KUNINGAN, (VOX) – Ungkapan duka dan penghormatan atas wafatnya Almarhum H. Sukardi Kartapermata terus mengalir dari berbagai tokoh, salah satunya datang dari KH. Didin Misbachudin, Dewan Syuro PKB Kuningan. Dalam pandangannya, almarhum adalah salah satu figur sentral dalam perjalanan politik dan kultural PKB Kuningan, sekaligus sosok panutan yang dikenal dekat dengan para kiai dan pesantren.

Menurut KH. Didin, kontribusi almarhum pada masa awal berdirinya PKB Kuningan sangat besar. Almarhum merupakan Ketua Tanfidz DPC PKB Kuningan pertama, sedangkan ayahandanya, KH. Uci Syariffudin, menjadi Dewan Syuro pada saat itu. Duet dua tokoh ini melahirkan pondasi awal struktur dan kultur PKB di Kuningan, yang kemudian berkembang menjadi kekuatan politik signifikan hingga saat ini.

KH. Didin menjelaskan bahwa banyak bukti dan saksi yang menguatkan posisi almarhum sebagai tokoh sentral. Salah satunya adalah H. Ujang Kosasih, Ketua DPC PKB Kuningan sekaligus Wakil Ketua DPRD Kuningan saat ini. Pada masa awal, H. Ujang merupakan staf almarhum. “Beliau itu dulu stafnya almarhum, tukang bikin surat. H. Ujang adalah salah satu orang yang dididik langsung oleh almarhum,” ujar KH. Didin. Jejak pengkaderan itu menjadi salah satu warisan penting almarhum bagi tubuh PKB.

Di luar perannya sebagai tokoh politik, almarhum juga dikenal memiliki akhlak yang sangat baik dan penuh kebaikan terhadap para ulama. KH. Didin mengenang bagaimana almarhum selalu ingat kepada para kiai, sering memberikan bantuan untuk pesantren, hingga hewan kurban. Ia menyebut karakter almarhum sebagai pribadi pendidik yang tulus dan dekat dengan lingkungan keagamaan. Sikap itulah yang menempatkan almarhum sebagai figur dihormati di banyak kalangan.

KH. Didin juga menyebut salah satu momen paling dikenang adalah ketika almarhum turut berjuang agar Aang Hamid Suganda terpilih sebagai Bupati Kuningan. “Beliau orang pertama yang merekomendasikan Pa Aang untuk maju menjadi bupati Kuningan. Doa dan kawalannya sangat besar dalam proses itu,” katanya. Koreksi penting pun ditegaskan, Pa Aang bukan anak kandung almarhum, namun kedekatan keduanya lahir dari penghormatan, dukungan, dan persahabatan panjang di dunia sosial dan politik.

Sikap politik almarhum juga dikenal sejuk dan dewasa. KH. Didin menuturkan bahwa pada Pilkada terakhir, ketika PKB mengambil pilihan politik berbeda dengannya yang mengusung anaknya, H. Sukardi tetap tegas tidak mengintervensi. “Pesannya jelas biarkan mengalir. Jika PKB sudah punya pilihan, lanjutkan saja. Biarkan Allah menentukan ketetapannya,” ujarnya. Baginya, almarhum adalah sosok yang menyejukan, tidak pernah menjadikan politik sebagai alat keuntungan pribadi, tetapi sebagai sarana dakwah dan pengabdian.

KH. Didin mengakui, terlalu banyak kisah baik tentang almarhum yang sulit dirangkum dalam satu tulisan. Ia menyebut almarhum sebagai sosok Guru, Politikus, dan Ayah bagi banyak orang, sosok langka yang kini sulit ditemukan di Kuningan. Ia pun menyampaikan doa mendalam agar segala amal ibadah almarhum diterima Allah SWT, diberikan rahmat dan maghfirah, serta ditempatkan pada tempat terbaik. Ia juga mendoakan Bupati Dian agar diberi kekuatan, ketabahan, dan kemampuan membawa Kuningan menuju kesejahteraan dan kemajuan seperti harapan masyarakat.***