VOXPOPULI.CO.ID – Saung Kopi Hawwu genap berusia enam tahun. Memasuki usia tersebut, Saung Kopi Hawwu terus mempertahankan konsep kuliner khas Sunda sekaligus menghadirkan kembali suasana kehidupan masyarakat masa lalu melalui berbagai kegiatan seni dan budaya.

Hal tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani atau yang akrab disapa Amih Tuti, saat menghadiri puncak Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu ke-6 bertajuk “Nu Ngora Nu Ngabudaya”, Minggu (27/09/2026).

Dalam sambutannya, Amih Tuti menilai perjalanan enam tahun Saung Kopi Hawwu bukan sekadar perjalanan sebuah usaha kuliner. Menurutnya, ada proses, perjuangan, kreativitas, dan konsistensi dalam mempertahankan konsep yang mengangkat identitas budaya Sunda.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan, saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh keluarga besar Saung Kopi Hawwu yang dari tahun ke tahun menggagas berbagai rangkaian kegiatan menyambut hari jadinya,” ujar Amih Tuti.

Ia mengatakan Saung Kopi Hawwu memiliki karakter yang berbeda karena tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga berupaya menghadirkan suasana dan heritage kehidupan masyarakat Sunda zaman dahulu.

Menurut Amih Tuti, konsep tersebut menjadi semakin penting di tengah kehidupan masyarakat yang semakin modern. Suasana rumah tradisional, peralatan rumah tangga zaman dahulu, makanan yang dimasak dengan cara tradisional hingga kebiasaan berkumpul bersama keluarga merupakan bagian dari kehidupan yang kini semakin jarang ditemui.

“Saung Kopi Hawwu hadir bukan sekadar sebagai tempat makan, tetapi sebagai rumah makan khas Sunda yang berusaha mempertahankan suasana dan heritage kehidupan masyarakat zaman dahulu,” katanya.

Amih Tuti menilai apa yang dilakukan Saung Kopi Hawwu memiliki nilai yang lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas bisnis kuliner. Keberadaan konsep tersebut dinilai menjadi salah satu cara untuk menjaga memori dan identitas budaya sekaligus memperkenalkan kembali budaya Sunda kepada generasi sekarang.

“Karena itu, apa yang dilakukan Saung Kopi Hawwu sesungguhnya memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar bisnis kuliner. Ada upaya untuk menjaga memori, menjaga identitas, dan memperkenalkan kembali budaya Sunda kepada generasi sekarang,” tuturnya.

Ia juga menyoroti salah satu kegiatan dalam rangkaian Hibar Budaya, yakni “Mirun Hawu Ngasakeun Sangu”. Bagi Amih Tuti, kegiatan tersebut mengingatkan kembali masyarakat terhadap fungsi hawu dalam kehidupan keluarga Sunda pada masa lalu.

Hawu tidak hanya menjadi tempat memasak, tetapi juga menjadi ruang berkumpulnya keluarga. Dari aktivitas sederhana tersebut, menurut Amih Tuti, terdapat nilai-nilai seperti gotong royong, kebersamaan, penghormatan kepada orang tua dan rasa syukur.

Amih Tuti berharap Saung Kopi Hawwu dapat terus berkembang dan menjadi salah satu bagian dari destinasi kuliner sekaligus wisata budaya di Kabupaten Kuningan.

Ia berpesan agar modernisasi tidak membuat masyarakat meninggalkan identitas budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakat Sunda.

“Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita kehilangan akar. Kita boleh modern dalam cara berpikir, maju dalam teknologi, dan berkembang dalam ekonomi, tetapi identitas budaya harus tetap kita jaga,” tegasnya.

Menurut Amih Tuti, momentum enam tahun Saung Kopi Hawwu juga dapat menjadi ruang untuk terus menghidupkan budaya dan memperkuat kebersamaan masyarakat.

Menutup sambutannya, Amih Tuti menyampaikan ucapan selamat atas milangkala Saung Kopi Hawwu yang ke-6.

“Selamat milangkala ke-6 Saung Kopi Hawwu. Teruslah menyala seperti hawu, terus menghangatkan seperti api, dan terus memberikan rasa bagi masyarakat Kuningan,” ujar Amih Tuti.

Puncak Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu ke-6 bertajuk “Nu Ngora Nu Ngabudaya” kemudian ditutup secara resmi oleh Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani.***