
KUNINGAN,(VOX) – Riuh tepuk tangan yang menggema di Gedung Kesenian Raksawacana, Minggu (26/4/2026), bukan sekadar bentuk apresiasi. Lebih dari itu, ia menjadi penanda bahwa publik Kuningan sedang “disadarkan” oleh sebuah pertunjukan seni bertajuk Menu Budaya Gembira (MBG).
Di balik gemerlap kolaborasi lintas disiplin, terselip satu pesan yang terasa menggigit: bagaimana jika sebuah negeri kehilangan keberanian untuk bertanya?
Lakon “Negeri Tanpa Pertanyaan” yang menjadi puncak pertunjukan bukan hanya tontonan artistik, tetapi juga gugatan halus terhadap realitas sosial khususnya dunia pendidikan yang kerap membatasi kebebasan berpikir.
Sekitar 15 kelompok seni terlibat dalam rangkaian MBG yang telah berlangsung sejak 10 April 2026. Teater, tari, hingga puisi berkelindan dalam satu panggung yang sama, menciptakan pengalaman estetika yang utuh sekaligus menggugah.
Namun yang membuatnya berbeda, pertunjukan ini tidak hadir untuk memberi jawaban.

Pemimpin Produksi MBG, Bias Lintang Dialog, menegaskan bahwa seluruh konsep dibangun secara kolektif tanpa dominasi satu pihak.
“Kami sengaja tidak menggiring makna. Penonton bebas menafsirkan. Justru di situlah letak kekuatannya,” ujarnya.
Pendekatan ini menjadikan MBG bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang dialog terbuka meski tanpa percakapan langsung.
Lakon yang diangkat merupakan interpretasi dari puisi Taufiq Ismail berjudul “Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang”. Karya yang lahir di era 1960-an itu kembali menemukan relevansinya hari ini.
Alih-alih terasa usang, pesan dalam puisi tersebut justru seperti potret yang masih hidup: tentang ruang kelas, tentang suara yang dibungkam, dan tentang pertanyaan yang tak pernah sempat dilontarkan.
MBG berhasil menjembatani jarak waktu itu membawa kritik lama ke dalam konteks kekinian tanpa kehilangan ruhnya.
Aktris sekaligus aktor, Nita Hernawati, memberi sudut pandang yang lebih personal. Sebagai pengajar, ia melihat langsung bagaimana realitas di lapangan.
Menurutnya, masih banyak siswa yang memilih diam, bukan karena tidak tahu, tetapi karena takut.
“Ada ruang yang belum sepenuhnya memberi kebebasan berpikir. Padahal bertanya itu inti dari belajar,” ungkapnya.
Pernyataan ini seolah mempertegas bahwa “Negeri Tanpa Pertanyaan” bukan sekadar metafora, melainkan refleksi dari kondisi yang masih terjadi.
Membludaknya penonton di setiap pementasan menjadi bukti bahwa masyarakat Kuningan haus akan ruang ekspresi dan refleksi.
Selama ini, potensi itu ada hanya belum cukup difasilitasi.
MBG hadir sebagai pemantik. Sebuah sinyal bahwa ketika ruang dibuka, publik tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga untuk merasakan dan memaknai.
Menu Budaya Gembira 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang seni. Ia adalah peristiwa sosial ruang di mana seniman dan masyarakat bertemu dalam kegelisahan yang sama.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh jawaban instan, MBG justru mengajak untuk kembali pada sesuatu yang sederhana, namun mendasar: keberanian untuk bertanya.***









Tinggalkan Balasan