
VOXPOPULI.CO.ID– Kondisi Puskesmas Lamepayung menjadi sorotan menyusul keterbatasan ruang pelayanan yang dinilai tidak lagi ideal untuk menampung aktivitas pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan jumlah kunjungan mencapai lebih dari 100 pasien per hari, ruang pelayanan kerap dipenuhi pasien, terutama saat antrean pengambilan obat.
Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian pasien yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Salah seorang pasien Puskesmas Lamepayung yang ditemui di depan puskesmas, Selasa (22/9), mengaku khawatir dengan kondisi ruang pelayanan yang menurutnya terlalu sempit dan membuat pasien harus berbaur dalam satu area.
“Ia terlalu kecil jadi khawatir kalau berobat takut yang sembuh jadi sakit, soalnya berbaur di ruangan kecil, apalagi kalau lagi ngantri obat semua numpuk di situ,” ujar A kepada Vox.
Kekhawatiran itu terutama dirasakan ketika antrean pasien sedang padat. Kondisi ruang yang terbatas membuat sejumlah aktivitas pelayanan harus berlangsung dalam area yang relatif sempit.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Puskesmas Lamepayung, drg. Vini Drismayani, mengakui bahwa kondisi fasilitas saat ini masih kurang ideal.
Vini, yang menjabat sejak akhir November 2025, mengatakan pihaknya tetap berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada masyarakat di tengah keterbatasan fasilitas yang tersedia.
“Dengan kondisi segini kita berusaha pelayanan sebaik mungkin ke masyarakat. Upaya-upaya itu juga sudah kita coba,” ujar Vini saat diwawancarai, Selasa (22/9).
Menurut Vini, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah pengaturan ruang bagi pasien dengan penyakit tertentu, khususnya penyakit yang dapat menular melalui udara.
Untuk pasien tuberkulosis (TB), pihak Puskesmas Lamepayung telah menerapkan alur pelayanan tersendiri guna mengurangi potensi kontak dengan pasien lainnya.
“Kalau ada penyakit yang menular secara lewat udara yang mungkin itu bisa membahayakan juga. Idealnya kita ada pemisahan,” jelasnya.
Pihak Puskesmas Lamepayung sebenarnya telah sempat mengkaji sejumlah alternatif untuk mengatasi keterbatasan ruang pelayanan. Salah satunya dengan memanfaatkan lantai dua bangunan yang ada.
Namun, opsi tersebut dinilai memiliki risiko mengingat cukup banyak pasien yang datang merupakan kelompok lansia, ibu hamil, dan anak-anak.
“Kalau misalkan pasien banyaknya lansia, ibu hamil, anak kecil, itu malah lebih berisiko. Nanti takutnya bisa mencederai pasien,” katanya.
Pertimbangan tersebut membuat pemanfaatan lantai dua belum menjadi solusi yang dianggap ideal untuk mengatasi keterbatasan ruang pelayanan di Puskesmas Lamepayung.
Selain opsi penataan ruang, Vini mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat ada rencana untuk melakukan relokasi Puskesmas Lamepayung.
Bahkan, persiapan relokasi disebut telah berjalan hingga pihak Puskesmas sempat menerima kunci lokasi yang direncanakan menjadi tempat pelayanan baru.
“Sudah dapat kunci, sempat persiapan kita juga mau pindah. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba dicancel,” ungkapnya.
Vini mengatakan persoalan keterbatasan fasilitas tersebut telah beberapa kali disampaikan kepada pihak terkait, termasuk Kepala Dinas Kesehatan.
Kondisi Puskesmas Lamepayung juga sempat disampaikan saat adanya kunjungan anggota DPRD Kuningan.
Vini menyebut jumlah kunjungan pasien ke Puskesmas Lamepayung saat ini mencapai lebih dari 100 pasien setiap hari.
Menurutnya, jumlah tersebut tergolong cukup tinggi untuk ukuran sebuah puskesmas, sehingga keterbatasan ruang semakin terasa ketika terjadi penumpukan pasien pada jam-jam tertentu.
Meski demikian, pihak Puskesmas Lamepayung tetap menjalankan pelayanan dengan fasilitas yang tersedia sambil menunggu kebijakan lebih lanjut terkait pengembangan maupun kemungkinan relokasi.
“Kalau kita sesuai mengikuti kebijakan dari atas, tapi memang kalau bisa sih ada yang lebih ideal lagi dari ini,” kata Vini.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat terus berjalan, sementara kapasitas ruang yang tersedia masih terbatas. Pihak Puskesmas berharap terdapat solusi yang lebih ideal sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung dengan lebih nyaman dan aman. (Ugi)












Tinggalkan Balasan