
VOXPOPULI.CO.ID – Munculnya istilah “DIRIDHOI” yang mengaitkan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar dengan mantan Wakil Bupati Kuningan M. Ridho Suganda mulai menjadi perhatian publik.
Wacana tersebut berkembang setelah sejumlah momen memperlihatkan komunikasi dan kedekatan antara Dian Rachmat Yanuar dan Ridho Suganda. Sebagian masyarakat kemudian menilai hubungan keduanya berpotensi berkembang menjadi kolaborasi politik pada kontestasi mendatang.
Namun, Ridho memilih tidak terburu-buru menerjemahkan kedekatan tersebut sebagai sinyal politik.
Menurutnya, komunikasi dengan Bupati Dian merupakan bagian dari silaturahmi yang harus terus dijaga. Terlebih, keduanya sama-sama memiliki perhatian terhadap perkembangan Kabupaten Kuningan.
“Pada prinsipnya, silaturahmi dengan siapa pun harus kita jaga dengan baik. Apalagi kita sama-sama memiliki perhatian terhadap Kuningan. Kalau kemudian masyarakat melihat kedekatan tersebut dan memiliki harapan tertentu, tentu saya menghargai itu sebagai sebuah aspirasi,” ujar Ridho kepada vox, Jumat (28/08).

Mantan Wakil Bupati Kuningan itu menilai dinamika politik masih cukup panjang. Karena itu, ia menganggap terlalu dini apabila kedekatan personal maupun komunikasi antartokoh langsung dikaitkan dengan pasangan politik tertentu.
“Soal politik tentu ada mekanisme, ada pertimbangan, dan ada proses yang harus dihormati. Saya kira terlalu dini kalau sekarang sudah berbicara mengenai pasangan atau kontestasi. Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana kita tetap menjaga komunikasi dan memberikan kontribusi yang baik untuk masyarakat,” katanya.
Ridho juga memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Bupati Dian Rachmat Yanuar. Menurutnya, setiap pemimpin memiliki tantangan dan ruang pengabdian masing-masing.
Ia menilai seluruh elemen masyarakat maupun tokoh daerah seharusnya dapat memberikan energi positif untuk pembangunan Kuningan, tanpa harus terjebak dalam perbedaan pilihan politik.
“Kita semua tentu memiliki harapan yang sama, yaitu Kuningan semakin baik. Perbedaan pandangan atau pilihan politik jangan sampai membuat kita kehilangan semangat untuk membangun daerah. Kalau komunikasi dan silaturahmi bisa terus dijaga, saya kira itu sesuatu yang positif,” ungkap Ridho.
Mengenai istilah “DIRIDHOI” yang berkembang di masyarakat, Ridho juga tidak ingin memberikan respons berlebihan. Ia memilih menghargai munculnya aspirasi tersebut, namun menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada masyarakat.
Menurutnya, keputusan politik memiliki tahapan dan mekanisme tersendiri. Karena itu, dirinya tidak ingin mendahului proses yang memang belum waktunya.
“Kalau masyarakat punya harapan, tentu kita hormati. Tapi saya kira biarkan semuanya berjalan sesuai prosesnya. Ada waktunya nanti masyarakat, partai politik, dan para tokoh menentukan sikap. Saya sendiri tidak ingin mendahului sesuatu yang memang belum waktunya,” tuturnya.
Ridho juga mengingatkan agar hubungan baik antartokoh di Kuningan tidak selalu dibaca dalam perspektif politik. Baginya, komunikasi lintas kelompok dan perbedaan pandangan justru penting untuk menjaga suasana daerah tetap kondusif.
“Jangan setiap komunikasi kemudian selalu ditarik ke politik. Kita harus bisa melihatnya lebih luas. Persaudaraan, silaturahmi dan komunikasi yang baik itu penting, siapa pun orangnya dan apa pun latar belakangnya,” kata Ridho.
Meski belum mau berbicara mengenai kemungkinan duet politik, Ridho tidak menutup peluang dirinya kembali terlibat dalam kontestasi politik Kabupaten Kuningan.
Ia menegaskan, selama berkaitan dengan pengabdian kepada masyarakat, dirinya tetap terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Namun, keputusan mengenai bentuk pengabdian, waktu maupun pasangan politik akan dipertimbangkan secara matang.
“Kalau untuk pengabdian kepada masyarakat, tentu prinsipnya saya selalu terbuka. Tetapi mengenai bentuknya seperti apa, kapan waktunya, dan dengan siapa, tentu semuanya ada proses dan pertimbangannya. Kita lihat saja nanti. Yang jelas, saya ingin memberikan yang terbaik untuk Kuningan,” pungkasnya.
Dengan sikap tersebut, wacana “DIRIDHOI” untuk sementara masih berada pada ranah aspirasi masyarakat. Ridho memilih tidak mendahului dinamika politik dan lebih mengutamakan silaturahmi serta komunikasi, sembari menunggu momentum yang tepat.
Bagi Ridho, hubungan baik antartokoh daerah tidak harus selalu dimaknai sebagai kepentingan politik. Namun, ketika momentum politik tiba, ia juga tidak menutup pintu untuk kembali mengabdikan diri kepada masyarakat Kuningan.***












Tinggalkan Balasan