VOXPOPULI.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Kuningan menegaskan komitmennya memperkuat budaya literasi sebagai bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia. Pesan itu mengemuka dalam Festival Literasi Kabupaten Kuningan 2026 yang digelar di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Kuningan, Kamis (8/10/2026).

Mengusung tema “Tenggelam dalam Literasi, Terbit Generasi Berprestasi”, festival yang berlangsung hingga 11 Oktober 2026 tersebut tidak hanya menghadirkan berbagai perlombaan dan kegiatan literasi, tetapi juga menjadi momentum pengukuhan Bunda Literasi Kabupaten Kuningan dan Bunda Literasi Kecamatan.

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik.

Menurutnya, jalan, jembatan, gedung hingga teknologi memang penting. Namun, kualitas manusia yang akan mengelola dan memanfaatkan seluruh pembangunan tersebut jauh lebih menentukan masa depan daerah.

“Membangun sebuah bangsa diawali dari bagaimana membuat pola pikir anak-anak kita berpikir tentang masa depan,” kata Bupati Dian.

Bupati Dian menilai pengertian literasi saat ini harus diperluas. Literasi tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, menulis atau menghafal informasi.

Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, masyarakat dituntut mampu memahami informasi secara kritis, memeriksa kebenaran data serta mengambil keputusan secara bijaksana.

Ia menyoroti perubahan pola komunikasi di era digital yang membuat setiap orang bukan hanya menjadi pembaca, tetapi juga dapat menjadi pembuat sekaligus penyebar informasi.

“Dengan hitungan detik hari ini kejadian di Talaga bisa sampai ke Singapura, bisa sampai ke New York. Hari ini pembaca bisa sekaligus menjadi pembuat informasi. Itu yang paling bahaya,” ujarnya.

Karena itu, menurut Dian, tantangan literasi saat ini bukan lagi sebatas bagaimana memperoleh informasi. Masyarakat harus mampu membedakan informasi, pengetahuan, kebijaksanaan hingga kebenaran.

“Data itu penting,” tegasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan informasi yang beredar, terutama di media sosial. Kemampuan memeriksa fakta dan memahami konteks menjadi bagian penting dari budaya literasi.

Bupati Dian juga memberikan penekanan terhadap makna tema Festival Literasi Kuningan 2026.

Menurutnya, kata “tenggelam” bukan berarti kehilangan arah atau tidak berdaya. Sebaliknya, kata tersebut menggambarkan keberanian seseorang menyelami ilmu dan pengetahuan secara mendalam.

“Tenggelam itu bukan tilelep, bukan kehilangan arah, bukan tidak berdaya. Tetapi menyelami pengetahuan sedalam-dalamnya,” jelasnya.

Dari pemahaman yang mendalam tersebut, lanjut Dian, akan muncul gagasan. Gagasan kemudian diwujudkan menjadi karya dan pada akhirnya dapat melahirkan prestasi.

“Dari pemahaman itu lahir gagasan. Dari gagasan lahir karya. Dari karya lahir prestasi. Dari prestasi lahir sebuah generasi yang paham tentang harus berbuat apa untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Ia berharap gerakan literasi tidak berhenti di lingkungan sekolah atau perpustakaan. Keluarga juga harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk mengenal buku, membaca dan berdiskusi.

“Jadi mari kita tumbuhkan budaya literasi tidak hanya di sekolah, tetapi di rumah,” ajaknya.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati Dian mengukuhkan Hj. Ela Helayati, S.Sos. sebagai Bunda Literasi Kabupaten Kuningan Tahun 2026.

Setelah itu, Bunda Literasi Kabupaten Kuningan mengukuhkan Ketua Tim Penggerak PKK dari 15 kecamatan sebagai Bunda Literasi Kecamatan.

Pengukuhan tersebut diharapkan dapat memperluas gerakan literasi hingga lingkungan keluarga dan masyarakat. Perempuan, keluarga serta komunitas dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan membaca dan kemampuan menyaring informasi.

Festival Literasi Kabupaten Kuningan 2026 diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kuningan dengan berbagai kegiatan.

Sejumlah agenda yang digelar antara lain workshop mendongeng, workshop bedah buku, lomba menggambar, festival band, screening film, bazar buku serta pemberian penghargaan budaya gemar membaca.

