VOXPOPULI.CO.ID –Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mendapat kepercayaan menjadi salah satu dari 10 daerah di Indonesia yang menjadi tuan rumah Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pelestarian sekaligus mendorong musik tradisional agar semakin adaptif, inovatif, dan dikenal hingga tingkat internasional.

Festival yang digelar di Lapangan Pandapa Paramarta, Sabtu (7/11/2026), mengusung tema nasional Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara dan tema lokal Wantun Wirahma Si Windu.

Kegiatan tersebut mempertemukan para seniman, komunitas budaya, akademisi, pelaku seni, hingga generasi muda dalam upaya memperkuat ekosistem musik tradisional di tengah perkembangan teknologi dan industri musik modern.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam sambutan melalui tayangan video menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan FMTI 2026 di Kabupaten Kuningan.

Meski berhalangan hadir karena menjalankan tugas dari Presiden Republik Indonesia, Fadli menegaskan bahwa musik tradisional harus terus dikembangkan agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan zaman.

Menurutnya, pelestarian budaya bukan berarti membatasi tradisi pada bentuk yang sudah ada. Sebaliknya, para pelaku seni harus diberikan ruang untuk berkreasi, berinovasi, serta menghadirkan ekspresi baru yang tetap berakar pada identitas budaya.

“Pelestarian tak berarti membatasi tradisi pada bentuk-bentuk yang telah ada, melainkan memberi ruang bagi para pelaku budaya untuk terus berkreasi, berinovasi, menghadirkan ekspresi baru yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Fadli Zon.

Ia juga mendorong kolaborasi antarkomunitas, lintas genre, serta pemanfaatan teknologi agar musik tradisional semakin dekat dengan generasi muda.

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, mengatakan Kabupaten Kuningan menjadi salah satu dari 10 daerah yang dipercaya menyelenggarakan Festival Musik Tradisi Indonesia 2026.

Menurutnya, terpilihnya Kuningan menjadi kesempatan besar untuk memperkenalkan kekayaan musik tradisional daerah sekaligus membuka ruang kolaborasi bagi para seniman.

“Kuningan terpilih ini menjadi sangat penting. Di sekitar sini tidak terpilih, tetapi Kabupaten Kuningan terpilih dari 10 di Indonesia,” kata Ahmad Mahendra.

Ia menilai musik tradisional Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang di tengah meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap karya musik nasional.

Ahmad Mahendra mencontohkan perkembangan musisi yang mengangkat identitas lokal dalam karya musiknya, seperti Denny Caknan, Endah Laras, hingga Tabola Bale.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa unsur budaya daerah dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan karya musik yang memiliki daya tarik luas.

Karena itu, para seniman di Kabupaten Kuningan didorong tidak ragu mengembangkan musik tradisional melalui kreativitas dan inovasi tanpa meninggalkan akar budayanya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kuningan menyambut positif kepercayaan Kementerian Kebudayaan menjadikan daerah tersebut sebagai tuan rumah FMTI 2026.

Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi, dan Keuangan, Aries Susandi, yang hadir mewakili Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, menyampaikan bahwa musik tradisional merupakan bagian penting dari identitas masyarakat.

Menurutnya, musik tradisi menyimpan nilai filosofis, sejarah, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

“Musik tradisi adalah bahasa yang lahir jauh sebelum banyak kata diciptakan. Ia menyimpan ingatan tentang leluhur, merekam perjalanan sebuah masyarakat, sekaligus menjadi penanda jati diri suatu bangsa,” tuturnya.

Aries menegaskan, kebudayaan tidak boleh hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu yang disimpan dan dikenang. Kebudayaan harus terus hidup, berkembang, serta menemukan relevansinya di tengah perubahan zaman.

Ia juga menyoroti kekayaan seni tradisi Kabupaten Kuningan, salah satunya perkembangan angklung diatonis yang menjadi kebanggaan daerah.

Menurutnya, perkembangan angklung diatonis menjadi bukti bahwa musik tradisional dapat berkolaborasi dengan instrumen modern tanpa harus kehilangan karakter dan identitas budayanya.

