VOXPOPULI.CO.ID – Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan telah menuntaskan proses asesmen lapangan akreditasi perguruan tinggi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kini, pihak kampus tinggal menunggu hasil resmi yang diperkirakan keluar dalam waktu sekitar dua pekan.

Rektor UNISA Kuningan, Dr. Nurul Iman Hima Amrullah, S.Ag., M.Si., mengatakan seluruh rangkaian asesmen berjalan lancar. Proses tersebut melibatkan asesor yang berasal dari Universitas Negeri Padang, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

“Alhamdulillah proses akreditasi perguruan tinggi untuk UNISA Kuningan berjalan dengan lancar. Seluruh instrumen yang diminta oleh SAPTO BAN-PT bisa dipenuhi oleh tim akreditasi UNISA Kuningan,” ujar Rektor UNISA kepada VOX melalui pesan WhatsApp, Rabu (07/10/2026).

Menurutnya, salah satu poin yang mendapat perhatian positif dari tim asesor adalah keberadaan dan kontribusi alumni UNISA di tengah masyarakat. Hal tersebut terlihat ketika asesor melakukan wawancara terhadap alumni maupun pengguna lulusan.

“Ketika asesor mewawancarai pengguna lulusan dan alumni, alhamdulillah mendapat apresiasi yang baik karena alumni mampu berperan penting di tengah masyarakat,” katanya.

Dalam proses tersebut, sejumlah pengguna lulusan turut memberikan keterangan mengenai kiprah alumni UNISA. Para alumni diketahui telah bekerja di berbagai sektor, mulai dari tenaga pendidik hingga tenaga kesehatan di sejumlah puskesmas dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Meski seluruh data telah disajikan secara maksimal, Rektor UNISA tidak ingin mendahului keputusan BAN-PT mengenai hasil akhir akreditasi. Menurutnya, keputusan tersebut tetap harus melalui mekanisme dan sidang di BAN-PT.

“Tim akreditasi perguruan tinggi UNISA berupaya menyajikan data terbaik. Adapun masalah hasil, karena harus diputus melalui sidang dewan akreditasi BAN-PT, kita sepenuhnya siap menerima,” ungkapnya.

Rektor juga menjelaskan adanya perubahan dalam sistem penilaian akreditasi perguruan tinggi. Jika sebelumnya masyarakat mengenal peringkat A, B dan C, kemudian berubah menjadi Baik, Baik Sekali dan Unggul, sistem penilaian saat ini menggunakan status Tidak Terakreditasi, Terakreditasi dan Unggul.

Menurutnya, akreditasi tidak semata-mata berbicara mengenai predikat institusi. Proses tersebut juga berkaitan dengan jaminan mutu, legalitas penyelenggaraan pendidikan tinggi serta kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi.

“Bagi mahasiswa, selain keilmuan, kompetensi pribadi juga harus terus ditingkatkan. Bagi masyarakat diharapkan bahwa dengan proses akreditasi perguruan tinggi ini maka perguruan tinggi memiliki legalitas yang lebih dapat dipercaya karena sudah diberikan wewenang oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi dan diakui dalam proses penerbitan ijazah dan proses pembentukan sumber daya manusia yang unggul,” jelasnya.

UNISA Kuningan pun tidak ingin menjadikan hasil akreditasi sebagai titik akhir. Rektor menilai asesmen lapangan justru menjadi momentum bagi institusi untuk memetakan keunggulan sekaligus menemukan berbagai kelemahan yang harus diperbaiki.

“Dalam akreditasi dikenal assessment lapangan. Artinya bukan penilaian yang diutamakan, tetapi menemukan titik keunggulan dan titik kelemahan yang direkomendasikan oleh para asesor. Sehingga catatan itulah yang menjadi konsen perguruan tinggi untuk lebih bisa berkembang ke depan,” tuturnya.

Ia menyebut proses akreditasi yang dilakukan secara periodik menjadi salah satu barometer bagi perguruan tinggi untuk melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Terlebih, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan menuntut perguruan tinggi terus menyesuaikan kualitas pendidikan serta kompetensi lulusannya.

“Rutinitas lima tahunan proses akreditasi ini menjadi barometer bagi institusi untuk terus memperbaiki diri. Perbaikan kompetensi lulusan dari tahun ke tahun diharapkan bisa mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan teknologi karena ilmu pengetahuan berkembang secara dinamis,” pungkas Rektor UNISA Kuningan. (Ugi)