VOXPOPULI.CO.ID – Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kuningan dinilai semakin menunjukkan kemajuan. Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, persoalan daya beli masyarakat masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Hal itu disampaikan penggiat UMKM Kuningan, Asep Ayip Madraip, saat diwawancarai Voxpopuli di kawasan Puspa Langlangbuana, Sabtu (12/09/2026).

Asep menilai kondisi UMKM Kuningan saat ini sudah lebih berkembang dibanding sebelumnya. Beragam produk lokal terus bermunculan dan pelaku usaha semakin aktif melakukan promosi.

“Udah tambah maju sih. Cuman daya belinya kurang,” ujar Asep.

Menurutnya, peningkatan kualitas dan jumlah produk UMKM perlu dibarengi dengan dukungan yang lebih kuat agar pelaku usaha dapat memperluas pasar dan meningkatkan penjualan.

“Ya harus tambah support lagi buat ngebantu para UMKM Kuningan,” katanya.

Asep sendiri saat ini aktif mengembangkan konten untuk mempromosikan berbagai produk UMKM. Produk yang tengah dijalankan antara lain bawang, pakaian, jilbab hingga parfum.

Dalam aktivitas tersebut, Asep juga menyebut dirinya telah menjalin kerja sama dengan Yannez Hendrawan, seorang aktor, untuk membantu memperkenalkan produk UMKM kepada masyarakat yang lebih luas.

Kolaborasi dengan figur publik dinilai dapat menjadi salah satu strategi pemasaran untuk meningkatkan daya jangkau produk lokal Kuningan. Tidak hanya mengandalkan pasar lokal, produk UMKM juga didorong agar mampu menembus pasar luar daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Asep turut memberikan pandangannya mengenai sejumlah kawasan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat dan UMKM di Kuningan.

Ia menilai kawasan Puspa Langlangbuana mulai menunjukkan perkembangan. Menurutnya, masyarakat sudah mulai kembali datang dan beraktivitas di kawasan tersebut.

“Pengunjung udah mulai, udah mulai ramai,” ujarnya.

Namun, ketika ditanya mengenai kawasan yang dinilai masih kurang dari sisi kunjungan, Asep menyebut Taman Kota atau Tamkot.

“Tamkot,” jawabnya singkat.

Asep menilai salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah daya tarik bagi pembeli. Keberadaan pedagang dan produk yang ditawarkan juga menjadi faktor yang menurutnya dapat memengaruhi minat masyarakat untuk datang dan berbelanja.

“Pembelinya,” kata Asep ketika ditanya mengenai penyebab kurangnya pengunjung di Tamkot.

Selain mengembangkan pasar di Kuningan, Asep juga berupaya membawa produk UMKM lokal ke luar daerah melalui berbagai kegiatan dan event.

Ia menyebut adanya rencana mengikuti kegiatan di Sukabumi yang menjadi ruang bagi perwakilan produk UMKM untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat di luar Kuningan.

Langkah tersebut dinilai penting karena persoalan UMKM tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga bagaimana produk tersebut mendapatkan pasar.

Semakin luas jangkauan pemasaran, semakin besar pula peluang produk UMKM Kuningan dikenal konsumen dari luar daerah.

Asep berharap pemerintah dan berbagai pihak terus memberikan dukungan kepada pelaku UMKM, khususnya dalam membuka akses promosi dan pemasaran.

Menurutnya, UMKM Kuningan sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang lebih besar. Namun, potensi tersebut perlu ditopang dengan daya beli masyarakat yang baik, event yang menarik, serta strategi pemasaran yang mampu mempertemukan produk dengan konsumen.

Dengan kondisi tersebut, pengembangan UMKM di Kuningan tidak cukup hanya dengan memperbanyak pelaku usaha. Ekosistem ekonomi juga harus dibangun agar produk yang dihasilkan benar-benar terserap pasar.

Bagi Asep, membawa produk Kuningan ke luar daerah merupakan salah satu upaya agar UMKM lokal tidak hanya bergantung pada konsumen di dalam daerah.

“UMKM Kuningan” menjadi salah satu sektor yang diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru.***