Berbagai perlombaan juga digelar, mulai dari Lomba Keluarga Literasi, Duta Baca Pelajar dan Mahasiswa, Bertutur tingkat SD/MI, Video Konten Literasi hingga Resensi Buku tingkat SD, SMP, SMA/SMK sederajat.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kuningan Drs. H. Nurahim, M.Si., mengatakan seluruh rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan budaya dan minat baca masyarakat.

Menurutnya, perpustakaan harus semakin dekat dengan masyarakat dan tidak hanya dipandang sebagai tempat menyimpan buku.

“Intinya adalah untuk meningkatkan budaya dan minat baca masyarakat. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan terus berupaya menggalakkan dan melayani masyarakat dalam memenuhi kebutuhan referensi dan bahan pustaka,” ungkap Nurahim.

Festival Literasi Kuningan 2026 juga mendapat dukungan masyarakat. Lebih dari 1.400 judul buku berhasil dihimpun melalui donasi dari berbagai pihak.

Selain itu, festival band diikuti sekitar 38 grup pendaftar, sementara bazar buku turut menghadirkan Gramedia.

Komitmen pengembangan literasi di Kabupaten Kuningan juga mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat H. Kusmana Hartadji.

Ia menilai literasi pada era digital memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis.

“Literasi merupakan kemampuan untuk memahami informasi, berpikir kritis, mengembangkan pengetahuan, berkomunikasi, berkarya, serta mengambil keputusan secara bijak,” jelasnya.

Kusmana juga mengapresiasi sejumlah prestasi Kabupaten Kuningan di tingkat Jawa Barat.

Salah satunya diraih Perpustakaan Insan Cipta Desa Kertayasa yang berhasil menjadi Juara 1 Lomba Perpustakaan Desa Terbaik tingkat Provinsi Jawa Barat.

Sementara itu, Kabupaten Kuningan juga meraih Juara Harapan dalam Lomba Bertutur siswa SD tingkat Provinsi Jawa Barat melalui Ananda Nathan Al Haj Hidriji.

Kusmana mendorong agar prestasi tersebut menjadi pemicu bagi pengembangan perpustakaan dan budaya literasi secara berkelanjutan.

Menurutnya, perpustakaan tidak cukup hanya dibangun dengan gedung dan fasilitas. Pelayanan kepada masyarakat harus menjadi perhatian utama.

“Pustakawan harus turun ke lapangan. Yang terpenting 70 persen pelayanan, sarana prasarana cukup 30 persen saja,” ujarnya.

Ia juga mendorong perpustakaan menjadi ruang kolaborasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk belajar, bertukar pengalaman, membangun komunitas hingga menghasilkan gagasan baru.

Tiga prinsip yang perlu dipegang para pustakawan, kata Kusmana, adalah terlibat, bersinergi dan berdampak.

Bupati Dian menegaskan bahwa keterbatasan sumber daya alam dan kemampuan fiskal daerah bukan alasan bagi Kuningan untuk tertinggal.

Ia mencontohkan Singapura yang mampu berkembang pesat dengan mengandalkan kualitas sumber daya manusia, kreativitas, kolaborasi, kemampuan bahasa dan literasi ekonomi.

“APBD kita kecil, tapi saya tidak mau kalah. Saya ingin kita buktikan,” ujarnya.

Karena itu, Kuningan dinilai harus membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas serta daya cipta.

“Kita tidak sedang membangun generasi yang pintar. Kita sedang membangun generasi yang berkarakter, cerdas, berpikir, berdaya cipta, berkreasi dan berprestasi,” tegasnya.

Bupati Dian kemudian secara resmi membuka Festival Literasi Kabupaten Kuningan Tahun 2026.

Ia mengajak guru, pustakawan, orang tua, komunitas, pegiat literasi dan seluruh masyarakat menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum memperkuat budaya membaca secara berkelanjutan.

“Mari kita tenggelam lebih dalam untuk lautan ilmu. Agar dari sana kelak terbit generasi muda yang berprestasi, berkarakter, berbudaya, mencintai Kuningan untuk membangun, mencintai Kuningan untuk lebih maju,” pungkasnya. (Ugi)