VOXPOPULI.CO.ID Pimpinan Anak Cabang (PAC) PSNU Pagar Nusa Ciawigebang menggelar Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) di Gedung IPHI Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Minggu (18/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kaderisasi untuk mempersiapkan calon pelatih sekaligus melahirkan generasi pesilat yang tangguh, berprestasi, dan berakhlakul karimah.

Pelaksanaan UKT tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan bela diri, tetapi juga menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, adab, dan komitmen dalam meneruskan pembinaan di lingkungan PSNU Pagar Nusa.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan mampu menjadi kader yang siap mengemban amanah organisasi, menjaga nilai-nilai luhur Pagar Nusa, serta mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya.

Ketua Pelaksana kegiatan, Yusuf, menegaskan bahwa pembinaan di Pagar Nusa PAC Ciawigebang tidak semata-mata bertujuan mencetak pesilat yang tangguh dan berprestasi. Lebih dari itu, organisasi juga berupaya mempersiapkan kader yang kelak mampu menjadi pelatih dan melanjutkan proses pembinaan.

Menurutnya, ilmu yang diperoleh para peserta harus terus dikembangkan dan diwariskan agar memberikan manfaat bagi generasi selanjutnya.

“Tujuan kami di Pagar Nusa PAC Ciawigebang bukan hanya menjadikan kalian sebagai pesilat yang tangguh dan berprestasi, tetapi juga mempersiapkan kalian untuk menjadi pelatih-pelatih di masa yang akan datang. Kami tidak ingin ilmu yang kalian dapatkan berhenti pada diri sendiri. Kami ingin ilmu itu terus berkembang, diwariskan, dan diajarkan kembali kepada generasi berikutnya,” ujar Yusuf.

Ia juga mengingatkan peserta agar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, menghormati pelatih, menjaga adab dan tata krama, serta terus meningkatkan kemampuan diri.

Yusuf menilai, calon pelatih harus memiliki kualitas yang lebih dari sekadar penguasaan teknik bela diri. Mereka juga dituntut mampu menjadi teladan melalui sikap, perilaku, dan tanggung jawab dalam membina anggota.

“Calon pelatih yang baik bukan hanya mereka yang hebat dalam gerakan, tetapi juga mereka yang mampu menjadi teladan dalam sikap dan perilaku. Hari ini kalian belajar dari pelatih, esok hari kalian akan menjadi pelatih bagi generasi selanjutnya. Jangan hanya bercita-cita menjadi pesilat yang hebat, tetapi bercita-citalah menjadi pelatih yang mampu melahirkan pesilat-pesilat hebat berikutnya,” tambahnya.

Sementara itu, Camat Ciawigebang, Raden Imam Reapdiantoro, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa Pagar Nusa bukan sekadar tempat untuk mempelajari ilmu bela diri. Menurutnya, pembinaan dalam organisasi tersebut juga menitikberatkan pada penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) serta pembentukan akhlak dan kesantunan.

Ia menjelaskan tiga nilai utama yang perlu dijaga oleh setiap anggota Pagar Nusa, yakni kemampuan bela diri untuk menjaga diri dan bangsa, penguatan akidah Aswaja, serta sikap santun yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan pesantren.

“Pagar Nusa ini bukan hanya sekadar belajar ilmu bela diri biasa. Ada tiga hal yang selalu diajarkan. Pertama, jago silatnya untuk menjaga diri dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedua, Pagar Nusa selalu memperkuat akidah Aswajanya, karena setiap gerakan diawali dengan doa. Ketiga, Pagar Nusa selalu mengajarkan sikap santun sesuai dengan ajaran para kiai di pesantren,” ungkapnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa pembinaan pesilat perlu berjalan seimbang antara kemampuan fisik, penguatan nilai keagamaan, dan pembentukan karakter.

Dengan demikian, anggota Pagar Nusa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan bela diri, tetapi juga mampu menjaga perilaku serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Camat Ciawigebang juga berpesan kepada para pelatih dan seluruh anggota agar senantiasa menjaga kerendahan hati meskipun memiliki kemampuan dan pengalaman yang tinggi.

Menurutnya, semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga sikap, menghormati sesama, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Pesan dari Kecamatan Ciawigebang untuk para pelatih dan seluruh anggota, jadilah pendekar yang tawadhu. Semakin tinggi ilmu dan kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga sikap, menghormati sesama, serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Nilai tawadhu atau rendah hati menjadi salah satu landasan penting dalam membentuk karakter seorang pendekar. Prestasi dan kemampuan bela diri perlu diiringi dengan akhlak yang baik, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap guru dan sesama.

Karena itu, keberhasilan seorang pesilat tidak hanya diukur dari penguasaan teknik atau pencapaian prestasi, tetapi juga dari perilaku dan kontribusinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui kegiatan Ujian Kenaikan Tingkat ini, PSNU Pagar Nusa PAC Ciawigebang berharap dapat melahirkan kader yang mandiri, amanah, istiqamah, serta siap melanjutkan estafet perjuangan organisasi.

Regenerasi pelatih dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pembinaan. Dengan adanya kader yang dipersiapkan untuk meneruskan tugas para pelatih, proses transfer ilmu dan penanaman nilai organisasi diharapkan dapat berjalan secara berkesinambungan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi penegasan komitmen Pagar Nusa dalam membentuk generasi muda yang tangguh dalam bela diri, kuat dalam akidah Aswaja, santun dalam perilaku, dan memiliki semangat pengabdian kepada agama, bangsa, serta organisasi.

Pagar Nusa PAC Ciawigebang berharap para peserta UKT mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh, menjaga nama baik organisasi, dan kelak menjadi pelatih yang tidak hanya melahirkan pesilat berprestasi, tetapi juga generasi penerus yang berilmu dan berakhlak mulia.

Dengan demikian, UKT bukan sekadar tahapan kenaikan tingkat, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan kaderisasi untuk memastikan perjuangan serta nilai-nilai luhur Pagar Nusa terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

(UGI)