VOXPOPULI.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Kuningan mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi banjir dan tanah longsor menjelang musim penghujan. Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., menegaskan penanganan bencana harus berbasis risiko dan tidak boleh baru dilakukan setelah bencana terjadi.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Dian dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Lintas Sektor Kesiapan Penanggulangan Bencana Alam Banjir dan Tanah Longsor yang berlangsung di Ballroom Arya Kemuning, Selasa (6/10/2026).

Rakor tersebut dihadiri Kapolres Kuningan, Dandim 0615 Kuningan, serta sejumlah unsur terkait yang memiliki peran dalam penanggulangan bencana.

Dalam arahannya, Dian menekankan bahwa kesiapsiagaan menjadi salah satu faktor penting untuk menekan dampak bencana, baik korban maupun kerugian material.

“Yang paling penting, kebencanaan itu kita siap, kita siaga. Karena dengan kesiapan dan kesiagaan kita akan mengurangi dampak atau kerugian yang ditimbulkan oleh sebuah bencana,” ujar Dian.

Menurutnya, besar kecilnya dampak bencana tidak hanya ditentukan oleh tingkat ancaman alam. Faktor kesiapan pemerintah dan masyarakat juga sangat menentukan.

Karena itu, informasi mengenai potensi bencana dan sistem peringatan dini harus dapat diterima dengan cepat agar langkah antisipasi bisa dilakukan sebelum ancaman berkembang menjadi bencana.

“Prinsipnya kita harus bergerak berdasarkan risiko, bukan berdasarkan karena kejadian,” tegasnya.

Dian juga mengingatkan bahwa Kuningan sebelumnya menghadapi kekeringan meteorologis yang berdampak terhadap berkurangnya cadangan dan sumber air di sejumlah wilayah.

Menurut dia, pemerintah tidak seharusnya menunggu masyarakat mengalami kesulitan air baru kemudian melakukan penanganan. Distribusi air menggunakan mobil tangki, misalnya, dinilai hanya menjadi solusi darurat dan belum menyentuh persoalan secara menyeluruh.

Selain kekeringan, ancaman kebakaran hutan dan lahan juga menjadi perhatian. Dalam rakor tersebut disebutkan luas area yang telah terbakar mencapai sekitar 58,96 hektare.

Kondisi itu dinilai perlu menjadi bahan evaluasi bersama karena kerusakan lingkungan akibat kebakaran dapat terjadi dalam waktu relatif cepat, sedangkan proses pemulihannya membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Kini, memasuki masa peralihan musim, fokus kesiapsiagaan pemerintah mulai diarahkan pada potensi banjir dan tanah longsor.

Berdasarkan prediksi yang dipaparkan dalam rakor, mayoritas wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026.

Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Februari. Kondisi tersebut membuat kesiapan menghadapi bencana hidrometeorologi perlu dilakukan sejak sebelum intensitas hujan meningkat.

Bagi Kuningan yang memiliki sejumlah wilayah dengan potensi ancaman banjir dan longsor, pemetaan kawasan rawan menjadi bagian penting dari strategi mitigasi.

Pemerintah tidak hanya dituntut menyiapkan personel, tetapi juga memastikan sarana prasarana serta kebutuhan penanganan dapat diarahkan ke lokasi yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Untuk menghadapi potensi bencana tersebut, Bupati Dian menyampaikan empat langkah utama yang perlu diperkuat.

Pertama, memperkuat kolaborasi dan koordinasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media.

Kedua, menyiapkan posko kesiapsiagaan sekaligus melakukan pemantauan secara berkelanjutan.

Ketiga, mengaktifkan potensi sumber daya manusia serta meningkatkan peran masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.

Keempat, melakukan pemetaan dan deteksi dini terhadap wilayah-wilayah yang memiliki potensi risiko.

“Kuncinya adalah koordinasi, kecepatan informasi dan kecepatan bertindak,” kata Dian.

Dengan pemetaan risiko yang jelas, pemerintah dapat menentukan sejak awal kebutuhan personel, peralatan, sarana prasarana hingga pola penanganan apabila terjadi bencana.

Bupati Dian menegaskan pembahasan mengenai berbagai potensi bencana bukan dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.

Sebaliknya, informasi mengenai risiko bencana harus menjadi bagian dari upaya membangun kewaspadaan bersama sehingga masyarakat maupun pemerintah memiliki kesiapan ketika menghadapi kondisi darurat.

“Saya bukan bercerita horor di sini. Ini bentuk kesiapsiagaan dan kewaspadaan saja,” ujarnya.

Dian kembali mengingatkan bahwa kesiapan sejak dini akan membantu mengurangi dampak ketika bencana benar-benar terjadi.

“Kalau kita siaga akan mengurangi dampak yang ditimbulkan. Ketika kita tidak siaga, risiko kita tanggung dengan akibat yang lebih besar,” pungkasnya ” (Ugi)