VOXPOPULI.CO.ID Pelestarian lingkungan dan penguatan budaya lokal menjadi pesan utama dalam Gelar Budaya Sedekah Bumi di Desa Wisata Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Sabtu (17/10/2026). Tradisi tahunan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap alam sekaligus mendorong pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., yang hadir dalam kegiatan itu, mengingatkan masyarakat agar tidak memandang alam sebagai sesuatu yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Menurutnya, lingkungan merupakan titipan yang harus dijaga untuk menjamin kehidupan generasi mendatang.

“Bumi, langit, pohon, dan air bukanlah warisan. Ini adalah titipan yang harus kita titipkan kembali kepada anak cucu kita,” tegas Dian di hadapan masyarakat, pemangku adat, dan tamu undangan.

Ia mengingatkan bahwa kelestarian lingkungan saat ini akan menentukan kualitas hidup masyarakat pada masa depan. Karena itu, ketersediaan udara bersih dan air jernih harus tetap terjaga agar tidak menjadi sesuatu yang sulit diperoleh oleh generasi berikutnya.

Bupati Dian menjelaskan, Sedekah Bumi memiliki nilai spiritual yang perlu dipahami secara mendalam. Tradisi tersebut bukan berarti manusia memberikan sesuatu kepada bumi sebagai sumber rezeki, melainkan menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT sebagai pemberi rezeki.

Melalui tradisi ini, masyarakat diharapkan semakin menyadari keterbatasan manusia dalam mengendalikan alam. Manusia tidak dapat menentukan hujan turun sesuai keinginan, tetapi memiliki tanggung jawab untuk merawat lingkungan agar keseimbangan alam tetap terjaga.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari, mulai dari menjaga sumber air, merawat pepohonan, hingga membangun kesadaran bersama untuk tidak merusak lingkungan.

Selain menyoroti pelestarian alam, Dian mengapresiasi perkembangan Desa Wisata Cibuntu yang dinilai berhasil mengubah potensi wilayah menjadi kekuatan pariwisata.

Ia mengenang kondisi Cibuntu pada masa lalu yang dikenal sebagai kawasan galian dengan lingkungan yang panas. Berkat kerja keras para kepala desa terdahulu, sesepuh, serta partisipasi masyarakat, desa tersebut kini berkembang menjadi destinasi wisata yang memiliki daya tarik hingga tingkat internasional.

Dian berharap pencapaian tersebut dapat terus dipertahankan melalui pengelolaan pariwisata yang mengutamakan kelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap tradisi setempat.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga nilai-nilai luhur budaya Sunda, yakni silih asah, silih asih, silih asuh. Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya saling mencerdaskan, menyayangi, dan membimbing satu sama lain.

Selain itu, prinsip someah hade ka semah atau ramah terhadap tamu perlu terus diterapkan, terutama dalam menyambut wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Cibuntu.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Dian turut menyampaikan rencana penyelenggaraan ajang lari lintas alam atau trail run bertaraf internasional di Kabupaten Kuningan pada awal 2027.

Desa Wisata Cibuntu disebut telah ditunjuk sebagai salah satu rute utama yang akan dilintasi dalam kegiatan tersebut. Rencana ini diharapkan membuka peluang untuk memperkenalkan potensi alam dan pariwisata Kuningan kepada peserta dari berbagai daerah maupun mancanegara.

Keterlibatan Cibuntu dalam agenda olahraga tersebut juga menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan sektor ekonomi lokal melalui layanan wisata, produk UMKM, kuliner, serta potensi usaha lainnya.

Meski demikian, pengembangan kegiatan pariwisata perlu diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang baik agar peningkatan kunjungan tidak mengurangi kualitas alam dan kehidupan masyarakat setempat.

Dian menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan daerah tidak cukup diukur dari pembangunan fisik semata. Menurutnya, pembangunan harus mampu menghadirkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi masyarakat.

“Pembangunan sejatinya bukan hanya sekadar berbicara soal jalan yang mulus saja, atau gedung yang megah saja. Pembangunan sejatinya adalah bisa menghadirkan senyuman masyarakatnya, mereka merasa bahagia, dan terperhatikan,” tuturnya.

Ia berharap Cibuntu dapat terus menjadi contoh pengembangan desa wisata yang mampu menjaga kelestarian alam sekaligus memperkuat identitas budaya dan perekonomian masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Cibuntu, Dadi Kurniadi, menjelaskan bahwa Sedekah Bumi di desanya memiliki makna filosofis yang disebut Sabumi.

Menurut Dadi, istilah tersebut terdiri atas kata Sa yang berarti satu dan Bumi yang berarti hamparan atau wadah. Filosofi Sabumi menggambarkan bahwa seluruh manusia hidup dalam satu ruang kehidupan dan memiliki keterkaitan satu sama lain.

“Tradisi Sabumi ini diselenggarakan sebagai bukti pengakuan bahwa semua manusia itu berada dalam satu wadah, tercipta dari asal-usul yang sama, mengonsumsi pangan dan papan dari bahan yang sama, dan akan kembali ke tempat yang sama sesuai asal-usulnya,” jelas Dadi.

Ia berharap tradisi tersebut dapat memperkuat solidaritas antarmanusia sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui Gelar Budaya Sedekah Bumi, masyarakat Desa Wisata Cibuntu tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial, kelestarian alam, dan perkembangan ekonomi.

Tradisi Sabumi diharapkan terus menjadi pengingat bahwa kemajuan desa wisata harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan tanggung jawab terhadap bumi sebagai ruang hidup bersama.

(UGI)