat Kuningan buka suara terkait munculnya kegiatan penghargaan masyarakat yang dinilai memiliki kemiripan dengan Pangajen Pinunjul yang sebelumnya mereka gagas dan laksanakan. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Minara House, Jumat (5/9), yang diwakili oleh Dzikri, Agi, Yusuf, Dede, dan Anggi.
Dalam keterangannya, Warung Rakyat menjelaskan bahwa Pangajen Pinunjul bukan kegiatan yang muncul secara tiba-tiba. Gagasan tersebut berawal dari Focus Group Discussion (FGD) yang rutin digelar setiap bulan di berbagai kecamatan di Kabupaten Kuningan untuk menggali persoalan masyarakat sekaligus mencari solusi.
Dari rangkaian diskusi tersebut, mereka menilai masyarakat membutuhkan aksi nyata, bukan hanya wawancara di media sosial. Karena itu, lahirlah Pangajen Pinunjul sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat yang memiliki dedikasi, perjuangan, dan mampu menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.
“Yang dibutuhkan oleh masyarakat bukan hanya wawancara di media sosial dan lain sebagainya, tapi perlu aksi nyata. Oleh karena itu, muncullah Pangajen Pinunjul untuk mengapresiasi masyarakat yang mungkin belum mendapatkan apresiasi,” ujar Dede perwakilan Warung Rakyat.
Dalam prosesnya, ditetapkan lima kategori penerima penghargaan yang dianggap mewakili elemen masyarakat, yakni guru pinunjul, petani pinunjul, pedagang pinunjul, serta kategori lainnya termasuk wartawan pinunjul.

Proses seleksi berlangsung sekitar empat bulan, mulai dari pendaftaran, registrasi, observasi hingga seleksi. Untuk menjaga objektivitas, Warung Rakyat juga menggandeng analis atau juri dari luar dalam proses penilaian.
Puncak Pangajen Pinunjul kemudian dilaksanakan pada 23 Agustus 2026. Kegiatan tersebut turut mengundang narasumber yang sebelumnya pernah berdiskusi bersama Warung Rakyat, tokoh masyarakat Kuningan, pemerintah daerah, serta jajaran FKPD Kabupaten Kuningan.
Warung Rakyat mengaku mengapresiasi ketika Bupati Kuningan memberikan hadiah umrah kepada salah satu penerima Pangajen Pinunjul. Menurut mereka, pemberian tersebut merupakan bentuk spontanitas Bupati setelah melihat kegiatan yang diselenggarakan.
Namun, persoalan muncul ketika kelima pemenang Pangajen Pinunjul kembali diundang dalam sebuah kegiatan pemerintah daerah. Dalam kegiatan tersebut muncul narasi “Penghargaan Masyarakat Pinunjul” dengan orang-orang yang sama.
Warung Rakyat juga mempertanyakan penggunaan foto dokumentasi Pangajen Pinunjul dalam kegiatan tersebut. Mereka menyebut foto yang ditampilkan merupakan dokumentasi kegiatan mereka yang telah di-crop pada bagian yang memuat identitas Pangajen Pinunjul.
“Kami mencoba mempertanyakan bahwa ini apakah program sebenarnya yang dijalankan oleh pemerintah daerah? Kalau memang ada kegiatan yang hampir sama, misalkan penghargaan masyarakat Pinunjul, orangnya sama, kami tidak tahu. Kami mencoba mempertanyakan hal itu,” katanya.
Menurut Warung Rakyat, pihak panitia sebelumnya telah berupaya melakukan tabayun kepada pihak terkait. Namun, mereka mengaku mendapatkan jawaban yang beragam dan berharap persoalan tersebut dapat segera dijelaskan agar tidak menimbulkan persepsi maupun dugaan di tengah masyarakat.
Mereka juga tidak menampik adanya rasa kecewa. Terlebih, kelima penerima penghargaan merupakan orang-orang yang telah melalui proses panjang dalam Pangajen Pinunjul.
“Kami manusia biasa yang mempunyai perasaan cinta, kasih, dan juga kecewa. Kalau misalkan itu didiskusikan terlebih dahulu, mungkin akan lebih elok, apalagi pesertanya adalah peserta yang pemenang di acara kita,” ungkapnya.
Meski kecewa, Warung Rakyat menegaskan tidak ingin persoalan tersebut menghilangkan tujuan utama Pangajen Pinunjul. Mereka ingin masyarakat mengetahui bahwa lima penerima penghargaan merupakan sosok yang memiliki perjuangan luar biasa meski bekerja dengan penghasilan terbatas.
“Yang penting message-nya, kita memberikan inspirasi. Mereka ini adalah orang-orang hebat. Lima orang pemenang ini adalah orang-orang hebat, mereka yang kerjanya biasa-biasa saja dengan penghasilan yang sangat minim tapi bisa membiayai keluarganya, kemudian menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya,” jelasnya.
Dalam konferensi pers tersebut, Warung Rakyat juga menegaskan bahwa seluruh rangkaian Pangajen Pinunjul yang digelar pada 23 Agustus 2026 murni merupakan kegiatan mereka dan tidak mendapatkan pembiayaan dari Pemerintah Kabupaten Kuningan maupun APBD.
“Perlu kami sampaikan dan luruskan bahwa kegiatan yang kami lakukan pada 23 Agustus kemarin itu murni kegiatan kami, tidak mendapatkan sumbangan APBD dari awal sampai akhir,” tegasnya.
Menurut mereka, pembiayaan kegiatan berasal dari patungan internal serta dukungan sejumlah pihak yang secara sukarela ingin berbagi. Mereka menyebut sejumlah pihak membantu kegiatan tersebut, namun memilih untuk tidak disebutkan.
Sementara terkait hadiah umrah dari Bupati Kuningan, Warung Rakyat memastikan hal tersebut tidak pernah dibicarakan atau diatur sebelumnya. Mereka menyebut pemberian tersebut merupakan spontanitas Bupati sebagai bentuk apresiasi terhadap kegiatan Pangajen Pinunjul.
Ke depan, Warung Rakyat memastikan kegiatan mereka tidak berhenti. Dalam beberapa bulan mendatang, mereka akan kembali turun ke lapangan dan menjalankan sejumlah kegiatan yang berorientasi pada masyarakat.
Warung Rakyat juga mempersilakan pemerintah daerah apabila ingin melanjutkan semangat Pangajen Pinunjul dengan konsep yang lebih luas, kategori yang lebih banyak, serta pelaksanaan yang lebih baik.
“Kami menganggap tidak masalah. Yang penting nilainya tersampaikan kepada masyarakat. Kami mengharapkan kegiatan Pangajen Pinunjul ini tidak berhenti sampai di sini saja. Mangga pemerintah daerah dengan sumber daya yang dimiliki bisa melanjutkan, mungkin dengan cara yang lebih baik, dengan kategori yang lebih luas,” pungkasnya.***









Tinggalkan Balasan