VOXPOPULI.CO.ID— Pasar Renteng di Blok Cibogo, Desa Kadugede, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, tak sekadar menjadi tempat transaksi jual beli. Pasar yang digelar rutin setiap minggu pertama setiap bulan ini juga menjadi ruang pelestarian budaya, silaturahmi, sekaligus penguatan ekonomi lokal.

Hal itu terlihat saat Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. mengunjungi Pasar Renteng, Minggu (4/10/2026). Kedatangan Bupati disambut pertunjukan pencak silat dan lantunan Goong Renteng, alat musik tradisional yang disebut telah berusia sekitar 500 tahun.

Kehadiran Bupati Dian menjadi momentum untuk melihat langsung potensi budaya, kreativitas masyarakat serta aktivitas ekonomi yang berkembang melalui inisiatif warga setempat.

Dalam kunjungan tersebut, Bupati didampingi Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagperin) Kabupaten Kuningan, sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Kuningan serta Kepala Desa Kadugede.

Bupati Dian mengaku terkesan melihat antusiasme masyarakat yang datang ke Pasar Renteng. Menurutnya, pengunjung tidak hanya berasal dari Desa Kadugede maupun Kecamatan Kadugede, tetapi juga dari berbagai wilayah lain di Kabupaten Kuningan.

“Pas masuk ke sini, saya agak kaget. Ternyata yang hadir bukan hanya dari Desa Kadugede, bahkan bukan hanya dari Kecamatan Kadugede. Ada yang dari Jalaksana, Cilimus, bahkan dari Garawangi,” kata Bupati Dian.

Menurutnya, banyaknya pengunjung menunjukkan bahwa Pasar Renteng memiliki daya tarik tersendiri.

Konsep pasar tradisional yang dipadukan dengan kearifan lokal, seni, budaya, kerajinan serta kuliner khas membuat Pasar Renteng memiliki karakter berbeda dibandingkan pasar pada umumnya.

Bupati Dian menilai pasar tersebut dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan masyarakat.

“Ini bukan hanya tempat untuk jajan atau jual beli. Di sini tempat kita bersilaturahmi, tempat kita menumbuhkan nilai-nilai tradisi, dan tempat kita juga untuk memberdayakan ekonomi lokal yang akhirnya untuk menyejahterakan masyarakat,” tuturnya.

Selain aktivitas perdagangan, Bupati Dian memberikan perhatian terhadap beragam produk lokal yang ditampilkan masyarakat.

Mulai dari kerajinan, kesenian, tradisi, budaya hingga berbagai panganan tradisional dapat ditemukan di Pasar Renteng.

Sejumlah kuliner yang dicicipi Bupati di antaranya bubur hanjeli, pais lauk baung, adas, colenak dan berbagai makanan khas lainnya.

“Ini lengkap, ada kerajinan, ada seni, ada tradisi, ada budaya, ada panganan khas. Saya tadi alhamdulillah mencoba berbagai makanan yang ada,” ujarnya.

Menurut Bupati, kekayaan kuliner dan produk lokal tersebut harus terus diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Dengan demikian, produk lokal bukan hanya mampu meningkatkan aktivitas ekonomi pelaku usaha, tetapi juga dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata Kabupaten Kuningan.

Salah satu perhatian utama Bupati Dian dalam kunjungannya adalah keberadaan Goong Renteng.

Alat musik tradisional tersebut disebut telah berusia sekitar 500 tahun dan masih digunakan dalam kegiatan masyarakat.

Bupati menilai Goong Renteng merupakan bagian penting dari warisan budaya yang harus mendapatkan perhatian serius dalam hal perawatan dan pelestarian.

“Kita punya Goong Renteng yang usianya sampai 500 tahun. Masih ada dan masih digunakan. Ke depan harus dimuseumkan, direnovasi, dan dirawat,” ujar Bupati Dian.

Ia mendorong agar Goong Renteng asli mendapatkan perlindungan dan perawatan yang memadai.

Sementara untuk kegiatan pertunjukan rutin, pemerintah daerah dapat mempertimbangkan penggunaan replika sehingga aktivitas pelestarian budaya tetap berjalan tanpa mengurangi upaya menjaga benda pusaka.

Keberadaan Goong Renteng juga dinilai menjadi salah satu keunikan yang membuat Pasar Renteng memiliki identitas kuat.

Bupati Dian juga berpesan agar pengelola dan masyarakat terus mengembangkan Pasar Renteng secara berkelanjutan.

