
VOXPOPULI.CO.ID – Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Lebakwangi terus berupaya meningkatkan kemampuan dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya melalui Uji Kompetensi Penyuluh Agama Islam tingkat Kabupaten Kuningan yang digelar pada 14–16 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuningan itu menguji sejumlah kemampuan penting para penyuluh. Mulai dari penguasaan kitab kuning, Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ), hingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI) berbahasa Arab.
Uji kompetensi tersebut menjadi kesempatan bagi para penyuluh untuk mengevaluasi kemampuan sekaligus mengetahui bagian-bagian yang masih perlu ditingkatkan. Dengan begitu, pelayanan dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat diharapkan semakin berkualitas.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuningan, H. Saepulloh, mengatakan bahwa penyuluh agama tidak hanya dituntut memiliki kemampuan keilmuan, tetapi juga harus menjaga integritas moral dalam menjalankan tugasnya.
Menurutnya, kompetensi penyuluh mencakup dua aspek, yakni kemampuan yang terlihat melalui penguasaan keilmuan dan kemampuan yang tidak terlihat secara langsung, seperti sikap, integritas, serta ketulusan dalam mengabdi.

“Kompetensi itu ada dua, ada kompetensi yang nampak dan ada kompetensi yang tidak nampak. Kami berharap para Penyuluh Agama Islam dapat terus meningkatkan kompetensinya dan menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Saepulloh.
Ia juga mengingatkan para penyuluh agar menjadikan prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama, sebagai pedoman dalam menjalankan tugas.
Sementara itu, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Lebakwangi, H. Rudi Rahmat, menyebut uji kompetensi tersebut bukan sekadar kegiatan untuk mengukur kemampuan peserta. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kekurangan.
Ia menjelaskan bahwa tugas penyuluh di lapangan memiliki tantangan tersendiri. Selain harus memahami materi keagamaan secara mendalam, penyuluh juga dituntut teliti dalam membaca literatur klasik Islam atau kitab kuning serta sabar saat mendampingi masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan.
“Uji kompetensi ini bukan sekadar mengukur kemampuan, tetapi juga menjadi bahan evaluasi dan motivasi untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, serta memperbaiki kekurangan yang masih saya miliki,” ujar Rudi Rahmat.
Ia menambahkan, tugas penyuluh agama tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan berbicara atau menyampaikan materi. Penyuluh juga perlu terus memperbarui pengetahuan agar bisa memberikan bimbingan keagamaan yang sejuk, tepat, dan dapat dipercaya masyarakat.
Keikutsertaan jajaran Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Lebakwangi dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme dan kualitas sumber daya manusia di bidang bimbingan masyarakat Islam.
Dengan peningkatan kompetensi yang berkelanjutan, para penyuluh diharapkan semakin siap menjalankan tugas pembinaan keagamaan serta memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat di wilayah masing-masing.
(UGI)









Tinggalkan Balasan