VOXPOPULI.CO.ID – Tradisi Kawin Cai di Kabupaten Kuningan dihadirkan dalam perspektif visual yang berbeda melalui 25 karya fotografi 3D Anaglyph. Karya tersebut dipamerkan dalam Pameran Tunggal dan Bedah Buku Fotografi 3D Anaglyph yang berlangsung di Gedung Graha Wangi, Kabupaten Kuningan, Senin (28/9/2026).

Pameran ini merupakan karya Dr. Sigit Setya Kusuma, S.Sn., M.Sn., dosen Universitas Kuningan (Uniku). Melalui teknik fotografi 3D Anaglyph, tradisi lokal tersebut didokumentasikan dengan pendekatan visual yang memberikan kesan ruang, kedalaman, dan dimensi berbeda kepada penikmat karya.

Sigit menjelaskan, penggunaan teknik 3D Anaglyph menjadi bagian dari upayanya menghadirkan pengalaman baru dalam menikmati fotografi.

“Melalui karya ini, saya ingin mengajak masyarakat melihat fotografi tidak hanya sebagai gambar datar, tetapi sebagai pengalaman visual yang menghadirkan ruang, kedalaman, dan kedekatan dengan objek yang diangkat,” ujar Sigit.

Menurutnya, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai media dokumentasi. Perkembangan teknologi dan teknik visual juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi lokal kepada masyarakat dengan cara yang lebih menarik.

Penggunaan teknik 3D Anaglyph membuat objek dalam foto terlihat memiliki efek kedalaman ketika dilihat menggunakan kacamata khusus. Pendekatan tersebut menjadi cara lain untuk merepresentasikan tradisi Kawin Cai yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Kuningan.

Pameran tersebut menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat dikemas melalui medium fotografi dengan pendekatan yang mengikuti perkembangan zaman.

Sebanyak 25 karya yang ditampilkan tidak hanya menjadi dokumentasi visual, tetapi juga menjadi medium untuk memperkenalkan tradisi dan nilai budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Dr. Carlan, S.Pd., M.Pd., yang membuka pameran mewakili Bupati Kuningan.

Carlan mengapresiasi upaya mengenalkan kekayaan daerah melalui pendekatan kreatif dan berharap kegiatan semacam itu dapat meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya lokal.

“Kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam mengenalkan budaya Kuningan melalui pendekatan yang kreatif dan inovatif,” tuturnya.

Selain pameran, kegiatan tersebut juga dilengkapi workshop fotografi bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Kuningan (UMKU).

Workshop tersebut memberikan pengalaman praktik kepada mahasiswa dalam mengeksplorasi fotografi sebagai media ekspresi seni sekaligus media pembelajaran.

Materi fotografi diberikan sebagai bagian dari penguatan mata kuliah Pendidikan Seni Rupa. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teoritis, tetapi juga berkesempatan mempraktikkan teknik fotografi dan mengembangkan media visual yang dapat diterapkan dalam konteks pembelajaran di sekolah dasar.

Dosen Prodi PGSD Universitas Muhammadiyah Kuningan, Lousy Loustiawaty, S.Sn., M.Sn., mengatakan workshop fotografi tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi Pendidikan Seni Rupa dalam proses pembelajaran.

Menurut Lousy, mahasiswa PGSD perlu mendapatkan pengalaman langsung agar dapat memahami fotografi bukan hanya sebagai teknik menghasilkan gambar, tetapi juga sebagai salah satu bentuk ekspresi seni dan media pembelajaran.

Rektor Universitas Kuningan, Dr. Anna Fitri Hindriana, M.Si., menilai fotografi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran sekaligus media untuk menyampaikan pengetahuan dan nilai kepada masyarakat.

“Fotografi dapat menjadi media pembelajaran yang efektif karena melalui sebuah gambar, banyak pengetahuan dan nilai yang dapat dipahami oleh masyarakat,” ungkapnya.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa fotografi dapat memiliki fungsi yang lebih luas. Selain mendokumentasikan sebuah peristiwa atau objek, karya fotografi juga dapat menjadi media komunikasi, edukasi, dan pengenalan budaya.

Pameran Fotografi 3D Anaglyph tersebut turut dihadiri berbagai unsur masyarakat. Di antaranya jajaran Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar), Ekraf Kuningan, Camat Kuningan, Dewan Kebudayaan Kuningan, seniman, budayawan, komunitas, akademisi, mahasiswa, pengamat media, serta siswa SMA dan SMK.

Peserta didik dari bidang Desain Komunikasi Visual (DKV) juga turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran pelajar dan mahasiswa menjadi bagian penting dalam mempertemukan karya seni, teknologi visual, pendidikan, dan budaya lokal.

Melalui keterlibatan berbagai kalangan tersebut, pameran tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga menjadi ruang bertukar pengetahuan mengenai fotografi dan kebudayaan Kuningan.

Pameran ini memperlihatkan bahwa tradisi lokal dapat terus diperkenalkan melalui berbagai medium kreatif. Fotografi 3D Anaglyph menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk menghadirkan dokumentasi Kawin Cai dengan pengalaman visual yang berbeda.

Di sisi lain, kegiatan workshop memperluas fungsi pameran sebagai ruang pembelajaran. Mahasiswa dapat mengenal teknik fotografi sekaligus memahami bagaimana seni visual dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dan nilai budaya.

Kombinasi antara dokumentasi tradisi, teknologi fotografi, dan pendidikan tersebut membuka ruang baru bagi generasi muda untuk mengenal serta mengapresiasi warisan lokal.

Dengan demikian, fotografi tidak hanya menjadi medium untuk merekam tradisi Kawin Cai, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kuningan melalui pendekatan visual yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. (Ugi)