VOXPOPULI.CO.ID – Polemik rencana dan aktivitas eksplorasi geothermal di kawasan Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, dinilai perlu dibahas secara terbuka dengan melibatkan masyarakat sejak awal. Keterbukaan informasi dan kajian komprehensif dianggap penting agar masyarakat memahami secara utuh potensi manfaat maupun dampak energi panas bumi.

Pandangan tersebut disampaikan Asep Papay. Ia meminta pemerintah daerah bersama pihak berwenang, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tidak hanya menyampaikan informasi dari satu arah, tetapi membuka ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan langsung mengenai geothermal.

Menurut Asep, masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian dari proses pembahasan, terutama karena kegiatan eksplorasi berpotensi berkaitan dengan aspek lingkungan maupun kehidupan sosial ekonomi di sekitar kawasan.

Asep menilai kajian mengenai geothermal di Gunung Ciremai sebaiknya tidak berhenti pada pembahasan teknis pemerintah maupun pihak pengelola.

Masyarakat, akademisi, pemerhati lingkungan, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan lainnya perlu mendapatkan ruang untuk berdialog dan memahami data maupun hasil kajian yang berkaitan dengan rencana tersebut.

“Pemerintah jangan hanya menyampaikan informasi secara sepihak. Masyarakat harus diberikan kesempatan untuk melihat, memahami, dan mendapatkan pengetahuan secara langsung mengenai geothermal, termasuk potensi manfaat maupun dampaknya,” ujar Asep Papay.

Menurutnya, keterbukaan informasi dapat membantu mengurangi munculnya kesimpangsiuran pemahaman di tengah masyarakat.

Dengan informasi yang cukup, masyarakat diharapkan dapat menyampaikan pandangan secara lebih objektif, baik ketika memberikan dukungan maupun ketika menyampaikan kekhawatiran terhadap rencana eksplorasi geothermal.

Salah satu gagasan yang disampaikan Asep adalah mengajak perwakilan masyarakat Kabupaten Kuningan melakukan kunjungan langsung ke daerah yang telah lebih dahulu mengembangkan aktivitas geothermal.

Kamojang di Kabupaten Garut menjadi salah satu wilayah yang menurutnya dapat dijadikan lokasi untuk melihat secara langsung aktivitas pemanfaatan energi panas bumi.

“Kalau masyarakat diajak melihat langsung ke daerah yang sudah menjalankan geothermal, seperti Kamojang, tentu mereka bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih jelas. Jadi tidak hanya berdasarkan informasi dari satu pihak,” kata Asep.

Melalui kunjungan lapangan tersebut, masyarakat Kuningan dapat melihat bagaimana proses eksplorasi dan pemanfaatan geothermal berlangsung, sekaligus berdiskusi mengenai pengelolaan kawasan dan kondisi masyarakat di sekitarnya.

Asep menilai pembahasan geothermal harus dilakukan secara berimbang. Potensi manfaat energi panas bumi perlu diketahui, namun aspek dampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat juga harus dikaji secara menyeluruh.

Menurutnya, pengalaman daerah yang sudah memiliki aktivitas geothermal dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat Kuningan.

Masyarakat dapat melihat langsung bagaimana pengelolaan geothermal dilakukan, bagaimana kondisi lingkungan di sekitar lokasi kegiatan, serta sejauh mana masyarakat setempat dilibatkan.

“Jadi tidak hanya berdasarkan informasi dari satu pihak. Masyarakat Kuningan bisa melihat sendiri, berdiskusi, dan kemudian memahami persoalannya secara lebih jernih,” ujarnya.

Asep juga mendorong adanya ruang dialog yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, pemerhati lingkungan dan pihak terkait lainnya.

Menurut dia, komunikasi lintas pihak penting agar pembahasan mengenai geothermal Gunung Ciremai tidak berkembang hanya berdasarkan asumsi atau informasi yang tidak lengkap.

Keterbukaan juga dinilai menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi mengenai rencana pembangunan yang berpotensi berpengaruh terhadap lingkungan serta kondisi sosial ekonomi mereka.

“Yang paling penting adalah masyarakat Kuningan harus clear, mendapatkan pengetahuan yang cukup, dan memahami persoalan geothermal secara utuh,” tegas Asep.

Asep berharap masyarakat nantinya dapat menyampaikan pandangan setelah memperoleh informasi dan memahami hasil kajian mengenai geothermal secara lebih menyeluruh.

Dengan demikian, perbedaan pandangan yang muncul di tengah masyarakat dapat dibahas melalui data, kajian dan dialog terbuka.

“Setelah itu, masyarakat dapat menyampaikan pandangannya berdasarkan informasi dan kajian yang mereka pahami,” pungkas Asep Papay. (Ugi)