KUNINGAN(VOX) – Bupati Kuningan secara resmi membuka Konferensi Daerah (Konferda) Pemilihan Ketua DPD Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) Kabupaten Kuningan periode 2026–2031, Rabu (28/1/2026). Dalam kesempatan tersebut, Bupati menekankan pentingnya pengelolaan pencak silat secara modern, profesional, akuntabel, dan transparan, agar mampu bertahan dan berkembang di tengah arus bela diri modern.

Konferda yang berlangsung khidmat ini dihadiri unsur Forkopimda, perwakilan DPRD Kabupaten Kuningan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para ketua paguron pencak silat se-Kabupaten Kuningan.

Dalam sambutannya, Bupati Kuningan menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Ketua DPD PPSI Kabupaten Kuningan periode sebelumnya, Kang Kh. Ali Subhan, atas dedikasi dan kepemimpinannya selama empat tahun terakhir.

Bupati menilai kepemimpinan Kang Subhan sebagai sosok yang “menghidupi organisasi, bukan hidup dari organisasi”, sebuah tipikal pemimpin yang dinilai langka dan patut diteladani.

“Selama kepemimpinan beliau, PPSI dihidupkan dengan banyak kegiatan dan event. Ini menunjukkan kecintaan dan komitmen nyata terhadap pencak silat,” ujar Bupati.

Bupati juga menyoroti tantangan pencak silat di tengah gempuran bela diri modern seperti MMA dan Muay Thai. Menurutnya, tanpa pengelolaan dan publikasi yang baik, pencak silat berisiko hanya menjadi pajangan sejarah, bukan warisan hidup yang terus berkembang.

“Kuningan dikenal sebagai tanah pendekar. Maka PPSI harus dikelola secara tangkas, berani, gesit, dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Dalam arahannya, Bupati menekankan pentingnya manajemen organisasi yang modern dan profesional, dengan program kerja yang membumi, realistis, dan berbasis data, bukan sekadar konsep di atas kertas.

Ia juga menekankan pentingnya pola komunikasi dan jejaring yang kuat, baik secara vertikal, horizontal, maupun diagonal, agar PPSI mampu berkolaborasi lintas sektor.

Bupati mendorong PPSI Kabupaten Kuningan untuk rutin menggelar festival, event, dan kompetisi pencak silat yang terstruktur, minimal setiap semester. Selain sebagai ajang pembibitan atlet, kegiatan tersebut juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya.

“Pencak silat harus bisa dikolaborasikan dengan sektor pariwisata, hotel, dan biro perjalanan sebagai atraksi budaya khas Kuningan,” katanya.

Lebih jauh, Bupati menilai kolaborasi dengan pemerintah, swasta, dan investor dapat membuka peluang ekonomi, termasuk menciptakan lapangan kerja bagi atlet dan pegiat pencak silat, misalnya di bidang keamanan dan event.

Ia bahkan membuka peluang masuknya investor dari China dan Korea sebagai sponsor maupun mitra pengembangan PPSI.

Menutup sambutannya, Bupati mengingatkan bahwa jabatan ketua hanyalah titipan dan formalitas administratif. Pemimpin PPSI ke depan harus memiliki integritas, kecintaan terhadap organisasi, serta orientasi manfaat bagi masyarakat, bukan menjadikan jabatan sebagai alat kepentingan pribadi.

“Pemimpin harus siap melayani, sabar menghadapi kritik, dan rutin melakukan introspeksi diri,” pesannya.

Bupati juga menyampaikan harapannya agar Kabupaten Kuningan terus bangkit dan melesat dengan dukungan seluruh elemen masyarakat.

Konferda PPSI Kabupaten Kuningan periode 2026–2031 pun resmi dibuka, meski Bupati harus meninggalkan acara lebih awal untuk menghadiri agenda selanjutnya.***