
VOXPOPULI.CO.ID – Perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ciremai belum sepenuhnya usai. Sepuluh relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning menembus medan ekstrem menuju Gunung Dulang untuk menyisir sisa titik api yang masih berpotensi memicu kebakaran kembali.
Misi yang dimulai pada Minggu, 25 Oktober 2026, itu membawa para relawan melewati savana, hutan, hingga bentang bebatuan vulkanik di kawasan yang dikenal masyarakat sebagai Benteng Ciremai. Mereka bahkan harus bermalam tanpa tenda, beralaskan abu sisa kebakaran dan berlindung seadanya di antara bebatuan.
Di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl), para relawan menghadapi suhu dingin, jalur terjal, minimnya sumber air, serta keterbatasan perbekalan. Namun, misi tetap dilanjutkan karena kepulan asap masih terlihat dari kawasan Gunung Dulang, yang berbatasan dengan zona rimba Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar Junar Arif, S.Hut., menyiapkan 10 relawan untuk menjalankan misi penyisiran tersebut. Pemilihan anggota mempertimbangkan ketahanan fisik, pengetahuan medan, serta kesiapan menghadapi risiko perjalanan.
Tim dipimpin Dodo Darsa, relawan MPA asal Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan. Ia sebelumnya menjadi perhatian publik setelah menyelamatkan seekor bayi surili ketika kebakaran berlangsung.

Dodo didampingi Jafar dan sejumlah relawan lain yang mengenal karakter kawasan hutan di sekitar tempat tinggal mereka.
“Kami menyiapkan tim khusus untuk menembus medan ekstrem ini. Dari sejumlah relawan yang menyatakan siap, kami batasi sepuluh orang, juga memperhatikan faktor keselamatan dan logistik,” ungkap Nandar.
Sebelum berangkat, rombongan berkumpul di Bale Kambang, kawasan sekitar Balai Desa Pasawahan yang menjadi pusat komando dan posko penanganan karhutla di bawah kendali BPBD Kuningan hingga Minggu.
Setelah memperoleh informasi bahwa tim yang bertugas di Bukit Seribu Bintang telah turun, para relawan bersiap melakukan penyisiran lanjutan. Kepulan asap yang masih terlihat menjadi perhatian karena diduga berasal dari batang pohon tumbang yang menyimpan bara di bagian dalamnya.
Rombongan berangkat menggunakan kendaraan SUV hingga titik penurunan di kawasan Bukit Seribu Bintang. Di lokasi tersebut, mereka berpapasan dengan tim gabungan yang sebelumnya bertugas, termasuk petugas Balai TNGC, kepolisian, dan relawan lainnya.
Dalam pertemuan itu, mereka bertukar peralatan yang dibutuhkan untuk operasi lapangan, termasuk gergaji mesin atau chainsaw beserta bahan bakarnya.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Dodo memberikan pengarahan dan mengajak seluruh anggota berdoa agar misi berjalan lancar serta semua personel kembali dengan selamat.
Sekitar pukul 17.00 WIB, tim mulai bergerak melintasi savana yang dipenuhi ilalang dan semak setinggi satu hingga dua meter. Ketika matahari mulai tenggelam, para relawan harus mengandalkan cahaya senter untuk meneruskan perjalanan.
Selepas savana, jalur berubah menjadi kawasan hutan yang dikenal warga sebagai Leuweung Saeutik dan Leuweung Panjang. Medan kemudian dipenuhi bebatuan besar, celah, serta semak yang menutupi permukaan tanah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, rombongan mencapai kawasan yang dikenal sebagai pintu masuk Benteng Ciremai. Bentang alamnya berupa bebatuan vulkanik, cekungan, dan dinding batu alami dengan vegetasi yang menghitam akibat kebakaran.
Di antara hamparan abu, beberapa bunga edelweis masih terlihat bertahan. Pemandangan tersebut menjadi pengingat bahwa karhutla bukan hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengancam keseimbangan ekosistem pegunungan.
Perjalanan semakin sulit ketika tim menghadapi tebing dengan kemiringan ekstrem, kerikil lepas, dan semak yang terbakar. Tanpa bantuan tali, para relawan harus mengandalkan kemampuan membaca jalur serta menentukan pijakan dengan hati-hati.
Ketika tengah malam tiba, kondisi jalur belum memungkinkan tim melanjutkan perjalanan dengan aman. Mereka akhirnya beristirahat di kawasan tebing dengan perlengkapan seadanya.
Tidak ada tenda yang dibawa untuk bermalam. Sebagian relawan beristirahat di tempat terbuka, sedangkan yang lain mencari perlindungan di celah bebatuan atau di bawah batu besar. Dua orang diketahui bermalam di sekitar Gunung Dulang, di antara pepohonan yang masih bertahan setelah kebakaran.
Udara dingin, tubuh yang kelelahan, serta keterbatasan perbekalan menjadi tantangan tersendiri. Tidak adanya sumber air yang dapat diandalkan membuat para relawan harus menghemat persediaan minum yang dibawa sejak awal perjalanan.
Meski begitu, mereka tetap bersiap melanjutkan penyisiran pada Senin pagi, 26 Oktober 2026.
Pada Senin pagi, tim kembali bergerak menyisir kawasan Gunung Dulang. Kepulan asap masih terlihat dari puncak bukit, sementara dua titik asap lainnya terpantau di perbatasan Benteng Ciremai dan Gunung Dulang.
Dodo kemudian membagi 10 anggota menjadi dua kelompok untuk memeriksa titik asap yang berbeda.
Kelompok pertama mendaki menuju puncak Gunung Dulang melalui jalur dengan kemiringan lebih dari 50 derajat. Di lokasi itu, mereka menemukan pohon tumbang yang masih menyimpan bara di bagian batangnya.