Menurutnya, pengembangan kawasan tidak cukup hanya mengandalkan potensi fisik. Sumber daya manusia yang mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pengunjung juga menjadi faktor penting.

Ia meminta masyarakat menjaga keramahan kepada setiap pengunjung.

“Kalau kita mau menjadi daerah yang dikunjungi masyarakat dari luar, orangnya harus someah, ramah dan terbuka,” katanya.

Selain keramahan, kebersihan lingkungan juga menjadi perhatian.

Bupati meminta ketersediaan tempat sampah, kebersihan kawasan serta fasilitas toilet terus diperhatikan.

“Wisatawan salah satu alat ukurnya adalah kebersihan. Tidak harus mewah, yang penting bersih, rapi dan tidak ada sampah,” tegasnya.

Menurutnya, pembenahan dapat dilakukan secara bertahap agar Pasar Renteng semakin nyaman bagi masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah.

Direktur Pasar Renteng, Sajum Baron, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati Kuningan.

Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momen istimewa bagi masyarakat Blok Cibogo dan Kecamatan Kadugede.

“Bapak Bupati, alhamdulillah, dengan izin-Nya bisa hadir. Ini merupakan kebahagiaan bagi kami, khususnya masyarakat Cibogo dan umumnya Kadugede,” ujar Sajum.

Ia menyebut Pasar Renteng tidak lahir hanya sebagai tempat transaksi ekonomi. Pasar tersebut dibangun dari semangat gotong royong masyarakat serta keterikatan sejarah dengan Goong Renteng.

Menurut Sajum, Goong Renteng yang berusia sekitar 500 tahun merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga.

Sementara semangat gotong royong masyarakat menjadi warisan tak benda yang juga menjadi bagian penting dari identitas kawasan Cibogo.

“Kawasan Cibogo memiliki warisan benda berupa Goong Renteng yang usianya sudah sekitar 500 tahun. Ini luar biasa dan harus dijaga. Selain warisan benda, ada juga warisan tak benda, yaitu gotong royong. Pasar Renteng ini dibangun dengan semangat gotong royong masyarakat,” katanya.

Sajum menambahkan, nama Pasar Renteng sengaja digunakan sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali ingatan generasi muda terhadap budaya lokal.

Goong Renteng tidak hanya disimpan sebagai benda bersejarah, tetapi juga tetap dihidupkan melalui kegiatan pasar.

Alat musik tersebut ditabuh pada hari pelaksanaan pasar, termasuk untuk menyambut para tamu yang datang.

“Dilestarikan, dihidupkan di nama pasar, ditabuh di setiap hari pasar untuk menyambut tamu. Itu merupakan cara merawat budaya,” ujarnya.

Selain budaya, Pasar Renteng juga menjadi wadah untuk memperkenalkan potensi ekonomi kreatif masyarakat Cibogo.

Sejumlah produk kerajinan seperti janur dan anyaman bambu menjadi bagian dari kreativitas warga setempat.

Menurut Sajum, produk janur dari Cibogo bahkan pernah digunakan dalam kegiatan Konferensi Asia Afrika di Bandung.

Hal tersebut dinilai menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat Cibogo memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas.

“Orang-orang kreatifnya ada di sini. Ada janur, ada anyaman bambu asli dari sini. Mudah-mudahan bisa disalurkan, khususnya di pasar-pasar, dan mudah-mudahan bisa mendunia,” katanya.

Kunjungan Bupati Kuningan ke Pasar Renteng menjadi momentum memperkuat sinergi pemerintah dan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal.

Perpaduan antara aktivitas ekonomi, kuliner, kerajinan, seni dan budaya membuat Pasar Renteng memiliki potensi untuk terus berkembang.

Pasar Renteng diharapkan tidak hanya menjadi tempat transaksi jual beli, tetapi juga ruang pemberdayaan masyarakat sekaligus etalase kekayaan budaya Kabupaten Kuningan.

Keberadaan Goong Renteng yang telah berusia ratusan tahun, ditambah kreativitas masyarakat serta semangat gotong royong, menjadi modal penting untuk mengembangkan kawasan tersebut secara berkelanjutan.

Dengan pengelolaan yang baik, keramahan masyarakat dan perhatian terhadap kebersihan, Pasar Renteng berpeluang menjadi salah satu ruang wisata berbasis budaya dan ekonomi lokal di Kabupaten Kuningan. (Ugi)