“Jangan biarkan alat musik tradisional hanya menjadi benda yang tersimpan. Jangan biarkan lagu-lagu daerah hanya menjadi kenangan, dan jangan biarkan seni tradisi kehilangan penerusnya,” kata Aries.

Ketua Panitia FMTI Kuningan 2026, Arief Pribawa Sakti, menjelaskan bahwa tema lokal Wantun Wirahma Si Windu mengandung pesan tentang keberanian untuk terus berkarya dan beradaptasi tanpa meninggalkan identitas budaya.

Panitia sebelumnya telah melakukan pendataan terhadap pelaku seni musik tradisional yang tersebar di 15 kelurahan dan 361 desa di Kabupaten Kuningan.

Dari sekitar 21 pelaku seni dan sanggar musik tradisi yang terdata, sejumlah kelompok mengikuti proses kurasi untuk tampil dalam festival.

Tujuh kelompok seni asal Kabupaten Kuningan yang tampil dalam pergelaran tersebut yakni Mangun Langgeng, Putra Pusaka, Swaralokananta, Pusaka Arya Kamuning 3, Gung-Gom and Friends, Merinding Disco, dan Wihendar Loka Musika.

Selain itu, festival juga menghadirkan Bungsu Bandung dari Sumedang serta Kelompok Seni Emuday dari Provinsi Papua Tengah.

Arief mengatakan, pengembangan musik tradisional harus dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas, seniman lintas genre, serta pemanfaatan teknologi.

“Menghidupkan akar, merangkul zaman. Langkah ini bukan tentang mengubah jati diri, melainkan memastikan keindahan tradisi agar tetap hidup, relevan, dan hadir di setiap peralihan zaman,” ungkapnya.

Tidak hanya menampilkan pertunjukan musik, FMTI Kuningan 2026 juga menghadirkan seminar bertema musik tradisional adaptif dan kolaboratif.

Seminar tersebut diikuti sekitar 100 peserta dari kalangan guru seni budaya dan guru seni karawitan jenjang SMP, SMA, dan SMK se-Kabupaten Kuningan.

Sejumlah narasumber turut dihadirkan, di antaranya Yusuf Oblet yang berpengalaman dalam kolaborasi musik tradisional hingga mancanegara, akademisi Mustika Iman Zakaria, serta Seniman Angin yang berkolaborasi dengan Avtech Bandung dalam pengembangan inovasi angklung robotik atau controller.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi para pelaku budaya, panitia juga memberikan penghargaan kepada tiga tokoh musik tradisi Kabupaten Kuningan.

Ketiganya yakni Sadari sebagai Penjaga Musik Tradisi, Gugun Gumelar, S.Sn., sebagai Penggerak Tata Kelola Festival Musik Tradisi, serta Wihendar, M.Sn., sebagai Penggerak Ekosistem Musik Tradisi.

Penganugerahan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap kontribusi para tokoh dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkuat keberlangsungan musik tradisional di Kabupaten Kuningan.

Festival Musik Tradisi Indonesia 2026 merupakan program kebudayaan nasional yang diselenggarakan di 10 daerah, yakni Bogor, Wonosobo, Maumere, Makassar, Kuningan, Aceh Tengah, Mataram, Pontianak, Bengkulu, dan Tanah Datar.

Program ini didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2026 dengan dukungan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Di Kabupaten Kuningan, Perkumpulan Sanggar Setyo Langen Budoyo bertindak sebagai penerima manfaat program dan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan.

Melalui penyelenggaraan FMTI 2026, Kabupaten Kuningan diharapkan tidak hanya menjadi lokasi pertunjukan seni, tetapi juga berkembang sebagai ruang kolaborasi, regenerasi, dan pengembangan kreativitas para pelaku musik tradisional.

Festival ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak cukup hanya dijaga, tetapi juga harus terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan zaman dan dikenal oleh masyarakat dunia.

(UGI)