
VOXPOPULI.CO.ID– Pemerintah Kecamatan Maleber memberikan klarifikasi terkait insiden yang melibatkan anak di Desa Cipakem, Kabupaten Kuningan, yang sempat dikaitkan dengan dugaan perundungan atau bullying.
Camat Maleber menegaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari pemerintah desa dan komunikasi yang telah dilakukan, peristiwa tersebut bukan merupakan aksi perundungan sebagaimana isu yang berkembang.
“Tidak, tidak betul,” tegas Camat Maleber saat dikonfirmasi VOX, Rabu (07/10) terkait dugaan bullying dalam peristiwa tersebut.
Menurutnya, kejadian itu berkaitan dengan aktivitas sejumlah anak yang sedang bermain api. Salah seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar kemudian harus mendapatkan penanganan medis dan hingga saat wawancara dilakukan masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Camat menjelaskan dirinya tidak berada langsung di lokasi saat kejadian. Informasi mengenai kronologi peristiwa diterimanya dari pemerintah Desa Cipakem.

Ia juga mengungkapkan komunikasi antara keluarga anak-anak yang terlibat telah dilakukan. Pertemuan tersebut berlangsung secara kekeluargaan dan tidak secara khusus dimediasi oleh pihak kecamatan.
“Sudah. Ada, tapi itu antar keluarga saja,” ujarnya.
Meski demikian, insiden tersebut menjadi perhatian pemerintah kecamatan. Camat menilai kejadian yang melibatkan anak tidak cukup disikapi hanya setelah peristiwa terjadi. Pengawasan dan pembentukan karakter anak harus dilakukan secara bersama-sama sejak awal.
Menurutnya, tanggung jawab menjaga dan membina anak tidak dapat dibebankan hanya kepada orang tua maupun sekolah. Lingkungan masyarakat, tokoh agama, guru hingga pemerintah desa memiliki peran dalam membangun ruang tumbuh yang aman bagi anak.
“Penjagaan akhlak anak itu bukan tanggung jawab satu pihak. Ini secara keseluruhan, antara orang tua, para tokoh, para kiai, para guru, dan semuanya,” katanya.
Pemerintah Kecamatan Maleber, lanjutnya, akan mendorong seluruh desa untuk menyamakan persepsi mengenai penguatan pendidikan moral dan pengawasan terhadap anak. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap aktivitas anak yang berpotensi membahayakan keselamatan.
“Ke depan kita ingin mencoba menyamakan persepsi di antara semua dalam rangka menanamkan nilai-nilai moral, akhlak kepada anak. Itu harus lebih ditingkatkan dan merupakan bentuk tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (Ugi)









Tinggalkan Balasan