KUNINGAN, (VOX) – Program Studi Administrasi Publik FISIP Universitas Pasundan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertema penguatan koperasi peternakan melalui pengelolaan kotoran hewan atau KOHE, Senin (11/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel kawasan Sangkanhurip tersebut diikuti para penyuluh pertanian dan peternakan, pengurus koperasi, peternak sapi perah, hingga kelompok tani dari berbagai wilayah di Kabupaten Kuningan.

Program ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem peternakan berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah ternak menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

Ketua pelaksana kegiatan, Prof. Dr. Lia Muliawaty, M.Si., menjelaskan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas internasional diperlukan untuk memperkuat kapasitas koperasi peternakan di daerah.

Menurutnya, pengelolaan limbah peternakan tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan semata, tetapi harus diubah menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Sementara itu, Kaprodi Administrasi Publik FISIP Unpas, Dr. Ine Mariane, M.Si., menilai pengelolaan KOHE kini menjadi bagian penting dalam pembangunan sektor peternakan modern.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkuat kapasitas koperasi peternakan agar tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga memiliki sistem pengelolaan lingkungan yang baik dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kuningan, H. Toni Kusumanto, AP., M.Si., memaparkan perkembangan koperasi peternakan sapi perah di Kuningan selama tahun 2025.

Ia menyebut jumlah anggota aktif koperasi terus bertambah dan produksi susu mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Selain produksi susu, sektor pakan ternak dan layanan kesehatan hewan juga menunjukkan perkembangan positif.

“Koperasi saat ini tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi anggota, tetapi juga menjadi motor peningkatan kesejahteraan peternak sapi perah di Kabupaten Kuningan,” kata Toni.

Selain mendukung produktivitas peternak, koperasi juga dinilai memiliki peran penting dalam mendukung program lingkungan hidup melalui pengelolaan limbah ternak yang lebih modern.

Kepala Bidang Pengendalian, Pemulihan, dan Penegakan Hukum Lingkungan DLH Kabupaten Kuningan, Rismunandar, S.Hut., M.Si., mengatakan limbah peternakan kini dapat diolah menjadi pupuk organik dan produk ramah lingkungan lainnya.

Menurutnya, pengelolaan KOHE mampu membantu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar peternakan.

“Pengelolaan KOHE menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran limbah peternakan sekaligus mendukung ekonomi hijau berbasis masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut juga hadir narasumber internasional asal Filipina, Prof. Dr. Norberto Paranga Jr., Ph.D., D.Hum., D.Litt., yang memberikan pemaparan secara virtual melalui Zoom Meeting.

Ia menjelaskan bahwa di Filipina, kotoran hewan telah dimanfaatkan menjadi biogas rumah tangga untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap gas elpiji. Selain itu, hasil pengolahan limbah juga dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk cair, pupuk padat, hingga briket bahan bakar alternatif.

Menurut Norberto, pengembangan teknologi pengelolaan limbah berbasis komunitas dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus membantu menjaga keseimbangan lingkungan.

“Pengelolaan KOHE yang tepat dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi berkelanjutan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, koperasi, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan pengelolaan lingkungan di era modern.

Program penguatan koperasi peternakan melalui pengelolaan KOHE tersebut dinilai sejalan dengan visi pembangunan daerah “Kuningan Melesat”, khususnya dalam mendorong ekonomi hijau dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam daerah.***