
VOXPOPULI.CO.ID – Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi yang beredar melalui media sosial, ancaman penyebaran paham radikalisme dan anarkisme dinilai semakin mudah menjangkau kalangan pelajar, mahasiswa, maupun santri.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Diklat Kebangsaan yang diselenggarakan Gerakan Masyarakat Anti Radikalisme (GEMAR) Kabupaten Kuningan di Pondok Pesantren Daarul Mukhlishin, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur. Kegiatan tersebut diikuti sekitar seratus peserta dari berbagai kalangan generasi muda.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kabupaten Kuningan, Nana Suhendra, menegaskan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup untuk menghadapi berbagai tantangan di era digital. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan maupun propaganda yang beredar di internet.
“Literasi digital tidak sekadar bermakna mampu menggunakan perangkat atau aktif di media sosial. Lebih dari itu, ini adalah kemampuan memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak, etis, dan bertanggung jawab,” kata Nana saat menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa penguatan literasi digital harus didukung oleh empat aspek utama, yaitu kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital. Keempat unsur tersebut dinilai penting untuk membangun ketahanan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menghadapi berbagai konten negatif di ruang digital.

Menurut Nana, kelompok usia muda menjadi sasaran yang rentan terhadap penyebaran paham radikal karena berada dalam fase pencarian identitas diri. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten serupa berdasarkan aktivitas pengguna.
“Ketika seseorang menyukai atau berlama-lama melihat satu konten radikal, algoritma akan terus menyajikan konten serupa. Akibatnya, sudut pandang menjadi sempit dan keyakinan yang keliru semakin menguat,” ujarnya.
Selain literasi digital, Nana juga menekankan pentingnya penguatan wawasan kebangsaan. Ia menyebut empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi yang harus dipahami oleh generasi muda dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif yang berkembang di dunia maya.
Menurutnya, pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan dapat menjadi benteng untuk menangkal narasi kebencian, intoleransi, maupun ajakan yang berpotensi memecah persatuan bangsa.
Dalam pemaparannya, Nana mengingatkan peserta agar lebih waspada terhadap berbagai bentuk narasi radikal yang kini kerap dikemas secara modern melalui video pendek, meme, hingga potongan konten yang telah dipisahkan dari konteks aslinya. Ujaran kebencian, klaim kebenaran tunggal, penolakan terhadap keberagaman, serta teori konspirasi tanpa dasar yang jelas menjadi sejumlah indikator yang perlu dicermati.
Ia menilai upaya penindakan atau pemblokiran konten semata tidak akan cukup tanpa adanya kesadaran dan ketahanan dari masyarakat pengguna media digital. Karena itu, generasi muda didorong untuk aktif menciptakan konten positif yang mempromosikan toleransi, kreativitas, dan semangat persatuan.
Sementara itu, Ketua GEMAR Kabupaten Kuningan, KH Yayat Hidayat, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap berbagai persoalan yang kini dihadapi generasi muda di era digital. Selain radikalisme, berbagai ancaman lain seperti penyebaran hoaks, judi online, hingga pinjaman online ilegal juga menjadi perhatian bersama.
Melalui kegiatan edukatif semacam ini, diharapkan generasi muda Kuningan memiliki kemampuan untuk menyaring informasi secara kritis, menjaga nilai-nilai kebangsaan, serta berperan aktif menciptakan ruang digital yang sehat dan produktif bagi masyarakat.***









Tinggalkan Balasan