KUNINGAN, (VOX) – Drama harian antara sawah dan layangan kembali memanas di Lingkungan Wage, Kelurahan Purwawinangun, Kuningan. Para petani padi di wilayah itu resmi “angkat bendera” lewat sebuah banner besar yang mereka pasang di jalan tembusan Perhutani Siliwangi dan Jalan Juanda titik favorit para pemain adu layangan setiap sore.

Pesannya jelas dan sopan, tapi sarat makna “Kami petani dan warga sekitar menolak adanya permainan dan perlombaan layang-layang, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.”

Senin pagi (8/12), Vox mengkonfirmasi keresahan itu kepada salah seorang petani terdampak yang juga warga sekitar S. Ia tak menutup-nutupi rasa frustasinya. “Muhun, da rarusak pare téh ditarincakan ku murangkalih,” ucapnya. Padi rusak karena diinjak anak-anak yang mengejar layangan putus.

Pantauan lapangan menguatkan pernyataan itu. Anak-anak berhamburan memasuki area persawahan saat ada layangan kalah. Aktivitas ini sebenarnya sudah jadi budaya turun-temurun. Dalam istilah lokal dikenal sebagai “ngerok” berburu layangan putus seperti memburu harta karun sore hari. Tradisi asyik bagi anak-anak, tapi mimpi buruk bagi petani.

S menambahkan, “Muhun a, da murangkalih mah da sesahna dicariosanna.” Ia paham anak-anak sulit dicegah, tapi sawah juga tak boleh terus-menerus menjadi korban.

Di sisi lain, seorang penghobi adu layangan yang hampir setiap sore bermain di lokasi tersebut ikut menyampaikan pandangannya ketika ditemui Vox. Ia tidak menyangkal kondisi di lapangan.

“Jujur, tempat itu sangat ideal. Hamparannya luas, anginnya bagus. Di Kuningan kota hampir nggak ada lagi lokasi seperti itu buat main adu layangan. Tapi kami juga paham kok keresahan para petani,” katanya.

Ia mengakui tradisi ngerok memang “tidak bisa dipisahkan” dari permainan layangan. “Dari dulu kalau ada aduan layangan pasti ada yang ngerok. Anak-anak pasti ngejar layangan kalah. Itu sudah budaya, tapi ya memang jadi masalah kalau masuk ke sawah. Kita paham petani butuh panen yang bagus. Sawah itu kan sumber hidup,” ujarnya.

Pernyataan ini memperjelas bahwa benturan bukan semata antara dua kelompok, melainkan antara tradisi lama, ruang bermain yang terbatas, dan ruang pangan yang makin terdesak pembangunan.

Para petani berharap sawah yang tersisa bisa tetap produktif. Sementara penghobi layangan berharap ada solusi yang tidak mematikan ruang rekreatif yang sudah langka di kawasan perkotaan.

Masalahnya kini bergerak melampaui sekadar layangan. Ini soal ruang publik yang makin sempit, soal prioritas, soal bagaimana sebuah kota tumbuh tanpa mengorbankan sumber hidup warganya.***