KUNINGAN, (VOX) – Dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia, kegiatan bedah buku Tasbih Kupu-Kupu karya Panji Sakti digelar pada Kamis, 23 April 2026 di Gedung Kesenian Raksawacana. Acara ini menghadirkan langsung Panji Sakti, yang juga dikenal sebagai musisi dengan lagu populernya, Kepada Noor.

Dalam sesi diskusi, Panji Sakti membagikan proses kreatifnya dalam menciptakan karya, baik puisi maupun lagu. Ia mengungkapkan bahwa pengalaman menjadi kunci utama dalam berkarya. Bahkan, ia pernah mengolah puisi menjadi lagu dalam waktu singkat.

“Bikin dari puisi sampai jadi lagu itu 30 menit aja, dan itu aku lakukan langsung di depan penyairnya,” ungkapnya.

Menurutnya, kemampuan tersebut tidak lepas dari proses panjang yang penuh dengan kegagalan. Pengalaman dari karya-karya yang tidak berhasil justru menjadi bekal penting dalam menciptakan karya yang lebih matang.

“Orang-orang heran kenapa bisa secepat itu, ya karena pengalaman, dari lagu-lagu yang gagal sampai yang bahkan aku sendiri gak suka,” tambahnya.

Panji juga menekankan bahwa pengalaman membentuk kepekaan seseorang dalam menilai dan merespons sesuatu. Ia mengibaratkan pengalaman seperti rasa dalam makanan yang pernah dicicipi.

“Kau bisa bilang sesuatu itu lezat, terlalu manis, atau terlalu asin karena kau sudah punya pengalaman rasa itu,” jelasnya.

Dalam pembahasan buku, Panji menjelaskan bahwa puisi Tasbih Kupu-Kupu lahir dari peristiwa sederhana yang ia alami sendiri. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak berusaha mengindah-indahkan kejadian tersebut.

“Puisi Tasbih Kupu-Kupu itu bukan dibuat-buat indah, tapi memang kejadian yang terjadi seperti itu,” tuturnya.

Ia menceritakan momen ketika seekor kupu-kupu hinggap di keningnya dan bagaimana peristiwa itu berkembang menjadi imajinasi dalam puisinya. Namun, saat kupu-kupu tersebut akhirnya pergi, ia merasakan kehilangan yang mendalam.

“Ketika kupu-kupu itu pergi, rasanya seperti ditinggalkan seperti diputuskan oleh seseorang,” katanya.

Menanggapi makna “tasbih” dalam judul, Panji menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada sikap pasrah dan mengikuti kehendak Tuhan. Ia mengaitkannya dengan proses kehidupan kupu-kupu yang berjalan tanpa protes.

“Kupu-kupu tidak pernah tahu akan jadi apa, tapi dia menjalani saja prosesnya, itulah tasbih,” ujarnya.

Melalui karya Tasbih Kupu-Kupu, Panji Sakti mengajak pembaca untuk melihat keindahan dalam hal-hal sederhana. Kejujuran dalam menangkap peristiwa sehari-hari, menurutnya, menjadi kekuatan utama dalam menciptakan karya yang bermakna dan dekat dengan kehidupan.***

Penulis: Nadia Dwi Apriani