JAKARTA, (VOX) – Ustadz Adi Hidayat menyampaikan pesan keras kepada para elite politik agar menghentikan berbagai atraksi yang menjadikan bencana sebagai panggung pencitraan. Seruan ini disampaikan dalam video yang diunggah melalui kanal Adi Hidayat Official di YouTube, yang kini beredar luas di berbagai platform.

Dalam rekaman tersebut, Ustadz Adi secara terbuka menegur elite yang menjadikan dinamika politik sebagai prioritas di tengah duka masyarakat. “Tolong stop dulu beragam dinamika politiknya, beragam atraksi-atraksi politiknya,” ujarnya, menegaskan bahwa saat ini bukan waktunya memanfaatkan bencana sebagai ruang visual untuk kepentingan pribadi.

Ustadz Adi juga meminta publik, termasuk lembaga-lembaga yang merasa mengetahui akar persoalan, untuk benar-benar merenungi dampak yang muncul. “Perhatikanlah dampaknya berapa banyak orang harus mendapatkan akibat dari itu semua, korban kehilangan beragam hal,” katanya dalam video yang sama.

Ia menegaskan bahwa negara kembali terbebani secara ekonomi dan energi akibat rangkaian bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namun ia mengingatkan bahwa musibah bukan sekadar takdir yang harus diterima tanpa evaluasi. Manusia, katanya, wajib merespons takdir dengan perubahan menuju kebaikan.

Pesan empati juga ia sampaikan kepada masyarakat yang terdampak. Ustadz Adi menegaskan bahwa mereka tidak sendirian, meski dirinya tidak berada langsung di lokasi. Ia menyatakan dukungan moral, doa, dan ajakan untuk bangkit bersama, sembari menegaskan bahwa seruannya murni untuk kebaikan, bukan kepentingan politik apa pun.

“Saya menyayangi anda semua karena Allah… kita bagi waktu, kita bagi peran. Insyaallah kami bersamai untuk membangun daerah dan bangsa,” tuturnya.

Video asli pernyataan Ustadz Adi dapat dilihat di kanal Adi Hidayat Official, termasuk potongan yang kini ramai dibagikan ulang oleh netizen.

Pesan tersebut mempertegas keresahan publik terhadap politisi yang hadir ke lokasi bencana hanya untuk konten, bukan kontribusi nyata. Ustadz Adi mengingatkan bahwa masyarakat sedang berduka dan membutuhkan empati, bukan kamera.***