
KUNINGAN, (VOX) – Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani menghadiri forum diskusi bertajuk Ngobrol Perkara Daerah yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kuningan periode 2025 sampai 2026 pada Jumat 13 Maret 2026. Diskusi berlangsung santai di kawasan Warung Kuliner depan Universitas Kuningan dan diikuti mahasiswa serta masyarakat.
Forum tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah daerah dan kalangan mahasiswa untuk membahas isu pembangunan daerah. Salah satu tema yang mengemuka dalam diskusi adalah keberlanjutan lingkungan dan posisi Gunung Ciremai sebagai kawasan konservasi penting di Kabupaten Kuningan.
Dalam pemaparannya, Wabup menegaskan bahwa Gunung Ciremai memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat Kuningan. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah gunung tertinggi di Jawa Barat itu berada di Kabupaten Kuningan.
“Gunung Ciremai yang secara persentase sekitar 60 persen wilayahnya berada di Kabupaten Kuningan merupakan paru paru kehidupan bagi masyarakat kita. Dari kaki hingga lerengnya menjadi menara air, sumber mata air, potensi pariwisata sekaligus penjaga keseimbangan ekosistem,” ujarnya.
Menurutnya, kawasan Gunung Ciremai bukan hanya penting dari sisi lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan sosial yang sangat besar bagi masyarakat sekitar.

Tuti juga menekankan bahwa upaya menjaga kelestarian alam tidak dapat dilakukan pemerintah daerah sendirian. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut terlibat dalam menjaga kawasan konservasi tersebut.
“Menjaga alam Kuningan bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah. Ini tanggung jawab bersama pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan tentu generasi muda,” katanya.
Ia menambahkan bahwa komitmen menjaga kelestarian lingkungan juga menjadi bagian dari arah pembangunan Kabupaten Kuningan melalui visi Kuningan MELESAT yang menekankan keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.
“Sebagai daerah konservasi kita harus mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Pembangunan tidak boleh mengorbankan alam, tetapi pengelolaan alam juga harus memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Meski demikian, Tuti mengakui bahwa menjaga kawasan konservasi Gunung Ciremai tidak selalu mudah. Alih fungsi lahan serta kurangnya kesadaran sebagian pihak terhadap pentingnya konservasi jangka panjang masih menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Karena itu ia menilai forum diskusi seperti Ngopda menjadi ruang penting untuk menyamakan pandangan sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, mahasiswa, dan masyarakat.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan dari peserta yang hadir. Melalui dialog semacam ini diharapkan muncul gagasan dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian Gunung Ciremai sebagai warisan ekologis Kabupaten Kuningan.***












Tinggalkan Balasan