KUNINGAN(VOX) – Isu konservasi Gunung Ciremai kembali mendapat sorotan tajam, kali ini dari kalangan mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan menggelar Diskusi Publik bertajuk “Menjaga Ciremai: Membuka Tabir Konservasi Ciremai”, Sabtu (17/1/2026), di Kopi Hawwu, Kabupaten Kuningan.

Diskusi ini bukan sekadar forum akademik, melainkan menjadi ruang kritik dan refleksi bersama atas arah kebijakan pengelolaan Gunung Ciremai di kawasan konservasi.

Kegiatan yang diinisiasi BEM UNISA 2026 Kabinet Satyagraha tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur Pemerintah Daerah, DPRD, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), aktivis lingkungan, hingga mahasiswa lintas organisasi.

Ketua BEM UNISA Kuningan, Muhammad Saefullah Rohman, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam isu-isu strategis daerah, terutama yang menyangkut lingkungan hidup dan keberlanjutan.

Menurutnya, Gunung Ciremai bukan sekadar aset pariwisata atau simbol geografis, melainkan ruang hidup yang menopang keberlangsungan ekosistem dan kehidupan masyarakat.

“Ketika kepentingan pembangunan mulai masuk ke kawasan konservasi, di situlah suara kritis publik harus hadir. Mahasiswa punya tanggung jawab moral untuk mengawal arah kebijakan agar tidak menyimpang dari prinsip pelestarian,” tegasnya.

Ia menyebutkan, wacana eksplorasi geothermal di kawasan konservasi Ciremai memunculkan banyak pertanyaan mendasar terkait keberpihakan negara terhadap lingkungan, risiko ekologis, serta keadilan bagi masyarakat sekitar.

Mewakili Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, Asisten Daerah (Asda) II Setda Kabupaten Kuningan, Wawan Setiawan, menyampaikan bahwa pemerintah daerah tetap berkomitmen menjaga Gunung Ciremai sebagai kawasan konservasi dengan status Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Ia menjelaskan bahwa sejak 2004, Gunung Ciremai telah ditetapkan sebagai taman nasional, yang merupakan status tertinggi dalam pengelolaan kawasan pelestarian alam.

“Ciremai adalah pusat keanekaragaman hayati dan sumber air utama bagi Kuningan hingga Cirebon. Menjaga Ciremai berarti menjaga masa depan,” ujar Wawan.

Ia menambahkan, Pemkab Kuningan telah menguatkan kebijakan berbasis lingkungan melalui konsep Kabupaten Konservasi, pembangunan hutan kota, serta Kebun Raya Kuningan sebagai kawasan penyangga (buffer zone) ekosistem Ciremai.

Selain membahas kebijakan, diskusi ini juga menyinggung isu pembalakan liar dan pengamanan kawasan. Pemerintah mengklaim bahwa kasus illegal logging di kawasan TNGC relatif kecil dan terus diawasi melalui patroli rutin, meski tantangan pengawasan masih ada, terutama di zona yang beririsan dengan jalur transportasi umum.

Diskusi publik yang berlangsung hingga sore hari ini menjadi ajang dialog terbuka antara narasumber dan peserta, sekaligus menegaskan peran mahasiswa sebagai kontrol sosial dan penjaga nurani kebijakan lingkungan.

Melalui forum ini, BEM UNISA berharap kesadaran kolektif masyarakat semakin tumbuh untuk menempatkan konservasi Gunung Ciremai sebagai prioritas bersama, bukan sekadar wacana sesaat.***