
VOXPOPULI.CO.ID – Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., mendukung produksi film layar lebar nasional berjudul Aku Bukan Musuhmu Tapi Aku Sahabatmu yang mengangkat persoalan perundungan atau bullying di kalangan anak dan remaja.
Film produksi Kuda Putih Picture tersebut diharapkan tidak hanya menjadi media edukasi untuk membangun kesadaran generasi muda tentang bahaya perundungan, tetapi juga menjadi sarana mempromosikan potensi wisata, alam, dan budaya Kabupaten Kuningan ke tingkat nasional.
Dukungan itu disampaikan Bupati Dian saat menghadiri acara tasyakuran dan pembukaan produksi film yang dirangkaikan dengan Kampanye Nasional Stop Bullying di Teras Pendopo Kabupaten Kuningan, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan PT Djayakarta Tekad Sejahtera bersama Kuda Putih Picture tersebut turut dihadiri Plt. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kuningan, Drs. H. Ucu Suryana, M.Si., serta sejumlah undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Dian mengapresiasi Kang Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., yang menjadi salah satu inisiator dan penggagas film tersebut.

Menurutnya, produksi film ini membawa dua misi penting, yakni memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai bahaya bullying sekaligus memperkenalkan potensi Kabupaten Kuningan melalui industri perfilman.
“Bagi kami ini tidak sekadar hiburan, tetapi pertama sebagai media edukasi kepada anak-anak kita yang sekarang tumbuh dalam situasi global yang luar biasa. Kedua, sebagai media untuk memperkenalkan potensi Kuningan,” ungkapnya.
Bupati Dian menilai film merupakan media komunikasi universal yang mampu menyampaikan pesan sosial secara lebih mudah dipahami masyarakat. Karena itu, pendekatan audiovisual dinilai efektif untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan perilaku, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja.
Ia juga mencontohkan keberhasilan film Laskar Pelangi yang turut memperkenalkan Belitung kepada masyarakat luas. Menurutnya, Kabupaten Kuningan memiliki kekayaan alam dan budaya yang layak diperkenalkan melalui karya perfilman.
“Kita punya bentang alam yang indah, Gunung Ciremai, udara yang sejuk, kita menara air, punya tradisi budaya. Ini belum banyak diceritakan ke dunia luar. Salah satu medianya mungkin melalui film,” tuturnya.
Selain promosi daerah, persoalan perundungan menjadi perhatian utama dalam film tersebut. Bupati Dian menegaskan bahwa bullying tidak boleh dianggap sebagai kenakalan biasa karena dampaknya dapat meninggalkan luka fisik maupun trauma psikologis yang memengaruhi perkembangan anak.
Ia bahkan membagikan pengalaman keluarganya ketika seorang keponakannya mengalami perundungan saat duduk di bangku SMP hingga kehilangan semangat untuk bersekolah.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa dampak perundungan dapat berlangsung panjang dan memengaruhi kehidupan korban.
Karena itu, penanganan bullying membutuhkan langkah menyeluruh melalui upaya pencegahan, edukasi, dan pendekatan persuasif. Perhatian tidak hanya diberikan kepada korban, tetapi juga kepada pelaku agar mendapatkan pembinaan dan pendampingan yang tepat.
“Harus ada langkah-langkah konstruktif yang menyeluruh sehingga ini tidak terjadi lagi. Salah satunya melalui media film,” tegasnya.
Bupati Dian juga berharap keberhasilan film tersebut tidak hanya diukur berdasarkan jumlah penonton, tetapi lebih jauh dari dampak edukasi yang dihasilkan terhadap perubahan pola pikir dan perilaku generasi muda.
“Ukuran film sukses itu bukan dari banyaknya penonton. Tetapi bagaimana film ini memberikan pengaruh, mengubah pola sikap anak-anak yang menjadi sasaran film ini. Bagaimana setelah menonton mereka memahami bahwa bullying memang tidak boleh dilakukan kepada sesama,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap produksi film nasional tersebut, Pemerintah Kabupaten Kuningan menyambut baik dipilihnya sejumlah wilayah di Kuningan sebagai lokasi pengambilan gambar.
Bupati Dian bahkan mempersilakan sejumlah ikon wisata dan destinasi unggulan daerah, seperti Gedung Perundingan Linggarjati, Waduk Darma, dan Situ Cicerem, untuk diperkenalkan melalui adegan film.
Ia berharap produksi film layar lebar ini menjadi momentum untuk memperluas promosi Kabupaten Kuningan di tingkat nasional sekaligus membuka peluang kerja sama antara pemerintah daerah dan industri kreatif.
Sementara itu, Kang Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., yang juga dikenal sebagai Sultan Sepuh Cirebon, menjelaskan bahwa film Aku Bukan Musuhmu Tapi Aku Sahabatmu lahir dari kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial yang mengancam masa depan generasi muda.
Persoalan tersebut meliputi perundungan terhadap anak, kenakalan remaja, hingga penyalahgunaan narkotika.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, keluarga, hingga lingkungan sosial, untuk bersama-sama memperkuat perlindungan terhadap anak.
Menurutnya, intimidasi serta kekerasan verbal maupun fisik bukan persoalan sepele karena dapat meninggalkan luka mendalam bagi korban. Penanganannya harus mengedepankan perlindungan, edukasi, pembinaan, dan pendampingan, baik terhadap korban maupun pelaku yang masih di bawah umur.
Melalui Kuda Putih Picture, film tersebut ditargetkan dapat menjangkau masyarakat di seluruh Indonesia dalam kurun waktu satu tahun ke depan. Selain menjadi media edukasi, produksi ini juga diharapkan mendorong gerakan nyata, termasuk pembentukan satuan tugas (Satgas) Antibullying di berbagai wilayah.
Film ini membawa pesan bahwa anak-anak yang mengalami perundungan bukanlah musuh yang harus dijauhi. Mereka justru membutuhkan sahabat, perlindungan, dan lingkungan yang aman agar dapat tumbuh serta berkembang tanpa rasa takut.
Dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Kuningan, produksi film Aku Bukan Musuhmu Tapi Aku Sahabatmu diharapkan mampu menjadi gerakan edukasi sosial sekaligus memperkenalkan keindahan dan kekayaan potensi daerah kepada masyarakat Indonesia.
(UGI)












Tinggalkan Balasan