
KUNINGAN, (VOX) – Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, H. Abidin Fikri, S.H., M.H., menegaskan pentingnya memperkuat hak masyarakat adat sekaligus menjaga nilai-nilai luhur bangsa yang menjadi fondasi berdirinya Republik Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam Sarasehan “Dari Konstitusi ke Konstitusi: Empat Pilar Kebangsaan dalam Penguatan Hak Masyarakat Adat” di Paseban Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jumat (5/6/2026), sebagai bagian dari rangkaian Seren Taun.
Dalam sambutannya, Abidin menyebut perjuangan masyarakat adat masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk belum tuntasnya pengakuan negara terhadap sejumlah hak masyarakat adat dalam praktik kebijakan. Menurutnya, gagasan para pendiri bangsa harus terus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang memberikan perlindungan nyata kepada masyarakat.
“Masih ada hal yang belum kita tuntaskan dalam wujud konkret. Karena itu perjuangan masyarakat adat harus terus didampingi agar mendapatkan pengakuan dan perlindungan yang semestinya,” ujarnya.
Abidin mengapresiasi para tokoh adat dan pegiat masyarakat adat yang terus memperjuangkan hak-haknya. Ia mengakui perjuangan tersebut tidak mudah dan sering kali menimbulkan kelelahan. Namun, ia mengingatkan agar semangat perjuangan tidak pernah padam.
“Ada kalanya kita lelah, tetapi yang tidak boleh adalah menyerah. Kita tidak boleh menyerah karena tradisi dan nilai luhur yang ikut mendirikan Republik Indonesia ini harus tetap dijaga,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perubahan sosial yang terjadi akibat perkembangan teknologi informasi dan arus globalisasi. Menurutnya, sejumlah nilai budaya seperti sopan santun, penghormatan kepada guru, serta tradisi kehidupan bermasyarakat mulai mengalami pergeseran.
“Nilai-nilai luhur bangsa kita semakin lama semakin menjauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal lima prinsip yang terkandung dalam Pancasila merupakan jati diri Indonesia yang harus terus dirawat,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Abidin menegaskan komitmen MPR RI untuk terus membersamai perjuangan masyarakat adat melalui berbagai forum dialog dan sosialisasi kebangsaan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan cakupan yang lebih luas pada masa mendatang.
Menurutnya, warisan budaya dan nilai-nilai leluhur yang selama ini terpendam harus kembali dimunculkan agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.
“Kalau kita tidak mengangkat potensi nilai warisan leluhur yang selama ini terpendam, maka nilai-nilai itu bisa hilang. Karena itu harus kita manifestasikan dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Abidin juga mengajak generasi muda untuk meneladani tokoh-tokoh bangsa yang telah memberikan kontribusi besar dalam perjalanan demokrasi Indonesia, seperti Gus Dur, Nurcholish Madjid, dan Buya Syafii Maarif. Menurutnya, nilai-nilai keteladanan para tokoh tersebut penting untuk diwariskan kepada generasi penerus.
Sarasehan yang digelar dalam rangkaian Seren Taun Cigugur itu dihadiri tokoh adat, akademisi, tokoh agama, unsur pemerintah, dan berbagai organisasi kemasyarakatan. Forum tersebut menjadi ruang dialog untuk memperkuat posisi masyarakat adat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan konstitusi dan nilai-nilai Pancasila.***












Tinggalkan Balasan