
KUNINGAN, (VOX) – Ratusan alumni lintas generasi menghadiri Reuni Akbar 50 Tahun SMA Kosgoro Kuningan yang digelar di Sanggarriang, Senin (23/3/2026). Mengusung tema “Merenda Kasih Menjalin Silaturahmi”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang refleksi sejarah sekaligus konsolidasi peran alumni bagi pembangunan daerah.
Acara berlangsung khidmat sekaligus hangat, dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, penampilan tarian tradisional Sunda, hingga pemutaran dokumenter perjalanan SMA Kosgoro. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, pemotongan tumpeng, foto bersama, dan ramah tamah antar alumni.
Ketua panitia, Nanang, dalam sambutannya menegaskan bahwa reuni ini menjadi momentum penting untuk menjaga ikatan emosional antar alumni yang telah terbangun selama puluhan tahun. Ia juga mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut didukung oleh berbagai pihak, baik sponsor maupun donasi dari alumni lintas angkatan.
“Reuni Akbar ini kami laksanakan tak lain untuk menjalin silaturahmi. Itu yang utama. Dan alhamdulillah, dukungan dari teman-teman luar biasa,” ujar Nanang.
Ia memaparkan total donasi alumni mencapai Rp18.950.000, sementara kontribusi dari kehadiran peserta sebanyak 466 orang menghasilkan Rp46.600.000. Dengan demikian, total pemasukan sementara mencapai Rp65.550.000, meskipun laporan pengeluaran masih dalam proses.

Lebih jauh, Nanang menyinggung keterlibatan alumni dalam sejarah pembangunan fisik sekolah. Ia menyebut, sejak awal berdiri, para siswa turut berkontribusi dalam pembangunan gedung sekolah.
“Kami ikut mengecor, dari lantai dua sampai lantai tiga. Jadi secara historis, kami punya andil terhadap berdirinya SMA Kosgoro,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Kuningan, Uu Kusmanah, yang mewakili alumni, menekankan bahwa reuni ini bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga potensi besar jejaring alumni sebagai kekuatan sosial.
“Jika dilihat dari perspektif pembangunan, alumni ini adalah aset besar. Ada yang di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan lainnya. Ini kekuatan yang bisa saling menguatkan,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh alumni untuk berkontribusi aktif dalam mendukung program pembangunan daerah, terutama dalam menghadapi tantangan seperti kemiskinan dan pengangguran.
“Kita punya tanggung jawab moral untuk berkontribusi. Tidak harus besar, minimal dari lingkungan terdekat kita,” kata Uu.
Dalam suasana yang penuh keakraban, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sejarah dan identitas almamater, meskipun secara fisik sekolah tersebut sudah tidak lagi beroperasi.
“Walaupun SMA Kosgoro sudah tidak ada, tapi akan dikenang sepanjang masa. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” ujarnya.
Reuni ini juga diwarnai dengan momen haru saat para alumni bersama-sama mendoakan guru-guru yang telah wafat, sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam membentuk karakter dan perjalanan hidup para siswa.
Di tengah suasana Idulfitri, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang saling memaafkan dan memperkuat kembali hubungan yang sempat terpisah oleh waktu. Para alumni berharap reuni tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi berlanjut menjadi gerakan kolektif yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Tidak hanya berkumpul hari ini, ke depan kita harus pikirkan kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat,” ujar Uu.
Reuni 50 tahun ini menjadi penanda bahwa meskipun waktu telah berjalan dan kondisi berubah, ikatan emosional sebagai bagian dari keluarga besar Kosgoro tetap hidup. Bagi para alumninya, Kosgoro bukan sekadar sekolah, melainkan bagian dari identitas yang terus melekat.***









Tinggalkan Balasan