
KUNINGAN, (VOX) – Upacara Hari Santri Nasional 2025 beberapa hari yang lalu di halaman Gedung Setda Kabupaten Kuningan berlangsung khidmat dan sarat nilai budaya, Rabu (22/10/2025).
Dalam momen penuh makna tersebut, Deni Darmadi, atau yang lebih dikenal dengan julukan Mang Dadawuk, menyerahkan sebuah keris Cirebonan bilah lurus kepada Bupati Kuningan sebagai simbol kelurusan hidup dan keteguhan dalam mengabdi.
Mang Dadawuk merupakan sosok penting di lingkungan Pagar Nusa ia menjabat sebagai Majelis Pendekar Kabupaten Kuningan sekaligus Biro Pertabiban Pengurus Wilayah Jawa Barat dan Pengurus Pusat Pagar Nusa.
Penyerahan keris ini menjadi bentuk penghormatan dari kalangan santri pendekar kepada pemimpin daerah, serta pesan moral agar nilai-nilai satya, jujur, dan tegas tanpa pandang bulu terus dijaga.
Keris yang diserahkan Mang Dadawuk memiliki bilah lurus, bukan luk (bergelombang). Dalam falsafah Jawa, bilah lurus mengandung makna bahwa kehidupan harus dijalani dengan kelurusan dari bawah hingga atas, dari rakyat hingga pemimpin.

Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia harus tegas, jujur, dan tidak berbelok dari kebenaran. Ucapan dan laku lampah (perbuatan) harus sejalan menjadi cerminan keutuhan moral dan keteguhan hati. “Keris lurus itu maknanya sederhana tapi dalam. Hidup harus lurus, dari bawah ke atas begitu juga sebaliknya. Tegas tanpa pandang bulu. Ucapan dan laku lampah harus sejalan,” tutur Mang Dadawuk.
Keris ini diyakini merupakan peninggalan dari masa Kerajaan Cirebon, namun bukan jenis yang dibuat untuk kalangan raja.Dari bahan dan bentuknya, keris ini justru mencerminkan keris rakyat atau staf kerajaan.
Bagian gagang (garan) terbuat dari kayu sawo kecrik, bukan dari gading atau batu mulia seperti halnya keris bangsawan. “Untuk yang ini disebut Deder atau gagang kecirebonan atau juga Putra bajang. Seorang laki laki yang selalu siap di segala medan, Ada lagi yang mengatakan jabang bayi, sebuah filosofi di hadirkan seorang laki laki yang siap menghadapi dan membereskan masalah yang ada. Tersirat doa dan harapan sangat mendalam untuk Bupati Kuningan saat ini” ujarnya.
Menurut penuturan Mang Dadawuk, bentuk seperti ini lazim digunakan oleh abdi kerajaan di bidang pertanian, peternakan, atau pengelolaan hasil bumi.
Sederhana secara material, namun sarat makna tentang pengabdian, ketulusan, dan kerja nyata tanpa pamrih.
Keris bergaya Cirebonan dikenal memiliki ciri khas yang memadukan unsur lokal pesisir dengan pengaruh Hindu dan Islam.
Bentuk gagangnya sering kali menampilkan makhluk mitologis seperti Rajamala, atau bentuk manusia dan hewan yang melambangkan perlindungan, kebijaksanaan, dan keseimbangan spiritual.
Kehadiran keris dalam upacara Hari Santri 2025 ini menjadi simbol hubungan antara budaya dan spiritualitas santri bahwa nilai-nilai kejujuran, keteguhan, dan pengabdian tidak lekang oleh waktu.***












Tinggalkan Balasan