
KUNINGAN, (VOX) – Aksi #SaveCiremai mengguncang halaman Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) di Kuningan. Massa mengibarkan tuntutan tegas pemerintah dianggap gagal menjaga konservasi Ciremai, dan BTNGC menjadi dalang utama.
Seruan paling keras datang dari aktivis dan massa aksi yang menuding BTNGC sebagai pintu kerusakan, bukan penjaga konservasi. Dalam orasi mereka, muncul kutipan yang menggambarkan kekecewaan publik terhadap lembaga itu.
Massa menyebut, “BTNGC bukan lagi penjaga konservasi, mereka justru membuka jalan untuk kerusakan di Gunung Ciremai.” Tuduhan ini merujuk pada pembukaan jalan, eksploitasi air secara illegal, aktivitas yang dinilai membuka celah eksploitasi, serta melemahnya fungsi perlindungan kawasan hulu.
Di tengah panasnya demonstrasi, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kuningan ikut terseret dalam gelanggang tuntutan. Kehadiran Ketua PSI Kuningan, Asep Papay, menjadi pusat perhatian ketika massa mengingatkan tanggung jawab partainya karena Menteri Kehutanan saat ini, Raja Juli Antoni, berasal dari PSI.
Ismah Winartono menyampaikan tekanan yang langsung menyasar Asep Papay. Ia berkata, “Kalau hari ini Kang Asep Papay tidak mampu menyampaikan aspirasi pembubaran BTNGC kepada Raja Juli, maka sebaiknya PSI pergi saja dari Kabupaten Kuningan.” Kutipan itu disambut sorak massa yang menuntut sikap tegas dari PSI.

Di sisi lain, Asep Papay menanggapi dengan janji untuk membawa aspirasi tersebut ke pusat. Ia menyatakan, “Aspirasi teman teman semuanya akan saya sampaikan dan nanti akan saya share apabila terkonfirmasi dari Menteri Raja Juli.” Papay menegaskan PSI Kuningan berada di pihak masyarakat yang menginginkan pelestarian Ciremai dan evaluasi menyeluruh terhadap BTNGC.
Aksi #SaveCiremai hari ini memperlihatkan bahwa isu lingkungan di Kuningan bukan lagi sekadar urusan ekologi. Ia berubah menjadi pertaruhan politik, legitimasi lembaga, dan tuntutan publik untuk transparansi tata kelola konservasi. Gunung Ciremai, simbol identitas daerah, kini menjadi medan pertaruhan antara rakyat dan negara.***











Tinggalkan Balasan