
KUNINGAN, (VOX) – Seruan aksi Menggugat BTNGC yang akan digelar 10 Desember 2025 kini resmi menjadi isu regional. Flyer aksi yang awalnya beredar di komunitas lokal Kuningan mendadak mencuat ke panggung yang lebih luas setelah Walhi Jawa Barat ikut me-repost materi ajakan tersebut. Repost itu memicu lonjakan respons publik karena Walhi dikenal sebagai organisasi lingkungan yang tidak main-main ketika memberi atensi.
Dampaknya langsung terasa. Narasi yang sebelumnya dianggap hanya keresahan lokal kini menjelma menjadi alarm keras bagi pengelolaan kawasan konservasi di Jawa Barat. Ketika Walhi Jabar ikut mengangkat poster yang menyerukan penyelamatan Ciremai, sinyalnya jelas: ada sesuatu yang dianggap serius dan perlu dibedah.
Informasi yang dihimpun Vox menunjukkan setidaknya empat isu besar akan dibawa massa saat aksi. Eksploitasi mata air ilegal menjadi tuduhan paling panas karena dianggap menyentuh sumber kehidupan langsung warga Kuningan. Penyadapan getah pinus dinilai berlangsung tanpa kontrol ekologis yang layak. Tuduhan eksploitasi alam lain di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai makin mempertebal kekecewaan warga. Yang paling politis, massa menuding adanya kelonggaran dalam menjalankan Surat Edaran Gubernur terkait moratorium logging, yang seharusnya menjadi benteng terakhir dari deforestasi.
Konfirmasi kehadiran dari berbagai kelompok masyarakat terus mengalir. MPK (Masyarakat Peduli Kuningan) dan Perak (Presidium Pergerakan Kuningan) sudah memastikan turun ke jalan. Kelompok lain juga disebut siap bergabung, mengubah aksi ini menjadi unjuk kekuatan publik terhadap pengelolaan Taman Nasional yang dinilai tak transparan dan tak berpihak pada warga.
Kemarahan kolektif ini telah lama terbangun. Warga merasa kebijakan BTNGC tidak memberi ruang bagi suara lokal, sementara dampak ekologis dan sosial mengendap di kehidupan mereka sehari-hari. Ketika kawasan konservasi mulai dirasakan lebih mirip area eksploitasi, batas kesabaran publik jebol.

Aksi akan dimulai dari Taman Cirendang pukul 09.00 WIB sebelum massa bergerak ke Kantor BTNGC. Tagar #savekuningan, #saveciremai, dan #usirpenjajah mendominasi percakapan digital, memperlihatkan energi protes yang terus membesar. Repost Walhi Jabar makin mendorong aksi ini menjadi sorotan luas, memaksa BTNGC menghadapi tekanan publik yang belum pernah sebesar ini.
Ciremai bagi warga Kuningan bukan sekadar gunung atau kawasan konservasi dalam buku laporan. Ia adalah jantung ekologis dan identitas daerah. Aksi 10 Desember menjadi momen penentuan apakah tuntutan warga akan dijawab atau diredam. Satu hal yang pasti, publik tak lagi diam. Gelombang protes sudah terlanjur membesar.***











Tinggalkan Balasan