KUNINGAN, (VOX) – Seruan menjaga lingkungan kembali mengemuka di Kabupaten Kuningan, kali ini datang dari H. Udin selaku MPP DPD PAN Kuningan. Melalui kampanye “Yuk, Jagain Bumi Kita!” yang turut disebarluaskan PAN, ia mengajak masyarakat untuk menempatkan perlindungan wilayah hulu sebagai prioritas ekologis dan sosial. Menurutnya, wilayah hulu bukan sekadar bagian dari lanskap geografis, melainkan komponen utama dalam sistem hidrologi yang menentukan stabilitas ekologi dan keamanan masyarakat Kuningan.

H. Udin menegaskan bahwa rentetan bencana di Sumatra dan Aceh harus dilihat sebagai fenomena yang memiliki relevansi langsung terhadap kondisi Kuningan. Banjir bandang di sejumlah wilayah tersebut menunjukkan bagaimana deforestasi, pembalakan liar, dan kerusakan tutupan vegetasi secara signifikan meningkatkan kerentanan kawasan terhadap gangguan hidrometeorologis. Ia menilai bahwa struktur ekologis wilayah hulu dapat diibaratkan sebagai fondasi yang menentukan seberapa kuat daerah hilir menghadapi dinamika cuaca ekstrem. “Bencana di Sumatra dan Aceh adalah representasi dari rapuhnya ekosistem ketika fungsi hutan hulu tereduksi. Air yang seharusnya terserap justru meluncur dengan destruktif membawa material apa pun di depannya,” ujarnya.

Ia kemudian menarik koneksi serius dengan Kuningan sebagai daerah penyangga Gunung Ciremai. Dalam perspektif akademisi lingkungan, wilayah penyangga gunung api aktif seperti Ciremai memerlukan tata kelola ekologis yang ketat dan berkelanjutan. H. Udin menyoroti bahwa banyak masyarakat masih memandang Gunung Ciremai sekadar sebagai elemen geologis statis, padahal gunung api adalah entitas dinamis yang memerlukan perlindungan ekosistem hulu agar risiko bencana tidak meningkat. “Kita harus ingat, Ciremai bukan tumpukan batu. Ia adalah gunung aktif. Ketika hulu rusak, daya dukung ekologinya melemah dan risikonya tidak hanya banjir, tetapi juga gangguan geomorfologis lainnya,” katanya.

Dalam penilaian akademisnya, bencana hidrometeorologi adalah konsekuensi dari adanya ketidakseimbangan antara intensitas curah hujan dan kemampuan lahan dalam menyerap serta menahan air. Jika tutupan vegetasi di hulu hilang, maka infiltrasi berkurang dan debit limpasan permukaan meningkat. Kondisi inilah yang menimbulkan potensi banjir bandang. H. Udin menekankan bahwa menjaga lingkungan bukan semata persoalan moral atau estetika alam, tetapi instrumen vital untuk mempertahankan fungsi regulatif ekosistem. Masyarakat dipanggil untuk memahami bahwa perlindungan hulu tidak boleh dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi ekologis jangka panjang.

Di sisi sosial, ia mengungkapkan kegelisahan yang menurutnya sangat fundamental. Ketahanan masyarakat kecil terhadap risiko bencana dinilainya berada pada titik paling rentan. Dalam keseharian, banyak warga masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, sehingga potensi bencana akan memperburuk ketidakpastian ekonomi yang mereka hadapi. Ia menegaskan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi selalu memiliki opsi untuk menyelamatkan diri, mengamankan aset, atau berpindah tempat tinggal ketika terjadi bencana. Namun, masyarakat kecil tidak memiliki mobilitas dan sumber daya sebesar itu. “Orang kaya tidak akan pusing. Mereka bisa membeli perlengkapan, bahkan pergi ke luar kota. Tapi rakyat kecil bagaimana? Jalan terputus saja bisa memutus sumber penghidupan. Itu yang harus kita pikirkan secara serius,” tegasnya.

Seruan H. Udin ini pada dasarnya mencerminkan pendekatan mitigasi bencana berbasis komunitas dan ekologi. Ia berharap masyarakat Kuningan dapat memandang kampanye lingkungan bukan sebagai slogan seremonial, melainkan sebuah kebutuhan ilmiah dan sosial yang mendesak. Kesadaran menjaga bumi, terutama melalui perlindungan wilayah hulu Ciremai, dinilainya harus dibangun melalui partisipasi kolektif, kolaborasi multisektor, dan kebijakan publik yang berorientasi pada keberlanjutan. Dengan menjaga hulu, menurutnya, masyarakat tidak hanya menjaga alam, tetapi juga menjaga masa depan Kuningan.

Ia menutup pesannya dengan refleksi bahwa masa depan ekologis dan sosial Kuningan ditentukan oleh tindakan hari ini. “Kuningan tidak hanya tentang apa yang kita lihat sekarang, tetapi tentang apa yang kita wariskan. Jika hulu terjaga, maka kehidupan masyarakat akan jauh lebih aman dan terjamin,” ujarnya.***