Sementara itu, kelompok kedua menemukan sumber asap serupa di dua titik lain. Bara berasal dari bagian dalam batang pohon berdiameter besar yang masih menyimpan panas meskipun api terbuka telah padam.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, para relawan memotong bagian batang yang terbakar dan memecahnya agar bara di bagian dalam dapat dijangkau. Upaya pemadaman dilakukan menggunakan peralatan yang tersedia di lapangan.
Proses tersebut berlangsung sekitar dua jam hingga menjelang tengah hari.
Bara di dalam batang pohon menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla. Jika tidak ditemukan dan dipadamkan secara menyeluruh, panas yang tersisa berpotensi menyulut vegetasi kering di sekitarnya dan memicu kebakaran kembali.
Di tengah proses penyisiran, kabut putih perlahan menyelimuti kawasan Gunung Dulang. Pada saat yang sama, persediaan air bersih para relawan mulai menipis setelah perjalanan panjang dan pekerjaan berat di medan berbatu.
Sekitar tengah hari, suara helikopter terdengar dari kejauhan. Helikopter tersebut tampak berputar di sekitar kawasan Bukit Seribu Bintang sebelum akhirnya menjauh.
Tak lama kemudian, gerimis mulai turun. Para relawan menyambutnya dengan penuh harapan karena hujan dapat membantu mendinginkan kawasan bekas kebakaran.
Saat rombongan mulai menuruni Benteng Ciremai, hujan cukup deras mengguyur kawasan tersebut selama sekitar 20 menit. Air hujan bahkan ditampung menggunakan jas hujan untuk membantu memenuhi kebutuhan minum.
Bagi para relawan yang sejak malam sebelumnya bertahan di kawasan kering tanpa sumber air, turunnya hujan menjadi kelegaan tersendiri.
Dodo mengungkapkan bahwa tim semula berencana melanjutkan penyisiran hingga Selasa apabila masih ditemukan potensi titik api.
“Tadinya kami akan berusaha menyisir lagi potensi titik api. Kami siap bermalam untuk melanjutkan penyisiran hingga Selasa. Karena jika kawasan tersebut terbakar, api akan mengarah ke zona rimba dan inti. Tentunya sangat sulit dipadamkan seperti peristiwa pada 2019. Alhamdulillah ada hujan turun sehingga kami memutuskan untuk kembali ke pos Bukit Seribu Bintang,” ungkap Dodo.
Setelah mempertimbangkan kondisi lapangan dan turunnya hujan, tim memutuskan kembali ke pos Bukit Seribu Bintang. Meski demikian, pemantauan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang kembali memicu kebakaran.
Sebagian besar anggota MPA berasal dari desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNGC di Kecamatan Pasawahan. Kedekatan dengan hutan membuat mereka terbiasa mengenali jalur, bentang alam, dan sejumlah penanda yang membantu perjalanan.
Pengetahuan lokal tersebut menjadi bekal penting ketika para relawan harus bergerak di kawasan yang sulit dijangkau. Namun, pengalaman mengenali medan tetap harus diimbangi dengan kesiapan fisik, peralatan yang memadai, serta pertimbangan keselamatan.
Nandar mengapresiasi para anggota MPA yang bersedia menjalankan misi di tengah keterbatasan dan medan ekstrem. Menurutnya, upaya menjaga Ciremai membutuhkan keterlibatan bersama masyarakat, petugas taman nasional, pemerintah, dan unsur terkait.
Perjuangan para relawan tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga upaya melindungi habitat satwa dan berbagai jenis tumbuhan yang hidup di kawasan pegunungan tersebut.
Di balik operasi pemadaman berskala besar, penyisiran bara tersembunyi merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, ketekunan, dan pengetahuan lapangan.
Perjalanan menuju Gunung Dulang juga menjadi pengalaman langsung bagi jurnalis Kuningan, Bubud Sihabudin, yang mengikuti rombongan untuk menyaksikan upaya relawan menyisir titik asap.
Medan terjal sepanjang perjalanan menyebabkan sejumlah luka lecet dan lebam. Ketika menuruni kawasan savana menuju shelter Bukit Seribu Bintang, Bubud mendapat bantuan dari relawan yang menggunakan tandu untuk membantunya melewati sebagian jalur.
Dalam perjalanan tersebut, Bubud juga menemukan benda yang disebut sebagai selongsong peluru berukuran besar di sekitar Benteng Ciremai. Pada benda itu, menurut keterangan dalam laporan perjalanan, tidak ditemukan informasi merek atau pabrikan yang dapat dikenali.
Selongsong tersebut kemudian diserahkan kepada pihak paguyuban untuk dilaporkan kepada pihak berwenang, termasuk pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai.
Asal-usul, jenis, dan karakteristik benda tersebut belum diketahui sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Setelah seluruh anggota rombongan kembali ke kawasan Bukit Seribu Bintang, hujan kembali mengguyur wilayah tersebut pada Senin sore.
Bagi MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, misi di Gunung Dulang menjadi salah satu pengalaman yang membekas dalam upaya membantu penanganan karhutla Ciremai.
Di balik hamparan abu, tebing batu, dan batang pohon yang masih menyimpan bara, terdapat warga yang memilih bergerak untuk membantu melindungi hutan.
Mereka datang dari desa-desa sekitar Ciremai, membawa pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman hidup berdampingan dengan alam. Dengan keterbatasan peralatan dan medan yang sulit, mereka berupaya memastikan sisa kebakaran tidak kembali menjadi ancaman bagi kawasan hutan.
Perjuangan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga Gunung Ciremai membutuhkan kerja sama berbagai pihak dan pemantauan berkelanjutan, terutama setelah api terbuka berhasil dikendalikan.
(UGI)












Tinggalkan Balasan