KUNINGAN, (VOX) – Perebutan kursi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Kuningan mulai menunjukkan dinamika politik yang semakin menarik. Setelah nama Wakil Bupati Kuningan, Hj. Tuti Andriani atau Amih Tuti, santer disebut sebagai kandidat kuat, kini muncul dua nama lain yang disebut ikut meramaikan bursa kepemimpinan partai berlambang kepala garuda tersebut sesuai informasi yang diterima vox.

Kedua nama itu adalah AS dan TT, yang sama-sama merupakan anggota DPRD Kabupaten Kuningan. Kemunculan keduanya membuat persaingan menuju kursi Ketua DPC Gerindra Kuningan semakin terbuka, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang akhirnya akan mendapatkan kepercayaan dari struktur partai di tingkat atas.

Di tengah menghangatnya bursa tersebut, Amih Tuti justru memberikan pernyataan yang menarik perhatian. Alih-alih menunjukkan ambisi untuk mengamankan kursi ketua, orang nomor dua di Pemerintah Kabupaten Kuningan itu menegaskan kesiapannya menerima keputusan partai, termasuk apabila kepemimpinan DPC akhirnya dipercayakan kepada kader lain.

Ditemui VOX selepas menghadiri kegiatan di Universitas Kuningan (Uniku), Senin (12/10/2026), Amih Tuti mengaku hingga kini belum memperoleh pemberitahuan resmi mengenai siapa yang akan ditunjuk sebagai Ketua DPC Gerindra Kuningan.

“Sampai saat ini, saya belum menerima informasi resmi mengenai kepastian figur maupun jadwal penunjukan Ketua DPC Gerindra Kabupaten Kuningan. Namun perkiraan saya, proses tersebut kemungkinan besar akan berjalan pada akhir bulan ini atau awal bulan depan,” ujar Amih Tuti.

Meski demikian, perempuan yang kini mendampingi Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar tersebut memastikan dirinya tidak akan menolak apabila partai memberikan mandat untuk memimpin Gerindra di Kabupaten Kuningan.

“Sebagai kader, tentu saya siap mengemban amanah jika partai mempercayakan kepemimpinan DPC kepada saya. Fokus utama saya adalah berbuat yang terbaik dan membesarkan Partai Gerindra di Kabupaten Kuningan,” tegasnya.

Menariknya, Amih Tuti turut menyinggung mekanisme internal partai yang menurut pemahamannya memberikan prioritas kepemimpinan kepada kader yang menduduki jabatan kepala daerah, wakil kepala daerah, maupun anggota legislatif.

“Mengenai regulasi internal, jika merujuk pada aturan partai, prioritas kepemimpinan memang diarahkan kepada kepala daerah, wakil kepala daerah, atau anggota legislatif. Sebagai Wakil Bupati Kuningan yang diusung Gerindra, tentu saya menghormati mekanisme tersebut,” jelasnya.

Pernyataan itu menjadi menarik karena ketiga nama yang kini disebut dalam bursa Ketua DPC Gerindra Kuningan sama-sama berada dalam kategori jabatan publik tersebut. Amih Tuti merupakan wakil kepala daerah, sedangkan AS dan TT adalah anggota legislatif.

Artinya, apabila merujuk pada penjelasan Amih Tuti, ketiganya memiliki latar belakang jabatan yang relevan untuk dipertimbangkan dalam proses penentuan kepemimpinan partai. Namun, keputusan akhir tetap berada pada mekanisme dan kewenangan internal Gerindra.

Di balik kesiapan tersebut, Amih Tuti justru melontarkan pernyataan yang dapat dibaca sebagai sinyal politik tersendiri. Ia mengaku tidak keberatan apabila akhirnya tidak dipilih sebagai Ketua DPC, bahkan membuka kemungkinan untuk tidak masuk dalam struktur kepengurusan.

“Namun, jika nanti keputusan partai berkata lain, saya tetap berkomitmen menjaga loyalitas dan menuntaskan masa bakti saya hingga 2029, meskipun saya memilih untuk berada di luar struktur kepengurusan demi memberikan kesempatan kepada kader lain,” ungkapnya.

Pernyataan terakhir itu menyisakan ruang tafsir politik. Di satu sisi, Amih Tuti memperlihatkan sikap loyal terhadap keputusan partai. Namun di sisi lain, pilihannya untuk membuka kemungkinan berada di luar struktur kepengurusan dapat menjadi pesan bahwa dirinya tidak ingin terjebak dalam persaingan internal yang berlarut-larut.

Apalagi, kepemimpinan DPC Gerindra Kuningan bukan sekadar persoalan siapa yang menduduki jabatan ketua. Posisi tersebut juga memiliki nilai strategis dalam menentukan arah konsolidasi organisasi, penguatan jaringan kader, hingga persiapan menghadapi kontestasi politik berikutnya pada 2029.

Dalam konteks itu, munculnya AS dan TT sebagai nama alternatif berpotensi mengubah peta persaingan yang sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan Amih Tuti. Meski begitu, belum ada keputusan resmi yang memastikan siapa figur yang akan memimpin DPC Gerindra Kuningan.

Kini publik tinggal menunggu apakah Gerindra akan memberikan mandat kepada Amih Tuti sebagai wakil kepala daerah yang diusung partai, atau justru mempercayakan kursi ketua kepada salah satu kadernya di DPRD Kuningan.

Satu hal yang jelas, Amih Tuti telah menyampaikan sikapnya. Siap memimpin jika dipercaya, tetapi juga siap berada di luar kepengurusan jika keputusan partai menentukan lain.

Pertanyaannya, apakah sikap tersebut merupakan bentuk kedewasaan politik seorang kader, atau justru menjadi pertanda bahwa perebutan kursi Ketua DPC Gerindra Kuningan sedang memasuki babak yang jauh lebih sengit?***