
KUNINGAN, (VOX) – Proyek Tembok Penahan Tanah (TPT) irigasi yang baru selesai dikerjakan di Blok Cikalapa, Desa Baok, Kecamatan Ciwaru, Kabupaten Kuningan, kembali menjadi sorotan setelah ambruk pada Rabu (19/11/2025) sekitar pukul 17.20 WIB. Insiden ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat terkait kualitas pembangunan infrastruktur irigasi di wilayah selatan Kuningan.
TPT yang berada di jalur irigasi berhulu dari Blok Cinangka Dua itu runtuh total setelah wilayah tersebut diguyur hujan intensitas tinggi selama hampir dua jam. Lokasi kejadian berada di Dusun Pahing RT 012 RW 004, area yang dikenal memiliki aliran air cukup aktif terutama saat musim hujan.
Warga menyayangkan runtuhnya TPT yang diketahui baru beberapa waktu selesai dikerjakan. Proyek yang disebut berada di bawah penanganan BBWS ini diharapkan memperkuat aliran irigasi dan mencegah erosi, namun justru gagal bertahan menghadapi hujan pertama dengan debit besar.
“Baru aja dibangun. Hujan gede sehari langsung runtuh. Kan aneh,” ujar seorang warga yang ditemui di lokasi.
Menurut laporan yang masuk pada pukul 18.00 WIB, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun kerusakan total pada struktur membuat aliran irigasi terhambat dan dikhawatirkan akan berdampak pada lahan pertanian dalam beberapa hari ke depan jika tidak segera ditangani.

Di lokasi reruntuhan, sejumlah warga langsung melakukan pengecekan visual terhadap material konstruksi. Mereka mencatat beberapa kejanggalan yang memicu dugaan bahwa kualitas pengerjaan tidak maksimal.
“Batu-batuna siga teu ngahiji. Seménna saeutik pisan jiganateh,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Keterangan itu muncul dari pola pecahan yang terlihat batu yang tidak menempel kuat, susunan yang tampak renggang, serta permukaan semen yang tipis pada beberapa bagian. Bagi warga yang terbiasa dengan pekerjaan konstruksi sederhana, kondisi ini dianggap tidak lazim untuk proyek berskala irigasi.
Selain kualitas struktur, masyarakat juga mempertanyakan proses pengerjaan dan pihak yang bertanggung jawab. Beberapa warga menyebut bahwa pemborong yang menggarap proyek tersebut berasal dari wilayah Kuningan Timur.
Walaupun belum ada pernyataan resmi dari BBWS terkait nama kontraktor pelaksana, informasi ini beredar luas dan memperkuat dorongan warga agar dilakukan audit menyeluruh terhadap proyek tersebut.
Pada Kamis (20/11/2025) pukul 09.00 WIB, anggota Koramil 1505/Ciwaru yang dipimpin Sertu Wawan, Babinsa Desa Baok dan Garajati, melakukan pengecekan ke lokasi. Peninjauan ini dilakukan bersama perwakilan BBWS, untuk memeriksa kondisi teknis dan mengumpulkan informasi lapangan.
Dalam laporan resmi, Sertu Wawan menyampaikan bahwa kegiatan berlangsung aman dan tertib. Pemeriksaan dilakukan mulai dari bagian pondasi, sisa material, hingga analisis awal penyebab keruntuhan.
Kehadiran BBWS menunjukkan bahwa pemerintah pusat melalui balai terkait mulai merespons laporan warga, meski informasi lanjutan mengenai langkah perbaikan masih menunggu keputusan teknis.
Hingga Kamis sore, belum ada tindakan konstruksi di lokasi. Struktur dibiarkan dalam kondisi terbuka, sementara aliran air mengalir langsung ke area longsoran. Warga khawatir jika kondisinya dibiarkan lebih lama, kerusakan dapat melebar dan mengancam lahan pertanian.
“Leuwih gancang dibenerkeun, leuwih sae. Lamun hujan deui mah bisa tambah jebol sisi séjén,” ujar salah satu warga.
Masyarakat Baok berharap BBWS dan pemerintah daerah mengambil langkah cepat, termasuk evaluasi penuh kualitas pekerjaan, memastikan asal-usul pelaksana proyek, membuka informasi kepada publik, serta melakukan perbaikan permanen yang sesuai standar teknis.
Bagi warga, TPT bukan sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari sistem irigasi yang menentukan keberlangsungan pertanian mereka.***












Tinggalkan Balasan