
KUNINGAN, (VOX) — Aktivis Kuningan yang juga Ketua PMII Kuningan, Dhika Purabaya menyoroti mundurnya Direktur Perusahaan Umum Daerah Aneka Usaha (Perumda AU) Kabupaten Kuningan. Ia menegaskan agar Bupati Kuningan berhati-hati dalam menentukan pengganti dan lebih memprioritaskan sosok dari kalangan profesional pengusaha, bukan dari unsur akademisi maupun politisi.
Menurut Dhika, jabatan direktur di tubuh Perumda AU harus dipegang oleh figur yang benar benar memahami dinamika dunia usaha dan memiliki naluri bisnis yang tajam. Posisi tersebut menuntut kecepatan analisis, ketepatan strategi, serta kemampuan membaca peluang ekonomi secara realistis.
“Direktur Perumda AU harus diisi oleh mereka yang punya insting tajam di bidang usaha, bukan hanya pandai melobi seperti politisi atau pandai teori seperti akademisi,” tegas Dhika, Senin (3/11/2025).
Dhika menilai, keberhasilan seorang direktur tidak ditentukan oleh seberapa banyak ia memahami teori manajemen, melainkan oleh kemampuan nyata dalam mengelola potensi menjadi profit. Karena itu, pengalaman terjun langsung di dunia usaha menjadi modal utama bagi siapa pun yang akan memimpin Perumda AU.
“Perumda AU harus bisa menghasilkan keuntungan bagi daerah. Itu hanya bisa dicapai jika dipimpin oleh orang yang terbiasa berpikir bisnis, bukan semata-mata administratif,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dhika menekankan bahwa prinsip efektivitas, efisiensi, dan analisis yang tajam merupakan hal mendasar dalam dunia usaha. Ketiga hal tersebut, kata dia, hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah menghadapi risiko dan tantangan pasar secara langsung.
“Efektivitas dan efisiensi bukan sekadar konsep. Itu hasil dari pengalaman dan kepekaan dalam mengambil keputusan. Pengalaman semacam ini hanya dimiliki oleh pengusaha sejati,” tambahnya.
Ia berharap kekosongan jabatan Direktur Perumda AU dapat menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk menata kembali arah kepemimpinan perusahaan daerah itu secara profesional, dengan mempertimbangkan kompetensi dan rekam jejak pengalaman usaha sebagai tolok ukur utama.
“Sudah saatnya Kuningan memberikan kepercayaan kepada figur profesional yang benar-benar bekerja berdasarkan hasil, bukan sekadar nama besar atau latar belakang politik,” pungkas Dhika.***












Tinggalkan Balasan